Spotify VS Bandcamp: Mana Platform Yang Lebih Menguntungkan Untuk Musisi?

Di era kayak sekarang dimana banyak orang pengen semuanya serba gampang dan cepat, kayaknya agak sulit kalau harus mengorbankan sedikit waktu atau upaya untuk memproses sesuatu demi mendapatkan hasil atau efek yang diinginkan. Kalau pakai konteks musik di masa sekarang, paling gampang ya kayak proses ngedengerin musik deh. Dengan adanya platform streaming digital macem Spotify dan Bandcamp, kini dengerin dan nyari musik yang sesuai keinginan nggak sesusah zaman dulu. Kalau merunut ke dua sampai tiga dekade ke belakang, buat dengerin dan dapetin musik baru itu lumayan perlu effort ekstra. Mulai dari harus beli rilisan fisiknya dulu sampai harus punya pemutar rilisannya. Belum lagi kalau mau nemuin musik baru harus rajin nongkrong di toko kaset atau ngobrol-ngobrol sama temen yang punya referensi musik yang lebih luas. Duh sori ya kedengerannya kolot banget, tapi that’s how it is.

Biar gampang, kita pake Spotify sebagai parameter pertama ya, friend. Dengan mudahnya akses musik via moda digital kayak Spotify, saya rasa ada ketimpangan yang dirasakan di pihak musisi. Oke lah, akses untuk mendengarkan musik memang jauh lebih mudah untuk sisi pendengar. Tapi untuk sisi musisi yang perlu mengeluarkan upaya ekstra (duit, waktu, dan pikiran maksudnya) buat bikin sebuah karya musik ini sekilas agak nggak fair. Terutama musisi yang jam terbang manggungnya masih di bawah rata-rata. Karena dengan adanya algoritma dari Spotify yang merekomendasikan musik baru dari masing-masing trennya akan sangat berpengaruh ke selera musik sang pendengar. Dan sialnya, algoritma Spotify tersebut akan terus menerus mengarahkan para pendengar ke musik yang sedang “digemari”, bukan yang benar-benar baru dan segar. Dalam konteks ini, musisi yang baru memulai langkahnya untuk mempromosikan musiknya di platform tersebut jelas kalah telak oleh algoritma aplikasi yang kerap menyodorkan musik dari musisi yang sudah jauh terkenal.

via Google Image

Belum lagi masalah bagi hasil finansial ala pay-per-play yang kerap menjadi kontroversi di platform Spotify. Hitung-hitungan duit emang krusial buat para pekerja seni, terutama musisi. Bukan maksudnya hitungan, tapi karena sebagian besar musisi memang menggantungkan pemasukan finansialnya dari karyanya. Makanya ada istilah ‘support your favorite musician by buying their merch’ ‘kan. Karena itu adalah dukungan konkrit bagi musisi supaya tetep bisa memproduksi karya. Nah balik lagi ke sistem bagi hasil Spotify, setiap satu play di Spotify musisi paling-paling cuma dapet $0,0006. Nah mending kalau lagu itu tembus sampe jutaan play kayak lagu dari band “indie” favoritmu. Apa kabar para musisi lainnya yang pengin mencoba peruntungan dari platform tersebut?

Bukan bermaksud menjadi hipokrit atau apa pun, saya pribadi pun menggunakan Spotify sebagai salah satu media distribusi musik saya secara digital. TAPI saya tidak menggantungkan nasib saya ke Spotify sebagai tolak ukur kesuksesan atau sebagai “lahan jualan” musik yang saya mainkan. Malahan saya lebih memilih Bandcamp sebagai platform utama untuk musik yang saya mainkan. Oke, mungkin interface Bandcamp kurang enak kayak Spotify terus untuk mengaksesnya lebih mudah di desktop dibanding di smartphone (alias pada males), tapi Bandcamp lebih pro kepada musisi yang memang ingin karyanya lebih dihargai daripada sekedar masuk playlist yang bisa di-shuffle sesuka hati. Here are the reasons:

Kualitas sound yang lebih mumpuni

Sebelum mengunggah karyanya ke platform tersebut, Bandcamp selalu menganjurkan kepada musisi untuk mengunggah file dengan definisi tertinggi. Bukan apa-apa, soalnya ketika musiknya diunduh, Bandcamp akan mengkonversinya ke beberapa file yang memang ditujukan untuk kenyamanan pendengar.

Tidak ada perantara, upload and go

Berbeda dengan Spotify atau platform musik yang menggunakan aggregator sebelum mengunggah musik harus ada proses yang memakan waktu. Bandcamp bersifat real-time. Upload di hari yang sama, bisa dipublikasikan di hari yang sama. Efektif dan bersahabat dengan content plan campaign untuk rilisan terbarumu.

via Getty Images

Fans musik yang nyata

Layaknya media sosial, Bandcamp menyediakan fitur untuk berkomunikasi dengan fans yang memerhatikan musikmu. Jadi nggak cuma sebatas dengerin musik doang, kamu bisa ngasih informasi yang detail tentang semua kegiatan bermusikmu. Selain itu, kamu pun bisa berterima kasih kalau mereka membeli musikmu via Bandcamp. Yap, kamu nggak salah baca. Beli musik secara digital. Dan poin terakhir adalah…

Pembelian musik digital dengan rasa offline

Yep. Semua pembelian digital akan musikmu di Bandcamp hampir 80% akan langsung masuk ke dompet digitalmu (yang bisa diuangkan tentunya). Inilah fitur terbaik yang Bandcamp punya dan sangat membantu bagi para musisi untuk tetap semangat berkarya. Nggak perlu nunggu lama melewati proses QTR kayak platform musik lainnya yang melewati aggregator, proses pencairan pembelian di Bandcamp biasanya cuma berkisar 1-2 hari kerja dan voila, rekeningmu akan bertambah dengan hasil penjualan musikmu di Bandcamp. Talking about real thing!

Anyway, tulisan ini hanya untuk memberikan alternatif bagimu para musisi yang masih menganggap bahwa masuk Spotify adalah kunci untuk mendapatkan feedback yang baik sebagai musisi di era digital. Take it this way, Spotify bagus untuk mendongkrak publisitasmu. Kind of like riding the wave. Tapi untuk urusan respon nyata dari pendengar (yang loyal), Bandcamp adalah platform yang tepat. Hal yang sama pun saya tujukan untuk para pendengar musik. If you do care about the music, you should appreciate the people behind the music. Pilihan ada di tanganmu.

Related Articles

Back to top button