Sekilas Doom/Stoner Metal Serta Cara Menikmatinya

Saya sempat menggemari musik-musik yang biasa dilabeli sebagai stoner/doom metal ketika masih menduduki bangku putih abu-abu. Meskipun rasanya belum sah untuk disebut sebagai anak stoner karena tidak pernah menuntaskan trek ‘Dopesmoker‘ milik Sleep yang berdurasi sekitar satu jam lamanya dalam sekali dengar.

Meskipun demikian, band-band seperti Electric Wizard, Goatsnake, dan Church of Misery sempat menempati posisi teratas dalam rak daftar putar saya dulu. Saya mendengarkannya selalu dalam keadaan sober dan tidak memiliki rambut panjang yang dapat menutupi seluruh bagian muka ketika melakukan headbang, nyatanya saya masih dapat menikmati musik-musik stoner/doom metal dengan cukup khidmat.

Memang tak dapat dipungkiri, ketika coba menelisik bagaimana musik mereka terdengar, cukup menggambarkan mimik wajah teler dengan kantung mata yang merosot ke bawah. Memainkan musik metal dalam ketukan lambat karena terlalu berat baginya untuk memainkannya dalam tempo cepat. Tapi, rasanya tak mesti dalam keadaan yang sama untuk menikmatinya.

Jujur saja, bagi saya metal memang selalu menyuguhkan kesan gelap yang menyelimuti musik mereka, begitupun dengan stoner dan doom metal. Alih-alih menakutkan, justru menjadikannya sebagai pemacu adrenalin tersendiri untuk merasa paling gahar satu sekolah. Hahaha. Wajar, snobisme rentan menjangkit usia-usia awal pubertas.

Sedikit bercerita mengenai doom metal, pada dasarnya musik tersebut merupakan gaya musik heavy metal yang dibawakan dengan tempo lambat, stem gitar yang rendah, dan cenderung menghasilkan suara yang lebih tebal juga berat ketimbang aliran musik metal lainnya. Lirik-lirik yang disuguhkan pun cukup menyeramkan, menggambarkan ketakutan, keputusasaan, serta datangnya malapetaka yang terkadang terdengar dahsyat.

Seiring berjalannya waktu, rasanya musik ini tak melalui masa transformasi yang cukup signifikan. Dipelopori oleh nama-nama seperti Saint Vitus, Witchfinder General, Pagan Altar, Pentagram, dan tentu saja sang mega bintang, Black Sabbath. Diduga, trek ‘Black Sabbath’ dan  ‘Into the Void’ sebagai prototipe penanda bagimana doom metal merupakan sesuatu yang berbeda.

Sait Vitus (discogs.com)

Namun, doom metal cukup mempengaruhi lahirnya berbagai subgenre yang masih memiliki kadar “malapetaka” yang serupa, seperti sludge metal, death doom, dan black doom. Begitupun halnya dengan stoner metal yang mungkin masih salah satu bentuk evolusi yang dipengaruhi oleh doom metal.

Lain halnya dengan stoner metal yang merupakan sebuah peleburan dari unsur-unsur heavy metal, blues, psychedelic rock, dan doom metal. Seakan bentuk dari eksplorasi musik yang lebih kaya. Merupakan sebuah wujud “retro” yang memiliki karakter seperti halnya doom metal, yaitu distrosi tebal dan berat, serta tempo yang cenderung lambat (meskipun tak selambat doom metal). Musik ini memiliki dalang yang lebih mengekerecut kepada nama-nama semisal Kyuss dan Sleep.

Sleep (revolvermag.com)

Di samping musikalitasnya, sisi yang saya suka dari stoner/doom metal yaitu cetakan font atau artwork-nya yang cukup memikat mata. Mengandalkan kepiawaian tangan sang desainer menjadikan sampul-sampul album atau tipografinya memiliki nilai orisinalitas tersendiri. Selain itu, ilustrasinya pun seringkali tampak memukau, biasanya diikuti perpaduan warna yang catchy, namun tetap menyuguhkan kesan kelam yang kentara.

Tak sedikit album-album doom/stoner metal yang sangat imajinatif dan terbilang cukup menggungah. Sosok dibalik artwork dalam sebuah band memang tak dapat dikesampingkan begitu saja. Saya tak dapat meragukan lagi bagaimana sang eksekutor gambar melukiskan ilustrasi di setiap artwork guna memenuhi kebutuhan band tersebut. Mereka seakan memiliki resep tersendiri dalam meramu berbagai wujud mahluk dalam suatu keutuhan gambar sehingga menjadikannya identitas khusus untuk rilisan band-band doom/stoner metal.

Electric Wizard- Witchcult Today (riseaboverecords.com)

Sama halnya dengan metal lainnya, doom metal pun terkadang cukup menyuarakan hal-hal yang berkaitan dengan cult terhadap keyakinan atau sesuatu yang menginspirasi mereka, seperti halnya literatur, agama, dan simbolisme yang memberikan dampak terhadap hidup mereka. Sesuatu yang tak dapat lepas begitu saja jika kita membahas musik logam ini.

Dari segi musikalitas, mungkin beberapa dari kamu akan menganggap musik ini terasa cukup monoton, terlebih jika menikmatinya dalam keadaan sober. Namun, dentuman musik metal memang selalu menggairahkan bagi para penggemarnya, begitupun kombinasi riff-riff nya yang banyak dipengaruhi oleh blues, atau mungkin itu masih salah satu dari bagiannya? Entah lah. Yang jelas kekuatan doom/stoner metal terdapat dari setiap unsur yang disuguhkan. Jika tengah dalam keadaan sober, bisa jadi raungan distorsi tebal dan ketukan tempo lambatnya yang justru akan membuat kamu “mabuk”.

Oleh: Ilham Fadhilah

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button