Udah 2021 Nih, Friend. Enggak Bosen Dengerin Musik yang Itu-Itu Aja? • RICH MUSIC by REACH & RICH
RICH FEATURESRICH HIGHLIGHTSRICH OPINION

Udah 2021 Nih, Friend. Enggak Bosen Dengerin Musik yang Itu-Itu Aja?

Selama menjadi buruh tulis penulis di Rich Music, saya lumayan sering memperhatikan bagaimana arus respon dari para pembaca ini berjalan terhadap topik-topik yang kami suguhkan di situs ini. Rasanya setiap bahasan yang menyinggung atau beririsan dengan tren musik emo atau pop punk era 2000-an selalu mendapatkan atensi dan antusiasme lebih. Meskipun enggak mentok di sana, sebagai momen mengenang era pop punk 90-an, rasanya bahasan ini pun cukup ramai disemuti oleh para pembaca. Tapi nama yang disorot masih berkutat di Blink-182 atau Green Day. No offense. Tanpa memukul rata, saya di sini hanya coba membicarakan mengenai fakta yang terjadi di lapangan.

Pembahasan mengenai band-band baru atau fenomena musik terkini mungkin tak seramai tulisan bertemakan kategori-kategori yang saya sebutkan di atas tadi. Hal ini tentunya menjadi tanda tanya bagi saya sendiri. Apa karena derasnya arus informasi hari ini yang membuat seakan informasi tercecer di sana-sini atau minimnya tingkat keingintahuan terhadap hal-hal tersebut? Atau mungkin juga kualitas tulisan kami yang kurang mengunggah? Hmmm truth hurts.

Saya pun berinisiatif untuk memindai beberapa respon berupa komentar di kolom komentar Instagram kami sebagai ‘survey ringan’.  Sure enough, kebanyakan pengikut Rich Music Online cukup antusias ketika nama-nama band yang muncul sebagai headline seperti Paramore, New Found Glory atau Bring Me The Horizon dan nama-nama sejawat yang mencapai tingkat popularitas di era mereka berjaya. Sementara tulisan dan konten yang dihiasi oleh nama-nama band lainnya yang sebetulnya punya kualitas musik yang nggak kalah bagus sama band-band yang saya sebutkan tadi memang terasa sepi di kolom komentar. Yah, palingan hanya dihuni satu atau dua akun saja.

Salah satu band yang banyak mendapatkan atensi di Rich Music. Tahu kan siapa? (via nl-pop.com)

Pikiran saya pun jadi dipenuhi oleh beberapa pertanyaan akan fenomena itu, tapi ada satu pertanyaan besar yang sangat mengganggu saya: apakah sampai hari ini kebanyakan pendengar musik di lini punk dan emo masih stuck mendengarkan musik yang itu-itu saja? Atau memang sebatas nostalgia semata? Ini terasa sangat ironis ketika kita hidup di masa di mana gerbang referensi musik dibuka selebar-lebarnya. Pertanyaan itu pun menjadi bumerang yang kerap kali menghujam nalar saya sebagai penulis. Saya khawatir kalau jika terus-terusan mendapatkan demand untuk membahas musik-musik di era 2000-an dengan referensi nama yang itu-itu lagi malahan bukan nostalgia namanya. Malahan jadi sebuah stagnasi yang berbahaya terhadap keberlangsungan regenerasi musik di kancah ini.

Meskipun saya sendiri sempat mendengar asumsi dari beberapa pihak bahwa Rich Music kerap dicap sebagai media alternatif yang lekat dengan citra pop punk, namun, tentunya bahasan kami tak sesempit lingkup itu semata. Masih banyak nama-nama di luar sana (baik lokal maupun internasional) yang sempat kami ulas atau bahas dalam beberapa tulisan kami. Sila kamu cek beberapa entries kami di situs ini. You’ll surprise yourself.

