RICH FEATURESRICH OPINION

Warnet, Saksi Bisu Dinamika Permusikan Bandung di Pertengahan 2000-an

Masih ingatkah kamu ketika koneksi internet masih sebuah “barang mewah” di tahun 90-an sampai pertengahan tahun 2000-an? Pada masa itu, tidak semua masyarakat Indonesia punya akses merata ke jaringan komunikasi yang dulunya alternatif dan lebih lentur tersebut. Bagi golongan menengah dan tidak mampu berlangganan internet personal di rumahnya masing-masing, satu-satunya alternatif untuk bisa mengakses layanan komunikasi alternatif tersebut hanyalah dengan berkunjung ke kafe internet atau yang lebih dikenal sebagai warnet di Indonesia.

Di tahun keemasannya, warnet memiliki multifungsi bagi orang-orang yang sudah (atau baru) melek internet. Ada yang ke warnet untuk cari jodoh lewat platform chatting, ada yang mesum di dalam biliknya memang sudah memahami bagaimana mencari penghasilan lewat internet, ada pula yang memang untuk rekreasi dan iseng-iseng meraba aset-aset dunia maya yang masih relatif baru di saat itu.

Suasana warnet (via medcom.id)

Lalu apa istimewanya jaringan internet di Indonesia pada pertengahan tahun 2000-an? Begini, saya rasa anggapan bahwa pertengahan semi-paruh akhir tahun 2000-an sempat dianggap sebagai tahun keemasan internet di Indonesia itu tidak terlalu muluk. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia di tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 40% pada tahun itu. Konon hal itu dipacu oleh minat dan “pemahaman” masyarakat Indonesia akan internet semakin meningkat di paruh akhir tahun 2007 serta mulai ramainya kerja sama antara pengelola sarana internet dengan berbagai operator telekomunikasi di Indonesia yang menyajikan berbagai paket layanan internet murah dengan iming-iming “unlimited access”.

Hal itu menunjukkan bahwa banyak orang di Indonesia di tahun tersebut sudah melek untuk mengakses internet. Tentunya hal itu berimbas besar untuk beberapa pola konsumtif publik terhadap aset informasi mau pun hal-hal yang bersifat bokep rekreasional.

Tak hanya para normies, para penggemar dan pelaku musik pun tak luput dari tekanan untuk mengunjungi warnet di saat itu. Entah untuk sekedar berjejaring dengan pelaku di kota lain atau bahkan kota sendiri, bahkan bisa juga sebagai tempat ground-zero untuk mendapatkan akses informasi yang lebih cepat dibandingkan harus menunggu terbitan seminggu sekali dari sebuah majalah budaya pop.

Warnet, sang penyambung pesan

Beberapa platform chatting favorit di pertengahan tahun 2000-an (via twitter.com)

Di kota saya sendiri, Bandung, warnet ternyata memegang peran signifikan tersendiri di dalam dinamika kancah musik independennya. Konon banyak pelaku dan penggemar musik di sini yang sering tepantau mengunjungi beberapa warnet di berbagai sudut kota Bandung. Salah satunya adalah Noor Al Kautsar atau Ucay yang dulu sempat mengisi posisi punggawa di Rocket Rockers. “Saya mah udah nge-warnet dari 2000-an awal sih. Biasanya di Purnawarman, Welly Net, ah, banyak lah.” papar Ucay.

Ucay mengaku bahwa kegiatan nge-warnet awalnya dia lakukan hanya untuk bersosialisasi atau berjejaring dengan scene punk rock di kota-kota lain. Ucay menjelaskan, “Kalau saya ke warnet emang lebih suka buat chatting. Biasanya nimbrung ke room-room di MIRC yang isinya anak-anak melodic punk. Kayak dulu ada room namanya Monami, isinya anak-anak Jakarta, termasuk anak-anak Kuro! (band melodic punk seminal asal Jakarta).” Tak hanya untuk berjejaring lewat akses internet saja, Ucay pun menjelaskan bahwa biasanya setelah melakukan komunikasi lewat MIRC, dia pun seringkali bertemu dengan orang yang dia ajak bicara lewat internet di masa itu: “Biasanya setelah ngobrol, kopdarnya bisa pas di gigs atau di toko kaset kayak Aquarius Dago waktu itu mah. Kalau ketemu bisa lanjut barter rilisan atau apalah.”

