Tashoora Kritisi Fenomena Kasus Salah Tangkap Melalui Single ‘Aparat’

Share to:

Saya rasa masih banyak yang mengira kalau musik non-distorsi itu selalu identik dengan muatan lagu yang berisi soal percintaan, patah hati, atau hal picisan lainnya. Kalau kamu masih mikir kayak gitu, mending mulai sekarang diubah, deh. Karena pada nyatanya, nggak ada sebuah peraturan yang bilang bahwa musik A itu harus selalu membicarakan soal A-B-C. Semuanya bebas aja gitu. Kamu nggak perlu mainin musik folk buat ngebahas hal-hal sendu, kamu nggak harus mainin musik hardcore/punk buat bawain lagu bernuansa politis nan kritis. Semua itu nggak ada batasannya, friend!

Seperti yang dilakukan oleh Tashoora pada single terbarunya yang berjudul Aparat. Walaupun memainkan musik yang nggak masuk kategori “musik keras”, pada single tersebut secara terang-terangan membicarakan mengenai fenomena kasus salah tangkap yang dilakukan oleh aparat penegak hukum terutama pada beberapa waktu ke belakang saat maraknya demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja alias Omnibus Law.

Buat penulisan liriknya juga Tashoora nggak asal bikin aja, friend. Mereka bekerja sama dengan LBH Jakarta untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum pada akhirnya data-data yang didapat menjadi semacam panduan untuk penulisan karya tersebut.

Berbicara mengenai konten yang ada pada ‘Aparat’, melalui siaran pers Tashoora menjelaskan bahwa lagu ini secara lantang berbicara agar aparat penegak hukum melakukan pembenahan diri dan menjalankan penegakan hukum yang berdasar pada integritas dan kemampuan intelektual.

“Kita harus menjaga mata dan memori kolektif agar aparat melakukan penegakan sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak lagi melakukan penangkapan sewenang-wenang,” ucap Asta, staf Kampanye Strategis dari LBH Jakarta.

Single ini juga dilepas bersamaan dengan sebuah video klip yang sangat sederhana. Hal tersebut menurut saya sebuah hal yang wajar, karena memang dikerjakan secara responsif dan serba kilat, sebelum isu ini kembali meredup.

“Video dan artwork dari lagu ini sangat responsif pembuatannya. Direncanakan, dibuat, dan disunting dalam waktu kurang dari 2 jam,” jelas Gusti. “Seharusnya, kita juga bisa lebih responsive kalau menghadapi represi dan penangkapan yang sewenang-wenang oleh aparat,” tutup Dita.

Sebuah hal yang memang sudah seharusnya dilakukan, mengingat kasus salah tangkap tersebut bukan hanya menimpa satu-dua orang saja, melainkan puluhan bahkan mungkin ratusan orang dari berbagai pelosok di seluruh Indonesia. Miris banget pokoknya mah.

Buat kamu nih yang mungkin sedikit apatis soal isu-isu seperti itu, itu hak kamu, tapi tolong sebarkan single ‘Aparat’ dari Tashoora ini melalui berbagai sosial media yang kamu miliki. Buktikan bahwa ini bukan merupakan keresahan suatu kelompok tertentu saja, melainkan keresahan kolektif yang dirasakan oleh banyak orang.

Lawan!