Your Name In My Book, Band Easycore yang Berhasil Bangkitkan Nuansa Nostalgia

Sudah lama rasanya saya tidak mendengarkan sebuah band yang membawakan musiknya dengan bumbu bebunyian synthesizer dan juga breakdown pada beberapa bagian lagunya. Style tersebut biasa juga disebut dengan easycore. Easycore sempat booming di era 2000an akhir dengan beberapa beberapa band yang cukup banyak digemari seperti Four Year Strong, Can’t Bear This Party, Chunk! No, Captain Chunk!, dan yang lainnya.

Saya sendiri mendengarkan band-band dan mengeksplorasi band-band tersebut pada tahun 2010an. Jadi, saya sudah lama tidak mendengarkan band dengan style seperti ini. Pada saat saya menemukan Your Name In My Book pada kotak masuk submission Rich Music, saya seketika langsung bernostalgia mengenai masa-masa tersebut. Masa-masa di mana saya ngulik DAW buat nyari sound synthesizer yang pas, karena saya nggak punya tabungan yang cukup buat beli synthesizer asli. Ah, masa muda~

Anyway, Your Name In My Book merupakan sebuah band pop-punk/easycore asal Salatiga yang aktif sejak tahun 2012 silam. Jika dilihat melalui akun Instagram-nya, mereka sepertinya sempat hiatus, dan memutuskan untuk melakukan comeback pada tahun 2020 ini. Sebelumnya, mereka telah merilis sebuah album berjudul ‘Only Time Will Tell’ yang dirilis pada tahun 2017.

via reverbnation.com

Pada lagu-lagu yang ada pada album tersebut terdapat semua elemen yang telah saya sebutkan sebelumnya. Mulai dari hentakan upbeat dan agresif dari drum yang menggunakan double pedal, breakdown yang diiringi permainan gitar ala djent, dan bebunyian synthesizer yang terdengar pada sepanjang lagunya. Paket komplit easycore banget lah pokoknya mah, friend.

Namun, menurut saya mereka melakukan sebuah kesalahan umum yang sering dilakukan oleh band-band yang memainkan style serupa, yaitu penggunaan sound synthesizer yang monoton pada keseluruhan lagunya. Hal tersebut berakibat pada lama-kelamaan pendengar akan merasa bosan dan juga sedikit terganggu dengan penggunaan bebunyian yang sama dan dimainkan secara terus-menerus. Padahal, sound pada synthesizer bisa lebih dieksplorasi lebih jauh lagi, agar tidak terdengar monoton.

Selain itu pada materi terbarunya nanti, saya juga berharap mereka akan membawakan narasi dengan sudut pandang yang lebih luas lagi. Karena narasi yang dibawakan sejauh ini masih terbilang klise dan membosankan, yaitu mengenai percintaan di masa remaja. Di mana hal tersebut sudah dibahas oleh banyak band yang memainkan musik serupa dengan sudut pandang yang mirip pula.

Walaupun begitu, rasa nostalgia saya cukup terobati dengan kehadiran Your Name In My Book. Kenangan mengenai fase eksplorasi saya terhadap musik pop-punk dan turunannya. Oleh karena itu, akan menarik rasanya menunggu materi ketika comeback nanti. Apakah masih akan membawakan nuansa yang sama seperti pada album terdahulunya, lebih memodifikasinya lagi, atau bahkan berubah sama sekali? Jawabannya hanya bisa kita temukan setelah Your Name in My Book merilis karya terbarunya. Kita tunggu saja, friend.

Mau band kalian juga diulas seperti Your Name In My Book? Yuk, buruan kirimkan profile kalian pada laman submission dari Rich Music Online. Tinggal klik tautan ini yaa!

Instagram @ynimbofficial

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button