Straightedge: Garis Buram Antara Fase Dan Komitmen Seumur Hidup

Mungkin buat kamu yang ngikutin kancah musik hardcore punk udah nggak asing sama istilah Straightedge. Buat kamu yang belum familiar, saya coba jelasin dikit aja. Nggak usah panjang-panjang lah ya, nanti kamu bosen duluan. Straightedge itu subkultur yang menyerukan pantangan akan alkohol, rokok, dan seks bebas atas nama kontrol diri sepenuhnya. Kasarnya Straightedge itu sebuah konsep bahwa untuk menjalani hidup lebih maksimal itu nggak perlu lah pake substansi-substansi itu. Etos konsep ini awal mulanya dicetuskan secara nggak sengaja oleh band hardcore punk seminal asal Amrik, Minor Threat lewat lagunya “Out Of Step”.

Pentolan Minor Threat, Ian Mackaye, sebenernya nulis lagu itu cuma sebagai ekspresi akan perspektifnya terhadap gaya hidup “bersih” yang dijalaninya. Tapi para pendengar musik Minor Threat terlalu mengambil hati lirik lagu tersebut dan akhirnya mulai banyak yang mengaplikasikan gaya hidup Mackaye pada hidup mereka. Karena lambat laun mulai banyak orang dari kancah hardcore punk mengaplikasikan lifestyle-nya, akhirnya Straightedge menjadi sebuah fenomena budaya secara global. Walhasil banyak orang di dunia yang menjalani hidup berlandaskan Straightedge dan mencoba berkomitmen.

Nah kalau ngomongin Straightedge, ada satu fenomena menarik yang saya selalu rasakan ketika berkecimpung di lingkungan pergaulan saya. Beberapa teman saya ada yang masih mengklaim edge mereka sampai hari ini dan menjalani gaya hidup tersebut. Ada juga beberapa teman saya yang break edge, artinya mereka berhenti menjadi Straightedge karena beberapa faktor. Kayak, ada yang berhenti karena nggak kuat pengen balik ngerokok dan minum alkohol lagi, ada juga yang berhenti karena percaya Straightedge cuma sebagai fase hidup di kala masa growing up doang. Malahan ada suatu inside joke di sirkel hardcore punk yang bilang kalau semua orang pasti akan berhenti Straightedge saat memasuki fase perkuliahan. Seperti apa yang Good Clean Fun bahas pada lagu mereka yang berjudul “Coll-edge”.

Di sisi lain, saya selalu melihat dan mendengar berbagai slofgan atau propaganda mengenai Straightedge di banyak medio. Mulai dari lagu sampai desain. Dan pada dasarnya, semuanya mempunyai satu suara yang ingin didengarkan. Yakni kalau Straightedge itu adalah komitmen seumur hidup. Sampai mati harus Straightedge. Kalau kata band Straightedge Chain Of Strength mah “True ‘Til Death”. Mending lah kalau slogan-slogan itu cuma sebatas ‘soft-campaign’ aja, soalnya banyak juga lagu-lagu hardcore punk yang punya lirik militan mengenai hinanya seseorang yang awalnya meng-klaim Straightedge dan harus berhenti di tengah jalan. Contohnya ada di lagu Project X yang judulnya “Straight Edge Revenge”.

Tentu ini menjadi menarik buat saya. Saya rasa Straightedge itu memiliki garis abu-abu yang berada di dua sisi, sisi santai dan sisi militan. Tapi biar opini ini jadi relevan, saya harus mengakui sesuatu dulu sama kamu. Saya pun sempat menjadi Straightedge sampai masa perkuliahan. Saya sempat menjalani gaya hidup tersebut dan bisa dibilang, mendalami berbagai macam literatur mengenai elemen-elemen di sekitar Straightedge seperti musiknya, perspektifnya, bahkan gaya hidup alternatif seperti vegetarian dan vegan. Lalu semua itu berhenti ketika saya bertemu beberapa straigtedger lain yang mempromosikan Straightedge dengan cara yang nggak asyik, yaitu dengan preaching dan menghakimi orang lain yang nggak straight edge itu nggak keren. Menghakiminya bisa berbagai cara, tapi yang selalu saya rasakan langsung adalah ejekan verbal dari para Straightedger yang menjurus ke bullying. Itu yang membuat saya muak dengan Straightedge, yakni perspektif ‘I’m better than you’.

Tapi di sisi lain, saya pun salut dengan teman-teman saya yang masih bertahan dengan prinsip Straightedge-nya di kisaran umur yang sama dengan saya. Saya pernah bertanya ke seorang teman mengenai pilihannya untuk tetap jadi Straightedge di umur 30an. Dia awalnya bercanda dengan menampik “kagok berhenti lah udah umur segini mah, kagok terusin Straightedge aja”, tapi dia pun menambahkan bahwa dia menggunakan klaim Straightedge sebagai komitmen dan parameter dimana dia berusaha untuk hidup sebaik-baiknya. Alasan yang dia kemukakan cukup masuk akal bagi saya. Kenapa nggak Straightedge digunakan sebagai parameter personal aja daripada harus nge-preach orang buat ikut-ikutan jadi Straightedge? Ah tapi balik lagi sih, setiap orang memang berhak beropini tentang hal yang mereka percayai. Seperti apa yang saya lakukan melalui tulisan ini.

Teman saya pun menambahkan opini tentang orang-orang yang menggunakan Straightedge sebagai fase hidup. Dia bilang, “ya nggak apa-apa berhenti Straightedge di masa perkuliahan juga. Mau berhenti kapan pun juga nggak masalah sih. Toh bukan berarti murtad dari agama juga ‘kan? Seharusnya Straightedge itu digunakan sebagai komitmen untuk diri lebih baik. Kalau komitmen tersebut dirasa cuma bertahan sampai masa kuliah dan masih ada cara baik untuk menjalani hidup selain Straightedge, ya kenapa nggak?”. Omongan dia masuk akal buat saya, sebenernya nggak ada yang salah kalau seseorang berhenti jadi Straightedge. Meskipun mungkin ada Straightedger di luar sana yang masih percaya kalau Straightedge itu harusnya dijalankan sepanjang hayat. Tapi saya masih yakin kalau Straightedge itu personal choice. Mau kapan pun berhenti atau sampe kapan ngejalaninnya, itu mah pilihan pribadi. Mau dijadiin fase hidup atau komitmen seumur hidup, bebasss. Intinya mah be nice to yourself and to everyone.

*Terima kasih kepada Firman Triyadi dari Wreck yang menemani saya diskusi selama menulis artikel ini.
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button