Saltdust, Sampaikan Kegelisahan Melalui Musik Bernuansa Muram

Pada pertengahan tahun 2010an, tepatnya sekitar tahun 2015-2017, terdapat sebuah fenomena yang cukup menarik di kalangan scene musik bawah tanah, yaitu “hijrahnya” para hardcore kids menjadi indie-rockers. Kenapa saya bilang fenomena? Karena hal tersebut bukan hanya terjadi pada 1 band saja, tapi pada beberapa band dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

Entah apa pemantik awalnya, tapi band-band seperti Title Fight, Turnover, Hundreth, dan yang lainnya memilih untuk memainkan musik yang cukup berbeda dengan awal kemunculan mereka. Dari yang awalnya membawakan musik agresif pemicu moshing, jadi membawakan musik sendu nan mendayu pemicu kesedihan. Gelombang tersebut juga sampai ke Indonesia, salah satu yang paling dikenal saat ini mungkin kemunculan Collapse, sebuah proyek musik dari Andika Surya yang sebelumnya dikenal bermusik bersama unit mathcore, ALICE.

Walaupun mulai terasa surut, tapi imbas dari gelombang tersebut masihlah terasa sampai saat ini. Buktinya adalah dengan kemunculan Saltdust asal Bandung yang membawakan musik indie-rock dengan kemasan muram nan mengawang ala musik shoegaze/dreampop, ditambah dengan sedikit sentuhan emo. Beuh, paket komplit banget atuh? Sebuah formula yang kurang lebih sama dengan apa yang telah digunakan oleh band-band yang telah saya sebutkan sebelumnya.

artwork single ‘Yellow Light’.

Kuartet beranggotakan Rizky Mahendra (Vokal/Gitar), Dwiki Ramadhan Oktava (Gitar), Poppy Fabiola (Bass/Backing Vokal), dan Haris Suryadinata (Drum) tersebut memang baru merilis sebuah single berjudul ‘Yellow Light’ pada bulan Maret lalu, tapi kalau secara materi lagu mah berani diadu banget. Seperti yang sudah saya bilang berulang kali, lamanya usia suatu band nggak melulu berbanding lurus dengan kualitasnya. Buktinya Saltdust yang belum genap berumur 1 tahun, secara materi mah udah jempolan. Saya akui itu.

Hal tersebut mungkin disebabkan karena beberapa personilnya juga sebelumnya sudah aktif bermusik bersama proyek musik lainnya, di antaranya adalah bersama Aillis dan Sanctuary. Jadi wajar kalau memang kualitas produksinya diperhatikan dan hasilnya sangat baik.

Nuansa gelap yang diiringi oleh riff-riff minor menjadi identitas musik yang disuguhkan oleh Saltdust. Coba saja kalian dengarkan intro dari ‘Yellow Light’ yang langsung membawa kalian ke nuansa yang lebih sendu melalui pemilihan nada dan ambience yang disuguhkan. Mungkin mereka bukanlah band pertama yang menggunakan formula tersebut, tapi menurut saya mereka dapat meramunya secara baik.

Bahkan, menurut pengakuan band-nya, nama Saltdust sendiri terinspirasi dari karakter musik yang mereka usung, yaitu memainkan musik dengan petikan suara gitar yang ‘salty’ dengan suara bas yang kotor dan bumbu progresif pada ketukan drumnya yang membuat lagunya terdengar cukup dinamis.

via instagram.com/saltdust

Selain itu, saya rasa salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Saltdust adalah duet antara kedua vokalisnya yang terasa saling melengkapi, dan membagi porsinya secara pas. Mereka juga dapat memilih nada yang easy listening dan membuat earworm secara bersamaan. Coba saja kalian dengarkan ‘Yellow Light’ satu kali saja, saya jamin bagian chorus-nya akan terus terngiang-ngiang. Tentunya itu adalah sebuah nilai plus bagi sebuah band untuk membuat para pendengarnya dengan mudah mengenali dan bahkan menghapal karyanya.

Musik tersebut kemudian digunakan untuk membalut narasi yang kita rasakan sehari-hari, seperti perasaan kecemasan berlebih, kesedihan, dan perpisahan. Cukup menyegarkan di tengah banyaknya band yang membawakan narasi cinta sebagai landasan dari lagu-lagunya. Entah hanya pada single ‘Yellow Light’ saja, atau nanti akan diterapkan pada keseluruhan lagunya. Saya hanya bisa menerka-nerka saja saat ini, karena mereka (sayangnya) baru mengeluarkan sebuah single saja.

Tak sabar rasanya menanti karya-karya terbaru dari Saltdust. Apakah mereka akan menyajikan sesuatu yang menyegarkan lagi, atau malah akan semakin mematangkan formula yang telah mereka gunakan saat ini. Jawabannya hanya dapat diketahui setelah mereka merilis karya terbarunya nanti. Kita tunggu saja, friend.

Semoga dengan adanya ulasan ini akan semakin banyak orang-orang yang mendengarkan mereka, dan tidak melulu harus mengandalkan algoritma sebagai bahan untuk mencari referensi musik. Cobalah untuk mengeksplorasi secara mandiri, karena saya yakin banyak banget band-band keren yang menunggu buat kalian dengarkan karyanya di luaran sana.

Related Articles

Back to top button