Rekomendasi 5 Band Melodic Punk Jepang Keren Yang Seangkatan Sama Hi-Standard

Oke, sebelum adanya hujatan yang ditujukan kepada saya dikarenakan judul artikel ini terkesan sangat sombong, saya punya alasan yang bisa dijadikan preferensi sebelum itu terjadi. Saya paham kenapa Hi-Standard sangat terkenal di Indonesia. Urusan musikalitas dan lagu-lagu mereka yang keren banget memang udah nggak usah diragukan lagi, hands down. Belum lagi sosok mereka memang memberikan suatu citra yang berkesan sebagai Asian punk ambassador lewat berbagai prestasi dan pergerakan yang mereka berhasil torehkan sejauh ini. Tapi menurut saya, masih banyak band yang kerennya sudah bisa menyaingi Hi-Standard secara musikalitas dan performa dari angkatan yang sama dengan mereka. Cuma sialnya, band-band itu nggak di-sign sama Fat Wreck aja sih. Jadi kurang terkenal.

Berlandaskan alasan itu, saya sebagai salah satu penulis musik di Rich Music Online jadi gatel pengin merekomendasikan band-band melodic punk keren tapi kurang terekspos tersebut. Supaya apa? Ya selain karena itu pekerjaan saya di kantor sebagai penulis konten musik, saya rasa tidak ada salahnya kamu menyicip sedikit asupan berbeda seputar musik punk Jepang yang seringkali hanya diidentikkan dengan Hi-Standard dan Pizza Of Death. Call me a snob or anything, I just want to give you some good recommendation of music.

Oh iya, mohon maaf foto-foto band di daftar ini kualitasnya kurang bagus. Soalnya emang minim banget arsip-arsip digital mereka. Tapi tenang, saya udah simpan tautan untuk mendengarkan musik mereka kok. Itu yang paling penting. Oke, kita mulai dari band yang pertama…

Captain Hedge Hog

via 3p3b.com

Band asal Yokohama, Jepang yang terbentuk di tahun 1993 ini terkenal di zamannya karena mainin musik melodic punk yang lebih ‘njlimet’. Bisa dibilang, merekalah sebetulnya band yang mempopulerkan melodic punk technical ala Jepang ke para pendengar musik di Jepang secara umum. Kalau menurut saya sih, mungkin mereka jugalah yang menginspirasi band-band melodic punk njlimet kayak Dustbox atau Four Get Me A Nots.

Band ini sempet bubar di tahun 2003 karena para personilnya masing-masing pengin bikin band baru yang genre-nya agak jauh dari Captain Hedge Hog. Tapi sejak tahun 2009 silam, mereka memutuskan untuk reuni setahun sekali demi mengobati kangen para penggemarnya.

Sherbet

via discogs.com

Kalau kamu sempat membaca tulisan saya mengenai sejarah singkat Pizza Of Death, band inilah yang saya sebut sebagai salah satu pionir melodic punk ala Pizza Of Death di Jepang. Ya, karena mereka memang salah satu band yang Pizza Of Death rekrut waktu mereka awal-awal buka. Malahan konon kabarnya, band ini dikontrak langsung oleh vokalis Hi-Standard, Akihiro Namba, ketika dia beres nonton mereka manggung di sebuah live house sekitaran Tokyo.

Band ini hanya meninggalkan sebuah album penuh sebelum memutuskan untuk bubar di tahun 1997. Setelah itu, para personil Sherbet melanjutkan perjalanan karir musik mereka dengan membuat band-band baru yang sama suksesnya dengan Sherbet. Nah, ada salah satu band pecahan Sherbet yang secara movement memberikan kontribusi signifikan untuk pergerakan melodic punk di Jepang pada saat itu, yaitu…

Thumb

via discogs.com

Di saat band-band melodic punk  Jepang di pertengahan tahun 90an mencoba untuk bermain semelodius mungkin dan seharmonis mungkin, Thumb menggebrak scene dengan musik melodic punk-nya yang lebih condong ke elemen hardcore 90an yang heavy. Lagu-lagu mereka jarang ada yang menembus durasi dua menit, semuanya singkat dan padat.

Selain musiknya yang hardcore banget, jargon dan penulisan lirik mereka pun terasa seperti mendengarkan band-band posicore macam 7Seconds atau H2O. Sayangnya, mereka merubah konsep lagunya di awal tahun 2000an dan sepertinya para penggemar mereka kurang suka akan perubahan itu. Namun, apa yang Thumb lakukan di tahun 90an memang menjadi fenomena dan kenangan tersendiri bagi para punk kids di Jepang yang sempat mengalaminya.

Short Circuit

via dokumen istimewa

Di hingar bingar cepat dan intensnya scene melodic punk di Jepang saat itu, sempat ada satu band yang memilih untuk lebih sering bermain poppy dan catchy tanpa keluar dari kancah tersebut. Mereka adalah Short Circuit. Dari secara penampilan pun, mereka jarang banget terlihat berdandan sporty ala penggemar melodic punk pada umumnya. Malah dandanan mereka lebih terlihat seperti band punk Amerika di tahun 90an. You know lah, setelan kaos, jeans lusuh, dan Converse.

Kehadiran Short Circuit di scene melodic punk semacam sebuah angin segar untuk band-band pop punk sejenis. Karena akhirnya band-band yang kurang ngebut jadi punya senpai di scene dan memberikan jalur untuk mereka bisa bermain di lebih banyak acara. Oh iya, Short Circuit, Captain Hedge Hog dan Thumb sempat tur bareng keliling Jepang di tahun 1999.

Husking Bee

via dokumen istimewa

Kayaknya kurang afdol kalau nggak ngomongin Husking Bee di bahasan melodic punk Jepang. Oke, mungkin sekarang musik mereka udah nggak relevan lagi. Karena sekarang mereka malah memainkan midwest emo ala Texas Is The Reason. Tapi musik dan movement mereka waktu masih aktif di zaman melodic punk sedang ramai nggak bisa dilupain, friend.

Husking Bee memainkan melodic punk yang straight forward dengan vokal yang rough. Meskipun pelafalan dan tata bahasa Inggris di lagu-lagunya lumayan kacau, lagu-lagu berhasil Husking Bee menarik perhatian band-band luar negeri di masanya. Mungkin karena selintas, nuansa di lagu-lagu mereka terasa Amerika banget. Bayangin deh, band punk legendaris Screeching Weasel aja sampe nge-cover lagu mereka yang berjudul “Anchor”. Selain lagunya yang keren, mereka juga menginisiasi band-band melodic/pop punk luar negeri untuk bisa tur di Jepang. Jadi selain musiknya keren, Husking Bee memang berjasa untuk geliat scene melodic punk Jepang untuk bisa dikenal secara global.

Dari kelima band ini, mana yang udah pernah kamu denger, friend? Eits, mau ngingetin lagi aja. Bukan maksud ingin merendahkan selera musik secara spesifik, tapi saya rasa nggak ada salahnya untuk mendengarkan musik-musik baru yang bukan berasal dari tren. Siapa tahu musik tersebut bisa menginspirasi dan memberikan khasanah musik baru. Ya ‘nggak?
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button