RICH FEATURESRICH HIGHLIGHTSRICH INTERVIEW

The Last Samurai Syuhada: Spirit Religius dalam Musik Pop Punk

Tahun 2022 menjadi waktu krusial bagi The Last Samurai Syuhada. Dalam laga comeback-nya sebagai sebuah band bentukan asal Siduarjo 2010 dan lenyap dalam hiatus selama enam tahun lamanya. Hal tersebut tak membuat mereka gagap untuk kembali menyambut gegap gempita bermusik sebagai sebuah unit. Mereka kembali bergegas untuk misi besar; album perdana. 

Setelah sekian lama eksis, rasanya The Last Samurai Syuhada (TLSS) menjadi grup yang terhitung tak produktif. Menelurkan single yang dimuat dalam kompilasi melodic sejak kemunculannya lalu tidur panjang di periode 2012-2018. Niat ingin membangun produktivitasnya, pandemi kembali muncul sehingga membuat trio ini mesti mengurungkannya dalam beberapa waktu. Berlangsung dua tahun, akhirnya agenda mereka dapat terisi kembali dan dapur rekaman pun kembali memanas; mesin-mesin produksi album pun kembali bekerja.

Menggaet beberapa sosok, mereka pun menelurkan tiga single kolaboratif menuju album penuh perdananya. Ya, eksistensi mereka pun tak cuma-cuma karena kini akan segera mengamalkan karya shahih berupa album.

Siang menuju sore di hari Senin (15/5), sekitar pukul tiga sore, unit berbadan Agung, Singgih dan Ariel tersebut sampai di kantor Rich Music yang terletak di bilangan Antapani, Bandung. Memenuhi berbagai agenda seperti mengisi podcast radio underground, taping studio session, hingga kembali menjejali panggung menjadi tujuan mereka datang ke Kota Kembang ini. Kesempatan ini pun yang membuat kami sedikit mengulik tentang kiprah hingga rencana mereka setelah kembali bersatu.

Suasana interview TLSS di kantor Rich Music (15/5) Kiri ke kanan; Agung (gitar), Singgih (bas/vokal), Ariel (drum).

Datang jauh dari bagian timur pulau Jawa, ini menjadi laga perdana mereka tandang ke Bandung. Momen ini juga mereka manfaatkan sebagai promosi album mereka mendatang yang akan dirilis. 

Sebelumnya, mereka sudah melepas empat single dalam perjalanan menuju album perdananya ini yang ketiganya merupakan nomor kolaboratif bersama Tommy Disastra (Mahkota Jaya Abadi), Zachary Topuh (Blingsatan) dan yang terbaru Aska Pratama (Rocket Rockers)

“Pertama kita ngeluarin single “Telling Goodness” sekalian sama video clip-nya di 2020, yang asalnya juga mau ngeluarin album di tahun itu juga. Tapi karena pandemi, ya mesti disimpan dulu materinya,” jawab Singgih.

“Nah setelah (terhadang) pandemi ini akhirnya muncul lah ide untuk melibatkan beberapa kolaborator (di single berikutnya),” tambah Agung.

Menilik keempat single yang sudah mereka lancarkan, nampaknya akan terasa narasi positif yang nyatanya akan dominan tertuang di albumnya mendatang. Hal ini tak lepas dari catatan personal yang menuntun kepada sikap PMA (Positive Mental Attitude), meskipun hal yang mereka tuangkan di sini bersifat universal.

“Ada beberapa hal (yang dipengaruhi oleh) kehidupan saya di masa lalu, dan setelah di 2008 menikah, komitmen dengan istri, akhirnya menuntun saya pada fokus memperbaiki diri,” pungkas Singgih.

Berbicara tentang antusiasme audiens terhadap album perdananya, justru malah hal lain yang lebih dinantikan ketmbang rilisan musiknya.

“Yang pasti udah pada nungguin merchandise sih karena (kita) belum pernah ngeluarin merchandise sama sekali” tambah Ariel , gelak tawa kami pun pecah.

“Tapi ya kalau di kota kita sendiri responnya cukup antusias sebagai kota yang sering dijadikan ‘transit’,” Agung meluruskan. 

Suasana interview TLSS di kantor Rich Music (15/5) Kiri ke kanan; Agung (gitar), Singgih (bas/vokal), Ariel (drum).

Tempat mereka bersarang, yakni Siduarjo sendiri memang jarang menjebolkan nama pop punk yang gaungnya menembus kancah nasional. Maka apa yang mereka sajikan kali ini untuk album terbarunya mendatang merupakan sesuatu yang fresh.

Meskipun demikian, sebenarnya Jawa Timur saat ini tengah cukup didobrak kancah musik rock-nya dengan kemunculan kancah hardcore yang diberdayai nama-nama muda. 

“Mungkin hardcore ya emang lebih menonjol, gelombang ala Turnstile lah ya” ucap Singgih.

“Ada rencana alih genre nggak sih merespon gelombang hardcore yang tengah gencar-gencarnya?” Tanya saya usil.

“Nggak sih. Karena kebetulan skill-nya juga nggak nyampe sih ke sana, hahahaha” jawab Agung. meskipun melontarkan jawaban demikian, padahal apa yang mereka mainkan jauh ini justru lebih skillful dan njelimet. Namun tak lama, Singgih pun menambahkan.

“Ya karena emang suka aja sih sama pop punk atau melodic gitu”.

Itu rasanya jawaban saklek yang membuat mereka tetap pada jalur musik tersebut. Terlebih juga jika menelaah lebih seksama, beberapa katalog mereka juga terasa kental dengan nuansa pop punk/melodic ala Jepang. Nama-nama semisal Hi-standard, Dustbox juga tak urung ada dalam gudang referensi mereka.

Kembali kepada narasi positive mental attitude, hal ini rasanya sudah ditanamkan sejak  pertama kali Singgih membentuk band. Bahkan penamaan terhadap bandnya pun layaknya doa yang diberikan kepada anak.

“Jadi nama The Last Samurai Syuhada ini diambil dari karena pada saat itu lagi suka nonton film The Last Samurai lalu ditambahin nama “syuhada” yang artinya syahid, jadi samurai terakhir yang mati syahid”

“Berarti ada nilai-nilai religius yang sebenarnya kalian sematin ke dalam lagu kalian?”, tanya saya. “Ya, sebenarnya ada. Tapi dimuat secara halus,” tegas Singgih.

Rasanya hal ini juga yang menjadi faktor terbesar bagaimana mereka bersikap dan berpesan dalam narasi lirik di setiap lagu-lagunya. Kebanyakan lagunya yang memuat energi positif dan berbuat baik terhadap sesama manusia, tak lain dipengaruhi oleh nilai religius terselubung dalam spirit mereka. 

Meskipun masih belum ada bocoran lebih mengenai albumnya nanti, namun dari sekian bocoran tentunya cukup menggambarkan bagaimana album terbarunya nanti. Sila pantau terus kabar terbaru dari mereka, friend!

Back to top button