Selain sebagai sarana rekreasi, Ucay merasa bahwa warnet pun memegang peranan penting bagi para scenesters Bandung di era tersebut sebagai portal alternatif untuk bisa bergerilya dalam mempromosikan musiknya: “Uniknya warnet menurut saya itu karena tempat itu punya kemudahan akses finansial buat anak-anak band indie tahun segitu untuk mengakses internet dan lebih militan untuk mempromosikan karyanya.” Ucay menambahkan, “Tahun segitu ‘kan sudah mulai banyak layanan file sharing dan sosmed kayak MySpace lagi jadi salah satu platform yang paling accessible buat promosi musik. Jadi anak-anak musik beneran pake itu semua (layanan digital) edan-edanan. Dan itu keren sih. Saya juga jadi banyak belajar di masa itu.”

Warnet, sang sumber unduhan

Punkrockvids.com, salah satu situs penyedia jasa unduhan gratis video-video musik di pertengahan tahun 2000-an (via punkrockvids.com)

Beda cerita dengan Yas Budaya, punggawa Alone At Last, ketika saya tanya perihal fenomena warnet kepadanya. “Kalau gue ke warnet buat urusan musik, ya lebih sering buat download musik atau video klip,” paparnya. Yas melanjutkan opininya dengan mengingatkan saya akan suatu fenomena menarik yang benar-benar terjadi di era tersebut: “Lo pasti inget ‘kan kalau tahun segitu tuh banyak banget orang yang demen musik saling pamer koleksi file-file musik di PC-nya? Nah, itu alasan kenapa gue seneng banget ke warnet buat download-download musik atau video klip tahun segitu. Supaya bisa pamer ke temen pas lagi main ke rumah!”

Selain untuk mengunduh musik dan pelbagai data-data yang berkaitannya, Yas pun mengaku bahwa salah satu alasannya untuk rajin mengunjungi warnet adalah untuk mengakses dua platform media sosial yang tersohor pada masa tersebut, yakni MySpace dan Friendster: “Gue tuh seneng banget main MySpace & Friendster. Tapi kayaknya kalau personal favorite sih tetep MySpace ya. Interface-nya bagus dan lebih eksklusif aja. Kalau Friendster biasanya cuma buat nge-maintain komunikasi sama komunitas aja gitu.” Yas menambahkan, “Tahun segitu kalau lo mau ngulik beneran sama apa yang terjadi di scene musik lokal atau bahkan global, satu-satunya cara ya lewat internet. Gue bisa duduk berjam-jam di warnet cuma buat ngulik video-video band yang belum pernah gue tonton lewat Youtube atau Fuse TV. Gokil man, seru banget tahun segitu.”

Yas berpendapat bahwa peran warnet sebagai penyedia jasa layanan internet yang ‘merakyat’ pada era tersebut sebetulnya sangat bermanfaat. Namun belum banyak masyarakat Indonesia – termasuk para individu yang terlibat di dalam ruang lingkup musik independen Bandung – pada saat itu yang benar-benar menggunakannya secara maksimal: “Contohnya Youtube deh. Tahun segitu tuh gue udah mulai nyoba ngulik gimana caranya buat bisa download video dari Youtube. Harusnya orang-orang yang demen musik tahun segitu tuh udah bisa sadarin itu gitu lho. Heran deh. Malah banyakan yang ngurusin bokep waktu itu.” Menurut saya, opini yang Yas lontarkan cukup masuk akal. Saya rasa tahun itu adalah tahun keemasan untuk bisa mengeksploitasi karya musik di ranah internet. Belum ada problematika perihal copyright atau perintilannya. Semua tinggal download. Mau lewat situs mp3 gratisan, mau lewat Napster, mau lewat IDM yang ditautkan ke link-link Myspace. Semua itu terbuka luas di waktu itu. Tapi mungkin preferensi setiap orang akan kemudahan akses internet memiliki konteks yang berbeda-beda.

