Sekelumit Sejarah Deathcore dan Dinamikanya

Siapa di antara kamu yang sempat atau masih menggemari The Black Dahlia Murder, Suicide Silence zaman Mitch Lucker, atau Bring Me The Horizon era ‘Suicide Season’? Jika kamu merupakan salah satunya, pasti istilah deathcore sudah tidak lagi asing di telingamu.6yy8 Dan, berhubung band-band dengan musik seperti ini sempat menjamur di tahun 2000-an, rasanya masih ada sisa-sisa cerita yang masih dapat kita bahas kali ini.

Deathcore merupakan sebuah musik yang merupakan wujud perkawinan silang antara death metal asal tanah Amerika dan beatdown serta blast beat yang biasa kamu temukan dalam  musik-musik metalcore  atau hardcore. Musik ini mungkin merupakan genre musik ekstrem yang menyuguhkan sajian mengancam dalam segi beat, namun dapat memacu adrenalin berapi-api dengan riff-riff ala death metal dan tentunya steman gitar rendahnya.

Sebenarnya sejak tahun 90an sudah banyak band-band yang melakukan formula musik ini lebih dulu. Sebut saja nama-nama seperti Dying Fetus, Suffocation atau Devourment,  namun tampaknya, mereka seperti menghuni zona hardline yang di mana masih lebih kental dengan elemen death metal-nya.

Suicide Silence (via vistapointe.net)

Musik ini pun cukup familiar dengan ciri khas teknik vokal yang biasa disebut death growl. Teknik vokal ini biasanya memiliki suara vokal yang parau serta artikulasi yang (biasanya) terdengar tidak jelas akibat suara teriakan yang dihasilkan. Beberapa teknik vokal lain pun cukup dikenal akibat deathcore ini, seperti teknik pig squeals yang bahkan artikulasinya lebih condong terdengar seperti “huik..huik”. No offense.

Baca juga: Mencari Penyebab Pudarnya Pamor Metalcore Saat Ini

Bahkan jauh-jauh hari sebelum itu, istilah deathcore sudah digunakan sejak tahun 1996, Nick Terry dari majalah Terrorizer (bukan  salah satu band grindcore) menyebutkan, “kita mungkin akan menyebutkan kata-kata deathcore untuk menggambarkan pengaruh atas Earth Crisis (serta band-band pengadopsi New York Hardcore tetapi tampil ala-ala Merauder yang death metal).

Perkembangan deathcore mulai melebar ke berbagai arah di tahun 2000-an. Unsur-unsurnya pun semakin beragam. Ada yang mencoba mengkombinasikannya dengan progressive metal seperti yang dilakukan oleh Veil of Maya atau Born of Osiris. Meskipun saya rasa, Suffocation telah melakukannya lebih dulu sejak tahun 1988 (namun, tak membuat mereka menyandang gelar deathcore dari para metalheads).  Hanya saja peneguhannya mulai terasa di abad 20 ini. Unsur lainnya yang kerap direkatkan dengan deathcore yaitu nu metal. Band-band maca Attila atau Emmure disinyalir sebagai nama-nama yang mengusung perpaduan tersebut.

Baca juga: Shai Hulud, Ksatria Metalcore Yang Terlupakan

Nggak semua band yang bernuansa deathcore ternyata senang dilabeli dengan genre tersebut. Ada juga beberapa band yang menolak istilah deathcore untuk disematkan ke band mereka, seperti Antagony dan Despised Icon. Bahkan penggemar heavy metal akut menentang penggunaan istilah ini diakibatkan oleh breakdown yang digunakan dalam musiknya. Mungkin bagi mereka, breakdown yang digunakan agaknya terdengar seperti sebuah anomali dalam musik metal yang cult sehingga terkesan berlebihan.