Baca juga: Mainin Pop punk Ala Descendents, Waxtape Nggak Peduliin Tren Pop punk Hari Ini

Jika berbicara mengenai kiprah band lokal yang digemari di situs kami, nama-nama seperti Rocket Rockers, Revenge the Fate, Alone At Last, dan Killing Me Inside menjadi favorit para pengikut situs kami. Meskipun kita memberi seribu nama lain yang satu rumpun dengan apa yang mereka mainkan, rasanya profil mereka dalam benak beberapa pembaca tak dapat lepas dan tergantikan.

Memang untuk lepas dari euforia masa emo atau pop punk era tahun 2000-an awal bukanlah hal yang mudah. Mengingat masa tersebut seakan tak akan pernah terulang lagi. Saya pun merasakannya. Meskipun saat ini musik-musik tersebut sudah berkembang ke berbagai arah dan banyak pula nama-nama baru yang muncul karena terinspirasi dari leluhurnya tersebut. Walaupun, sejauh ini tampaknya belum ada pencapaian tingkat populiaritas yang sama atau menyandang gelar Bring Me The Horizon, Blink 182, atau Paramore.

Bisa jadi itu salah satu indikator mereka untuk terus berkutat di selera musik yang itu-itu saja. Memberikan antusiasme ke bahasan-bahasan yang sama dan melirik hanya pada bahasan yang dengan profil band yang sama. Saya pribadi cukup menyayangkan hal tersebut, terutama jika berbicara mengenai Rich Music.

Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kebanyakan segmen pendengar musik hari ini. Tidak secara keseluruhan dan seratus persen akurat sih. Hanya saja, saya rasa jumlah dari mereka pun tak sedikit. Sebenarnya, untuk menakar selera musik memang tak ada barometer yang tepat. Music is a highly subjective aspect. Bahkan, dapat saya katakan hal ini hanya omong kosong belaka. Saya juga sedang tidak dalam upaya menghakimi selera musik mereka. Terlebih saya bukan orang yang layak untuk melakukannya dan tidak ada satupun orang yang kompeten untuk melakukannya.

Tidak ada yang salah dari hal tersebut. Di sini saya hanya mempertanyakan satu hal; apa enggak bosen dengerin lagu yang itu-itu aja? Mengingat perkembangan zaman memudahkan segalanya perihal memperkaya referensi dan mengetahui ‘tren’ musik terkini. Mulai dari yang berjaya di kancah kesuksesan komersil sampai yang bergerilya di bawah tanah dan muncul dari antah berantah sekalipun.

Salah satu komentar yang cukup langka di akun Instagram kami.

Jika MTV (dan program lainnya di masa itu) cukup berjasa dan dianggap sebagai kurator terpecaya dalam mengkurasi band-band keren. Saya rasa kamu tak akan menemukannya lagi hari ini. Padahal musik-musik terus bermunculan dari zaman ke zaman dengan cukup pesat. Meskipun eksplorasi musik tidak selalu menjadi daya tarik dan fokus bagi semua orang. Tak sedikit juga mereka sempat menggemari musik dan sudah meninggalkannya hari ini. Atau sekedar menikmati musik sebagai angin lalu yang segar. Semuanya memungkinkan.

Bagi yang mengikuti musik sampai hari ini dan masih terjebak dalam selera nostalgia mereka. Saran saya, cukupkan saja hal tersebut di sana. Bentangkan layar lebih lebar dan lihat masih banyak musik-musik bagus di luaran sana. Memang, untuk konsisten dan ‘militan’ pada selera lama merupakan hal yang keren, namun itu berlaku di dua dekade yang lalu. Ini adalah era di mana referensi berceceran layaknya rumput laut yang berserakan di pesisir pantai. Tinggal kamu pilih aja mana yang mau bawa untuk kamu olah kembali sebagai sesuatu yang bermanfaat. Stay smart, friend.

Oleh Ilham Fadhilah

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button