RICH FEATURESRICH HIGHLIGHTSRICH OPINION

Untuk Menyempurnakan Etos Do-It-Yourself Di Musik, Maka Indahkanlah Do-It-With-Friends

Eits, sebelum menghujani saya karena lagi-lagi bikin tulisan dengan pembahasan yang mayan ‘sensitif’, saya hanya menyuarakan opini dan sedikit memberikan gambaran tentang apa yang sedang terjadi di kancah musik hari ini. Salam hormat dan salut tentu saya turut haturkan di sini bagi kalian semua musisi yang sedang rajin berkarya atau pun sedang merencanakan untuk berkarya di ruang lingkup musik. Mau itu yang sedang bekerja sama dengan berbagai pihak atau pun para musisi yang memilih untuk bergerilya di ranah anti-konsumerisme atau lebih kerennya di segmen DIY alias Do-It-Yourself. More power to you all.

Tapi mari kembali lagi ke topik utama, yaitu dinamika etos DIY. Etos kerja yang dicitrakan sebagai semangat kerja atau berkarya tanpa bantuan dari pihak mana pun itu sebenarnya mulai tercium langkahnya di kancah musik berkat gigihnya para musisi punk rock untuk berkarya di era 70an ke atas. Band-band punk rock di masa itu memang sulit untuk manggung dan merilis karyanya. Maklum, musik punk rock di zaman itu belum diterima publik sebagai musik rock yang asyik dan malahan dianggap sebagai sebuah gerakan nggak jelas yang diprakarsai para sampah masyarakat. Tapi stigma jelek itu nggak bikin para punk rockers di zaman itu patah arang, friend. Alih-alih mereka malah menggarap semua aspek produksi supaya bisa manggung dan punya rilisan sendiri. Mulai dari bikin acara di tempat non-konvensional yang biaya sewanya murah (basement pabrik, kolam renang kosong, tempat berkemah) sampai bikin album dengan biaya sendiri dan mengerjakan kemasannya sendiri di rumah. Nah etos kerja do-it-yourself itulah yang membuat punk rock berbeda dengan pergerakan musik lainnya.

Jika Minor Threat Tidak Pernah Ada, Akankah Istilah Straight Edge Lahir?

Kalau ngomongin DIY, yang saya ingat adalah bagaimana etos kerja Ian Mackaye, punggawa Fugazi dan pemilik label rekaman independen seminal Dischord Records, ketika dia berusaha keras untuk memproduksi album perdana band dia di semasa muda yang bernama Teen Idles. Ian memaksakan diri untuk menabung gajinya yang alakadarnya dari hasil bekerja sebagai pembuat es krim di Haagen Dasz dan mencetak seratus keping vinyl untuk Teen Idles. Dari gaji sendiri lho, friend, nggak ada campur tangan label rekaman atau pemasukan dari sponsor. Gilanya, bahkan dia sendiri yang nyetak dan motongin album sleeve-nya Teen Idles. Satu demi satu. Gokil ya. Itu cuma satu dari sekian banyak contoh band punk yang menjunjung tinggi etos kerja DIY dalam musiknya.

Tapi yang namanya zaman dan pemahaman itu dinamis, friend. Akan selalu ada perubahan di dalam pergerakannya. Entah itu perubahan yang bermanfaat atau pun yang nggak ngaruh-ngaruh amat. Dan masih mengaitkan dengan semangat DIY, saya rasa etos kerja itu pun turut mengalami dinamika. Saya melihat masih banyak teman-teman musisi yang masih menjunjung tinggi etos ini dan berhasil di parameter yang mereka tanamkan untuk karyanya sendiri. Tapi ada juga sih yang masih keukeuh pengen DIY tapi melewatkan banyak kesempatan untuk bisa membawa karyanya lebih sukses. Ya kembali lagi, takaran sukses tiap orang itu berbeda-beda, tapi saya masih memegang teguh prinsip bahwa musik itu adalah karya yang layak untuk didengarkan banyak orang tanpa memandang golongan mau pun sirkelnya. Jadi sayang aja kalau ada beberapa musisi yang so-called mengerjakan semua produksi karyanya secara DIY dan kebetulan musiknya bagus tapi lagunya nggak accessible buat semua orang. Mubazir euy.

Saya rasa untuk menunjang semangat DIY yang membara, ada aspek do-it-with-friends yang bisa diimplementasikan dalam penggarapannya. Maksudnya, ada aspek kolaborasi yang bisa dikerjakan guna membawa musiknya ke kisaran pendengaran yang lebih luas. Mungkin etos DIY bisa dimaksimalkan dalam pemrakarsaan karya dan penggarapan lagunya, tapi di aspek produksi rilisan atau pun materi pelengkap, kayaknya nggak salah sih buat berkolaborasi dengan teman-teman di bidang lain. Contohnya ketika mau nyetak artwork album, kita bisa kontak temen kita yang kebetulan kerja di bidang itu. Pas mau bikin video klip, kita bisa kolaborasi dengan temen-temen yang ada di bidang perfilman atau di audio visual. Semua itu asyik dilakukan dan sebenernya tetep memegang teguh anti-konsumerisme yang kerap disuarakan para musisi DIY. Iya dong, meski pun kita tetep bayar buat jasa mereka untuk membantu karya kita sendiri, kita pun tetep bisa membantu mereka untuk tetep jalan dengan bisnisnya masing-masing. Dan ingat, mereka adalah teman, bukan pihak korporasi yang menjalankan bisnisnya dengan membabi buta.

Slogan ‘DIY or die’ mungkin rasanya agak bertentangan dengan opini saya tentang do-it-with-friends. Tapi bagaimana lagi, saya yakin tidak semua musisi DIY yang bisa menjalankan proses berkaryanya sendiri. Pasti ada aspek di mana bantuan itu diperlukan. Nah kenapa nggak menjalankannya bersama teman sendiri? Toh hasilnya pun akan sama-sama memberikan kontribusi bagi kedua belah pihak tanpa menanggalkan idealisme masing-masing. Tentunya dengan komunikasi yang baik untuk mendapatkan hasil yang baik juga. Kolaborasi adalah suatu langkah efisien dalam sebuah proses berkarya, friend. Jadi nggak ada salahnya untuk melengkapi semua effort yang udah kamu lakukan dengan sedikit bantuan dari temanmu. Keep up the good work!

Back to top button