Sekelumit Mengenai Post-Punk dan Sejarahnya

Teks: Ilham Fadhilah

Jika musik punk pada awalnya lekat dengan gitar distorsi, ketukan cepat, serta vokal yang meliuk-liuk, maka post-punk adalah ‘penyempurnaan’ punk rock yang muncul dari sekawanan ‘punk’ melalui perspektif dan pendekatan yang lain. Bisa dibilang, pendekatan yang mereka ambil lumayan keluar dari ortodoksi musikalitas maupun penampilan punk yang terkesan serampangan dan semaunya. Representasi paling dasar tentang konsep dan parameter post punk mungkin bisa diasosiasikan dengan Joy Division.

Citra post-punk cukup menempel dengan seni yang mungkin (awalnya) bertolak belakangan dengan ortodoksi punk, sehingga membuatnya menjadi terdengar lebih eksperimental. Penampilan mereka pun tak nampak sebagaimana kumpulan punk pada umumnya. Kebanyakan dari mereka justru berpenampilan formal di atas panggung. Meskipun post-punk keluar dari garis ‘punk’ pada umumnya, namun nilai-nilainya tak sepenuhnya hilang. Isu-isu sosial, seni dan politik tetap menjadi wasiat yang mereka suarakan di dalam karya-karyanya.

Di tengah maraknya pergerakan punk dengan pegangan etos DIY  (Do It Yourself) dan gaya musiknya yang khas di masa itu. Post-punk muncul ke permukaan sebagai nuansa yang baru. Kemunculannya pun diprakarsai oleh mereka yang memiliki tingkat kepekaan terhadap musik berbau avant garde dan eksperimental, sehingga musik dengan ketukan statis dan bernuansa gelap tersebut terdengar seperti angin segar dalam ranah punk.

Susan Janet Ballion atau dikenal dengan Siouxsie Sioux dari Siouxse and The Banshees (via pinterest.com)

Eranya dimulai pada akhir tahun ’70-an. Nama-nama seperti Joy Division, Public Image Ltd. Gang of Four, dan Siouxse and The Banshees muncul di tanah Britania dan beberapa dari mereka mulai menyematkan citra gothic di dalamnya. Embrio post-punk pun tersebar ke tanah Amerika sana. Band-band yang lahir dari daratan Amerika sana semisal  Tuxedomoon, Chrome, dan The Residents pun turut memadati kancah post-punk dengan memanfaatkan elemen musik industrial dan no wave ke dalam musik post-punk.

Tetap dengan semangat punk yang kita kenal sebagai musik energik. Post-punk pun masih mengamalkan tekad tersebut dalam bentuk yang lain; yakni eksplorasi musik. Public Image Ltd. dinilai menjadi grup yang melubangi dinding punk dan membiarkan berbagai elemen masuk, termasuk seni melalui lagu ‘Public Image’ yang dirilis pada 13 Oktober 1978.

Public Image Ltd.(via miamivice.fandom.com)

Sekarang mari mendedah geliatnya di tahun ’80-an. Post-punk mulai bergeser dari ranah underground menuju sesuatu yang lebih terdengar mainstream. Gemerlapnya jalan U2 pasca debut albumnya, Boy (1980) dan kesuksesan mereka setelahnya dianggap sebagai sebuah penyimpangan dari karakter musik mereka pada awalnya. Namun tidak dapat dipungkiri, Boy tentunya tetap menjadi album yang terdengar post-punk karena memasukan pengaruh dari gaya musik serupa Public Image Ltd. dan Joy Division.

Dari sisi lain pada masa yang bersamaan, band-band seperti Magazine dan Human League mulai memasukan unsur synth-pop dan musik pop lain sehingga dapat diterima di ranah mainstream. Hasilnya, nama-nama tersebut pun berhasil meraih kesuksesan secara komersial di ranah musik.

Jika dihitung dari hari ini, beberapa dekade mungkin sudah berlalu sejak kelahirannya. Namun, nafasnya masih terasa hingga sekarang. Kelahiran band-band yang lebih muda seperti Interpol, Protomartyr, Wild Nothing, dan DIIV masih memainkan musik yang berakar pada post-punk meskipun mereka terdengar sudah meramunya dengan berbagai unsur. Ya, sebagaimana karakteristik band modern pada umumnya.

Baca juga: 50 Band Potensial asal Bandung yang Mencuri Perhatian

Nampaknya, benih post-punk tak hanya subur di tanah barat saja. Ranah lokal pun tak luput dari pengaruhnya. Maksud saya, siapa yang asing dengan Goodnight Electric atau grup besutan Jimi Multhazam, The Upstairs?  

Meskipun awalnya tidak terdengar demikian, Goodnight Electric dalam album terbarunya bertajuk Misteria yang dirilis tahun kemarin memainkan musik dengan ruh post-punk yang cukup terdengar kental. Begitupun dengan The Upstairs, meskipun berdalih “disko”, namun sebenarnya The Upstairs tetap menuangkan komposisi post-punk ke dalam materinya. Meskipun rasanya mereka lebih condong ke arah new wave yang merupakan ‘gelombang baru’ sebagai bentuk pengadaptasian post-punk.

Bahkan dalam ranah musik berstrata major label yang sering tayang di acara televisi nasional sekitar akhir tahun 2000-an, tanpa disadari sayup-sayup post-punk sempat terdengar. Masih ingat dengan grup band Nidji? Saya setuju jika salah satu lagunya yang bertajuk “Disco Lazy Timemasih memiliki kerangka musik khas post-punk meskipun sudah dikemas dengan lebih nge-pop.

Dengan demikian, gelombang post-punk merupakan pengaruh besar dalam kancah musik yang masih berlaku sampai sekarang. Melihat skena lokal arus pinggir pun rasanya musik sejenis ini cukup ramai. Kemunculan talenta muda seperti Closure (Malang) atau Pullo (Medan) merupakan buktinya. Maka dari itu, apakah tulisan ini mampu melepaskan stigma dalam benak kamu jika punk itu nggak melulu harus mohawk, spike di sana-sini, dan plaid pants, kan?

Show More

Related Articles

Back to top button