Rich Interview Bareng The Battlebeats: “Kalau Bikin Band Harus Niat!”

Fenomena ngegarap band sendirian atau istilah kerennya ‘One Man Band’ sebetulnya sudah ada sejak dari zaman orang tua kita waktu mereka masih muda. Contohnya bisa kamu lihat ada di sosok Fariz RM. Di tahun 80an silam, beliau bikin album Sakura sendirian lho. Mulai dari proses penggarapan lagu, rekaman, sampai proses kurasi artwork-nya. Yaaa, mungkin untuk bagian duplikasi format rilisannya nggak sendirian juga, soalnya alat cetak vinyl ‘kan emang mahal banget sama butuh tenaga manusia yang banyak buat nyetaknya.

Beda dengan hari ini, format one man band sudah lumrah dilakukan di kancah permusikan secara umum. Tentu karena  ini semua berkat adanya akses informasi dan teknologi yang semakin mudah didapatkan oleh banyak orang untuk memulai sebuah proyek musik di masa ini. Bisa kamu lihat sendiri fenomenanya, friend. Banyak musisi kamar yang aktif rilis lagu tapi jarang manggung atau paraYoutuber permusikan’ bermunculan. Itu termasuk one man band, friend.

Membahas ‘one man band‘. kebetulan saya kenal dengan beberapa teman yang berkarya melalui format tersebut. Tapi diantara sekian banyak teman saya, ada satu rekan yang proyek one man band-nya terbilang unik dan keren. Dia adalah Andresa Nugraha, otak dibalik one man garage punk band yang bernama The Battlebeats. Selain genre band-nya yang unik, yang bikin The Battlebeats keren adalah niat Andresa dalam menggarap rilisan fisiknya secara mandiri. Mantep ‘kan?

Foto: Tommy Nelson

Nah, beberapa hari yang lalu saya mengajak Andresa untuk berbincang ringan mengenai The Battlebeats dan format musik yang ia kerjakan sekarang. Dia pun merespon dengan baik ajakan saya dan inilah hasil obrolan bersamanya waktu itu. Enjoy, friend!

RM: Dres, kok The Battlebeats cuma satu personilnya?

A: Karena aing males ngajarin lagu-lagu yang aing tulis ke orang lain. Kadang malah jadi nggak sesuai sama apa yang ada di otak. Yaaa, bisa dibilang proyek egois juga sih.

RM: Berarti menurut Andresa proyek-proyek solo yang banyak bermunculan dari berbagai personil band itu bisa jadi karena cape ngajarin lagunya ke personil lain ya?

A: Bisa iya, bisa nggak. Kalau saya konteks ‘solo’-nya ya, nulis lagu sendiri dan rekam instrumen sendiri. Tapi, kayaknya para ‘musisi mainstream‘ Indonesia pada bikin proyek solo buat eksplor musik lain diluar musik utama yang biasa mereka mainin bareng bandnya.

RM: Masuk akal sih. Oh iya jadi keingetan, dulu kamu punya band namanya Down The Block ya? Tapi kok pas ditelusuri lagi kok band-nya udah bubar? Kenapa bubar sih, padahal bagus-bagus lagunya

A: (Tertawa) Down The Block dibubarin karena urang males ‘ngulikbek’ di band yang dari tahun 2011 sampe 2017 cuma bisa rilis 1 EP dan personilnya sering gonta-ganti

RM: Owalah ternyata lama juga ya main sama Down The Block. Terus sekarang kamu tergabung sama Saturday Night Karaoke ya selain sama Battlebeats. Jangan-jangan itu ya alasan kamu ngebubarin Down The Block?

A: Iya itu salah satu alasan aing ngebubarin Down The Block. Saya mau fokus sama Saturday Night Karaoke yang lebih paten dan konsisten. Karena dari dulu apes mulu punya personil band yang nggak niat-niat amat main band dan ujung-ujungnya jadi pegawai kantoran. Jadi pas Down The Block bubar, urang udah males banget kalau harus bikin band sama orang-orang yang nggak niat. Kalau bikin band mah harus niat!

RM: Setuju pisan, kalau bermusik emang harus ada niat yang bener dulu sih. Lanjut nih, The Battlebeats ‘kan mainin musik garage punk. Maksudnya garage tuh apa ya? Apa semua produksi lagu kayak nulis lagu, rekaman,  sampai packaging rilisan dibikin di dalem garasi mobil?