Warnet, sang sumber bocoran

USB MP3, salah satu bentuk penyebaran file-file MP3 bocoran lagu dari banyak band di Bandung pada kala itu (via bukalapak.com)

Kalau membicarakan fenomena warnet di Bandung pertengahan tahun 2000-an, ada satu kejadian yang saya rasa menarik di aspek dinamika ranah musik Bandung waktu itu. Tahun itu adalah tahun ranumnya bocoran materi baru dari beberapa band asal Bandung. Yap, bocoran. Lagu-lagu yang ditemukan di folder-folder warnet yang bercampur dengan file-file video bokep itu adalah lagu-lagu yang belum pernah dirilis atau bahkan akan dirilis oleh band yang bersangkutan. Beberapa contoh kebocoran materi signifikan yang pernah terjadi di antaranya materi-materi lagu Alone At Last yang kelak akan masuk ke album fenomenal mereka Jiwa (2008) dan lagu-lagu Rocket Rockers dari album Better Season (2008).

Saya pun sempat mengobrol santai dengan seorang teman yang memang saya kenal sejak era ‘melek’ internet tersebut. Dia adalah Dinar, drummer band rock sludge seminal SSSLOTHHH. Ketika membahas soal fenomena kebocoran lagu di warnet itu, dia teringat akan satu lokasi yang sempat menjadi titik bocor terbesar pada saat itu: “Seinget urang mah ya, biasanya perputaran arus lagu-lagu bocor teh waktu itu lebih sering di Warnet Duya yang di Buah Batu geningan.” Dinar menambahkan, “Kayaknya itu bisa sampai kejadian karena banyak (pemain band yang mengunjungi Warnet Duya) yang masih teledor dan lupa buat ngehapus file lagu mereka pas habis nge-copy. Tau sendiri waktu itu mah folder file-file orang lain teh pabalatak pisan di warnet ‘kan.” Dari informasi yang Dinar lontarkan, saya akhirnya paham bagaimana bisa kultur mp3 sharing di ranah band-band lokal pada waktu itu sangat masif. Saya pun salah satu dari sekian banyak anak muda di era tersebut yang sebetulnya menikmati lagu-lagu bocoran tersebut. Ternyata memang ada unsur keteledoran yang bersambut dengan unsur jahil (atau mungkin belum paham?) dari berbagai pihak yang bisa menyebabkan kebocoran materi tersebut.

Dinar pun mengaku bahwa berkegiatan khusyuk di warnet adalah satu-satunya cara untuk memenuhi hasratnya untuk menemukan musik-musik baru yang dia tidak bisa dapatkan lewat nongkrong: “Sebenernya saya koleksi juga rilisan fisik kayak kaset dan CD di tahun itu, tapi download gratisan mah tetep jalan. Soalnya satu-satunya info update soal band-band baru dan aneh teh cuma ada di MySpace atau bahkan Last.fm.” Saya pun iseng menanyakan pertanyaan klasik kepadanya perihal polemik dan beban moral ketika melakukan kegiatan download gratisan, dia pun menjawab, “Nggak sih. Soalnya belum ngerti dan enggak peduli meureun ya di tahun segitu mah (tertawa).” Masuk akal, di era merakyatnya internet, saya yakin semua orang atau bahkan penyelenggara jalur komunikasi tersebut belum berpikir lebih jauh soal arus informasi yang terlalu bebas seperti itu. Sampai akhirnya RUU ITE mulai diberlakukan pada tahun 2008 silam dan akhirnya internet tidak lagi sebebas di tahun-tahun sebelumnya.


Dari berbagai hasil obrolan yang saya tempuh di atas, rasanya saya makin yakin bahwa warnet sempat menjadi counter culture pada masanya. Semua kegiatan di ranah diskusi, pergerakan, sampai penjalin komunikasi antar scene musik terjadi di ruangan berisi puluhan komputer yang tersambung dengan koneksi internet tersebut. Apalagi di Bandung sendiri, sebagai kota yang sempat berada di puncak klasemen musik independen beberapa tahun lalu, wajar saja informasi tentang apa yang terjadi di kota ini bisa sampai menjangkau ke berbagai penjuru Indonesia – atau bahkan dunia. Semua itu ternyata memang dilakukan di warnet. Whether it’s good or bad, warnet telah menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan para warga musik Bandung pada era itu.

Back to top button