Dari segi musik, rasanya kita sudah dapat menemukan perbedaan yang cukup menjadikan deathcore sebagai suatu warna berbeda di tahun 2000-an. Jika belum dapat membedakannya, mungkin kamu perlu mendengarkan EP ‘Doom’ dari Job For A Cowboy yang disebut-sebut sebagai rilisan pembawa pengaruh signifikan terhadap genre ini. Lantas apa lagi sisi diferensiasi yang terlihat begitu mencolok? Yaaa, salah satunya adalah dari segi fashion. Melihat dari segi penampilan, selera fashion dari para pelaku musik deathcore cukup beririsan dengan screamo atau metalcore yang sama-sama tumbuh di era itu. Cukup kontras dengan bagaimana metal yang masih ikonik dengan battle vest atau leather jacket penuh emblem terlihat. Meskipun mereka sendiri tidak lahir dari musik metal secara keseluruhan. Namun adaptasi musik metal-nya terasa begitu kental, bahkan dari segi font atau artwork-nya. Yah dengan melihatnya pun, rasanya kamu sudah dapat mengetahui musiknya tanpa perlu mendengarkannya.

Pandangan terhadap deathcore  mendapatkan kritikan dan penilaian sinis dari beberapa pihak. Salah satunya yaitu Vincent Bennet dari The Acacia Strain, unit metalcore bentukan 2001 yang menentang jika bandnya disebut deathcore. “Jika ada yang menyebut kami deathcore mungkin saya akan melakukan sesuatu yang sangat buruk pada mereka”.

Vincent Bernett, The Acacia Strain (via metalinjection.net)

Karena bagi beberapa pihak, deathcore dipandangan sebagai suatu genre musik yang “rendahan”. Statement yang dikeluarkan oleh Bryce Lucien dari Seeker mengenai deathcore sebagai; “band-band garang yang diisi oleh bocah umur 20 tahunan dengan tato penuh di leher, kaos hitam yang serasi dan berusaha mati-matian  terlihat tangguh meski mereka melompat bersama-sama penonton dari atas panggung.”

Saya bukan seorang yang memperhatikan perkembangan musik deathcore di era itu. Namun, bahkan untuk orang semisal saya pun dapat melihat bagaimana deathcore fashion di era 2000-an itu memang benar adanya terlihat serupa; tato penuh di sekujur tubuh (termasuk leher mereka), celana ketat dan berpakaian serba hitam serta ukuran kaos yang terlihat seperti seorang junkies.


Deathcore sering dianggap sebagai istilah yang kontroversial, meskipun yang mereka yang kontra kebanyakan merupakan nama-nama bangkotan yang lebih dulu muncul sebelum istilah deathcore menyebar. Maka sosok yang muncul setelah itu seperti Scott Lewis dari Carnifex dan mantan gitaris Chelsea Grin, Jake Harmond mengaku tidak peduli dan tidak keberatan dengan mereka yang memandang istilah deathcore sebagai sesuatu yang menganggu.

Scott Lewis, Carfinex (via wikipedia.org)

Rasanya, saya sendiri tak dapat menentukan roots yang mereka ambil sehingga terciptra deathcore sebagai istilah payung dari musik-musik seperti itu. Kosa kata death yang rasanya dipopulerkan oleh metal dan kata core yang merujuk pada hardcore. Namun, dari segi mana pun mereka tidak serupa dengan keduanya. Melainkan hanya beberapa elemen yang diadaptasi dari berbagai genre tesebut.

Pada akhirnya kesimpulan yang saya dapat, sebagai salah satu subgenre yang istilahnya lahir sebagai bentuk simplifikasi, mungkin deathcore tak sepenuhnya dapat dipandang sebagai anomali. Jika itu lahir dari mereka yang merupakan militan metal garis keras, iya. Deathcore memang terdengar ‘menjijikan’. Namun tidak bagi mereka yang justru menganggap deathcore sebagai musik utuh sejak pertama kali mereka mengenalnya. Karena pergantian generasi merupakan indikator terkuat yang mampu menjadikan pengartian musik terasa begitu rancu.

Oleh Ilham Fadhilah

Related Articles

Back to top button