A: Kalau acuan garage yang saya imani mah musik garage di tahun 90-an yang stereotip musisinya kebanyakan rekaman di kamar. Nggak di garasi juga kali ya? (tertawa) Dengan kualitas recording yang lo-fi. Malah cenderung no-fi. Plus dikasih reverb vokal yang bikin kepala puyeng. Tapi intinya sih lebih ke faktor ekonomi untuk proses penggarapannya, jadi nggak banyak ngeluarin duit. Nggak harus pake gitar dan ampli mahal. Sikat aja yang penting jadi karya.

RM: Gokil. Eh ceritain dong kenapa namanya Battlebeats? Terinspirasi dari mana tuh?

A: Battlebeats sebenernya bukan saya yang bikin. Jadi ada band legendaris garage punk asal Jepang di tahun 90an namanya Teengenerate. Nah gitarisnya kebetulan aktif di Instagram terus ya udah urang iseng SKSD nanya kira-kira punya ide nggak buat nama band. Padahal waktu itu belum kepikiran musiknya kayak apa, lagu aja belum ada (tertawa).  Terus dia akhirnya ngebales “gimana kalau Battle Beat?”. Dari balesan dia itu, aing modif dikit namanya jadi The Battlebeats.

Fifi Teengenerate pamer CD The Battlebeats (via dokumen istimewa Rich Music)

RM: Wih afdol banget itu mah langsung dikasih wejangan sama idola. Kita ngomongin lagu deh. Kalau lagu-lagu Battlebeats biasanya terinspirasi dari apaan? Soalnya, beberapa lagu di EP pertama Battlebeats rata-rata nuansanya marah-marah banget. Kayak “You Stabbed Me In The Back“, ini lagu nuansanya kesel banget kerasanya.

A: Lagu-lagu Battlebeats emang temanya marah-marah semua. Minimal yaaa, dibawainnya kayak yang marah-marah (tertawa). Semua lagu yang aing tulis berdasarkan cerita nyata dan rata-rata emang yang bikin aing emosi. Karena urang tidak suka kekerasan, yaudah dijadiin lagu aja lah.

RM: Eh ngomongin lagu jadi inget rilisan Battlebeats. Keren juga nih Battlebeats udah punya dua rilisan fisik dalam jangka waktu yang cepet. Gimana prosesnya bisa ngegarap semua rilisan itu sendirian?

A: Kalau rilisan pertama itu pengerjaannya spontan. Saya booking studio mendadak tapi sebenernya lagunya belum ada. Jadi dalam jangka seminggu saya kejar tayang pas bikin lagu-lagunya. Nah, beres EP pertama rilis, aing langsung kepikiran bikin album yang lagunya banyak. Bedanya, buat album mah aing punya banyak waktu buat nulis lagu dan memperbaiki kekurangan yang ada di EP pertama. Rada dipoles dikit lah.

CD album The Battlebeats Search And Destroy

RM: Mantep. Eh kita maen pop quiz lah, saya bakal nyebutin dua pilihan dan kamu harus pilih salah satu yang Andresa banget dan sebutin alasannya. Oke kita mulai.

Gitar Fender atau gitar Gibson

A: Fender. Soundnya lebih enak dieksplor.

Pake motor matic atau kopling

A: Matic. Anjir aing teu bisa make motor kopling.

Mending punya banyak duit tapi nggak ada waktu buat nge-band atau sebaliknya?

A: Punya banyak waktu nge-band tapi punya duit dikit. Soalnya kalau sebaliknya, kayanya aing bakal cepet mati.

RM: Oke deh. Sebelum ditutup wawancaranya, Battlebeats punya rencana apa nih kedepannya?

A: Gak ada rencana apa-apa sih, mengalir aja. Kalau ada inspirasi ya bikin lagu terus direkam sampe dirilis. Kalau ada yang ngajak manggung, ya manggung. Battlebeats mah salah satu wadah emotional outlet aing aja.

Terima kasih Andresa untuk obrolannya yang seru. Dengarkan musik The Battlebeats disini: https://thebattlebeats.bandcamp.com/
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button