Takaran Kesempuranaan Teknik Vokal Dalam Screamo

Saya sudah banyak menemukan bacaan yang berkenaan dengan petunjuk tata cara scream agar kita dapat memperoleh kualitas suara yang dinginkan. Bahkan, tak hanya itu, berbagai istilah dalam dunia scream pun turut termaktub di dalamnya. Membuatnya terdengar membosankan jika saya masih dalam tujuan yang sama, mengingat mereka sudah lebih dulu menuliskannya.

Scream pada dasarnya merupakan sebuah gaya vokal yang diusung oleh band-band dengan genre musik yang cenderung “agresif” . Terdengar berteriak dan diperlukan kekuatan yang lebih keras ketimbang suara vokal biasanya. Biasanya, gaya vokal ini banyak diterapkan oleh genre seperti metal, hardcore, punk, ataupun musik-musik noise.

Kualitas vokal dalam suatu musik yang memberdayakan teknik scream sebagai karakter vokalnya terkadang memang dapat menjadi hal yang krusial dalam bagaimana sang musisi ingin memberikan kesan yang dibangun. Terkadang melatih suara dan teknik tertentu pun tak luput bagi para pemegang departemen vokal agar dapat menghasilkan kualitas scream yang diharapkan.

Teknik scream terbagi menjadi berbagai macam dan masing-masing teknik mempengaruhi suara yang dihasilkan. Untuk beberapa musik, bahkan ada yang menjadi ciri khas sendiri seperti halnya teknik pig squeals yang identik dengan musik-musik brutal/death metal yang dikombinasikan dengan artwork nama band-nya yang seringkali nyaris tidak dapat dibaca.

Salah satu band yang menggunakan teknik pig squeals dalam vokalnya. Coba tebak apa nama bandnya?

Namun, kali ini saya ingin memfokuskan teknik vokal yang dilakukan oleh band-band yang mengusung tema emo dalam musik mereka. Emo sendiri bahkan saya rasa lahir dari berbagai genre utama.  Ada yang mengadaptasi elemen musik metal (Bullet For My Valentine, Bring Me The Horizon, Blessthefall), post-hardcore (Thursday, Alexisonfire, Underoath) pop-punk (The Starting Line, The Ataris), rock (Jimmy Eat World, Dashboard Confessional) dan juga mereka yang sampai saat ini masih identik dengan istilah ‘skramz’ (Saetia, pageninetynine, Jeromes Dream) yang disebut-sebut sebagai generasi pertama dari screamo.

Band-band seperti Bring Me The Horizon, Bullet For My Valentine, dan Miss May I mungkin menerapkan teknik scream dengan sangat baik. Coba saja dengar lagu-lagu mereka, baik clean vocal (jika ada) maupun scream-nya terdengar sangat bulat dan sempurna. Hasilnya, nama mereka selalu dikenali orang sebagai band yang mengusung gaya emo.

Mencoba menoleh kembali ke belakang, tepatnya era 1990-an. Emo mungkin awalnya dikenal sebagai musik yang mengadaptasi adegan hardcore-punk di kota Washington D.C, Amerika Serikat sana. Diketahui, mereka bahkan lebih dekat dengan grindcore sehingga diungkapkan oleh band In/humanity, unit asal California yang memasukan istilah emo violence lewat salah satu lagunya, “Emo Violence Generation”.

Baca Juga: Melihat Musik Emo Sebagai Ruang Ekspresi Diri

Band-band screamo generasi awal memiliki gaya bermusik yang sedemikian rupa. Teriakan mentah, musik yang berantakan, dan memiliki kualitas sound yang apa adanya atau bahasa kerennya sekarang mah, “raw”, namun dengan harmonisasi yang apik, kamu bahkan sulit untuk menemukan atmosfer yang sama dalam genre lain. Lebih absurdnya lagi, beberapa dari mereka kadang tidak menggunakan pengeras suara untuk vokalnya dalam beberapa pertunjukan. Gila!

Kebanyakan band dari generasi awal screamo mendiami skena bawah tanah. Nama-namanya seringkali terdengar asing bagi mereka yang menyukai emo di gelombang tahun 2000-an. Tak apa, itu bukan sebuah kesalahan. Saya pun begitu pada awalnya. Namun, jika kita mendengarkan emo pada gelombang pertama, rasanya cukup sulit untuk dinikmati. Tak seperti musik-musik emo yang lahir tren di zaman MTV dulu.

Musik-musik emo di di tahun 2000-an mulai bertransformasi ke bentuknya yang paling sempurna. Dari segala aspek. Screamo mulai berkembang ke tahap yang lebih jauh. Nah, jika membahas dari segi teknik vokal, tentu saja screamo di era ‘milenial’ sudah terbilang cukup piawai dalam menerapkan berbagai teknik sehingga menghasilkan scream terdengar yang bulat. Bahkan, dapat mengolah berbagai teknik dan menghasilkan bermacam-macam scream dalam satu lagu.

Di masa keemasan emo, mengolah vokal scream secara maksimal seakan menjadi sebuah keharusan, tentunya dengan memperhatikan berbagai hal teknis untuk mendukungnya. Kita dapat lihat band-band pada di era itu yang memiliki kualitas scream jempolan semisal Saosin, Alesana, atau Underoath. Teknik vokal yang dipertimbangkan secara matang, beda halnya dengan leluhur mereka yang entah menerapkan teknik vokal yang baik atau tidak, teriakannya terdengar mentah. Seolah asal teriak saja, namun di sisi lain justru melahirkan kesan jujur.

Saya rasa musik emo modern dan skramz/screamo memilki warnanya masing-masing, walaupun masih di bawah bendera yang sama. Meskipun emo sendiri tidak dapat dispesifikan ke dalam satu genre, karena ia lahir dari berbagai elemen berbeda dan berujung pada muara yang sama. Entah teknik vokal siapa yang paling sempurna. Menurut saya sendiri, kedua elemen tersebut memiliki takaran kesempurnaannya sendiri di mata penggemarnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button