Selagi Panggung Meredup, Media Musik Harus Terus Menerjang

Akuilah, tahun 2020 memang be’ol banget. Pandemi virus brengsek yang tiba-tiba menghantam segala aspek kehidupan kita terasa sangat mengikis miris fisik dan mental kita. Setidaknya itu yang saya dan teman-teman di ruang lingkup musik rasakan selama ini. Ketika harus memaksakan ikhlas untuk tidak bisa bersosialisasi dan beraksi di panggung-panggung musik, semangat dan gairah untuk tetap melaju dalam berkarya pun semakin gamang. Bukan maksud tidak bersyukur karena akhirnya kita semua bisa tetap bertahan hidup dan sehat sampai sejauh ini, tapi ketika panggung musik meredup rasanya seperti ada satu bagian dari hidup kami yang hilang. Call it a cliche bullshit, but it’s true.

Tapi seperti ungkapan yang sering dikemukakan para orang tua bijak angkatan orde baru ketika menghadapi sebuah masalah: selalu ada hikmah di balik sebuah musibah. Sialnya, ungkapan itu betul adanya. Kondisi pandemi kemarin yang mengerucutkan jumlah gigs dan event musik lainnya itu ternyata menjadi ‘bing!’ moment bagi saya. Pasalnya, saya jadi terpacu untuk tetap aktif berkarya di bidang musik melalui medio lain. Yaitu apa yang saya kerjakan bersama teman-teman di Rich Music Online sekarang, mengembangkan dan menerjang scene musik melalui media dan konten-konten seputar musik.

Setelah beberapa bulan berusaha keras melewati ratusan jam brainstorming, menulis banyak hal, dan mengeksekusi berbagai konten multimedia seputar musik, ternyata sedikit demi sedikit timbal balik dari beberapa kolega dan pengikut/pembaca Rich Music Online mulai terasa nyata. Apa yang kami kerjakan ternyata selalu ada yang memperhatikan dan merespon, entah itu timbal balik yang positif mau pun negatif. Yang penting, apa pun yang saya dan teman-teman lakukan di Rich Music Online itu ternyata tetap bisa menjadi sumbu kompor yang tetap memasak santapan musik bernutrisi untuk disajikan kepada orang-orang yang kelaparan akan musik di kondisi pandemi ini.

Sebagai orang yang biasa berada di atas panggung dan tidak terlalu sering terlibat di ranah media musik (meski sudah beberapa tahun mengemban tugas sebagai penulis musik lepas), saya rasa media musik adalah salah satu medio yang paling efektif untuk tetap menjaga keberlangsungan kancah musik secara umum di kondisi seperti ini. Oke, terdengar klise dan juga kontradiktif dengan apa yang teman saya, Reza, pernah tulis di sini beberapa waktu lalu. Tapi itulah seninya menggarap tulisan di Rich Music Online. Everybody’s entitled to their own opinion here. Tentunya secara bertanggung jawab dan kredibel.

Menyambung argumen saya tadi, saya rasa media musik mempunyai keleluasaan untuk mengakses dan mengemukakan berbagai aspek musik tanpa harus terbatasi oleh genre dan tongkrongan. Siapa pun bisa mengakses dan menikmati semua konten yang sebuah media musik sajikan di dalam formatnya. Mau itu feature opini yang mendalam, berita musik saduran, atau pun konten multimedia musik yang di kondisi ini menjadi favorit para pihak sponsor dan banyak penikmat musik sebagai alternatif media pemuas hasrat hiburan musikal. Untuk orang-orang yang memang terlibat di dalam kancah musik sebagai pelaku di atas mau pun di belakang panggung, media musik pun menjadi sarana untuk tetap mengekspos karya mereka dalam bentuk lain. Let’s say ketika sebuah band tetap mencoba untuk merilis sebuah karya di kondisi seperti kemarin dan kesulitan untuk mempromosikan karyanya karena susah manggung, ada media musik yang siap mengekspos dan menyebarkan beritanya ke khalayak ramai. Atau misalnya ada kru panggung yang biasanya mengerjakan teknis peralatan dan tata panggung tapi sepi job karena pandemi, dia bisa memulai untuk menjalin komunikasi baru dengan orang-orang media dan mengerjakan hal yang serupa namun di skala online. See what I mean?

Sebelum adanya tanggapan suudzon seperti “ah susah bikin media mah, ribet!”, saya mau menyangkal duluan dengan memberikan sugesti ini: kamu bisa bikin media sendiri, friend. Nggak perlu punya website yang full domain .com atau punya konten multimedia yang super proper. Yang penting membuat sesuatu yang membahas musik. Mau bentuknya tulisan di blog, video IGTV, atau bahkan bikin homepage artwork band favoritmu pun sudah termasuk sebuah kontribusi signifikan untuk musik. Menggarap sebuah media musik tidak selamanya harus berbentuk tulisan. Apa pun yang kamu kerjakan dalam format yang bisa diakses oleh banyak orang, itu adalah sebuah bentuk pengekspresian dan penyulut semangat agar isu dan topik musik tetap bergaung selama mungkin. Tinggal pilih aja, mau di bidang jurnalistik, seni, atau apa pun itu. Yang penting masih berhubungan dengan ranah musik. Screw rules and policy, just start your own thing. Do it for the love of music and to keep it alive.

Saya pun sangat mengapresiasi teman-temen media musik lainnya yang tetap aktif sampai hari ini meski pun saya tahu biaya operasional dan produksi menjadi tantangan yang lebih berat dari pada tantangan melewati pintu berisi setan di Benteng Takeshi. Doa selalu saya panjatkan kepada Yang Maha Kuasa untuk senantiasa memberikan kesehatan dan rezeki kepada kalian yang terus semangat menggarap topik dan konten musik, friends! Buat kamu yang rela menghabiskan waktu membaca tulisan sampah ini, saya pun berterima kasih karena kamu adalah satu dari sekian banyak yang menghargai apa yang kami kerjakan sebagai tim dari sebuah media musik. Yaitu membaca tulisan feature sampai habis. Itu sangat berharga bagi kami, terutama sebagai penulis musik. Terima kasih. Semoga apa yang kami dan teman-teman media musik lainnya kerjakan bisa konsisten memberikan nutrisi musik yang simultan dan seru. Tapi, tentunya kamu pun bisa menjadi bagian nyata dari pergerakan ini, friend. Seperti judul album spoken word legenda punk Jellobiafra, ini saatnya kita semua Become The Media dan menerjang terus sampai akhirnya lampu panggung akan kembali terang benderang dan semuanya kembali senang.

Peace.

Show More

Related Articles

Back to top button