Rekomendasi 5 Band Emo yang Menggunakan Style Spoken Word Pada Lagu-Lagunya

Jika mendengarkan band-band emo, maka kita berekspektasi untuk mendengar teriakan sang vokalis untuk menyampaikan emosi yang ingin disampaikan melalui lirik yang dinyanyikan. Sehingga mungkin akan terdengar membosankan jika didengarkan berulang-ulang. Tapi sebenarnya, ada banyak variasi eksperimentasi vokal yang bisa digunakan oleh para vokalis. Dari mulai clean vocal, scream, growl, hingga spoken word. Jika ketiga variasi pertama yang saya sebutkan tadi sudah cukup umum digunakan oleh band-band, lain halnya dengan spoken word.

Apabila dibandingkan dengan style vokal lainnya, rasanya tidak terlalu banyak yang mengeksplorasi spoken word untuk menjadi sarana utama sebagai penyampai narasi dari sebuah band. Padahal, menurut saya, penggunaan style yang berasal dari pertunjukan puisi tersebut menjadi sesuatu hal yang menarik untuk digabungkan dengan jenis musik apapun.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya akan memberikan rekomendasi 5 band emo yang menggunakan style spoken word pada karya-karyanya. Mari kita mulai.

La Dispute

via rolingstones.com

Ketika berbicara mengenai band yang menggunakan spoken word pada musiknya, maka banyak orang yang langsung teringat dengan La Dispute. Sebuah band post-hardcore yang telah terbentuk sejak tahun 2004 silam. Perpaduan antara musik menghentak dan enerjik dan vokal yang terdengar seperti membaca puisi jika secara teori mungkin akan menjadi perpaduan yang cukup aneh, tapi La Dispute berhasil memadukannya secara berhasil.

Pada akhir tahun 2000an, bersama Touché Amoré, Pianos Became The Teeth, Defeater, dan Make Do and Mend, mereka dikenal sebagai kelompok bernama ‘The Wave’ yang cukup berpengaruh pada pergerakan scene post-hardcore pada masa tersebut. Sebenarnya hal tersebut bukan ingin memberikan kesan eksklusif atau gimana, istilah tersebut muncul dari bercandaan internal barudak dari kelima band tersebut, lalu kemudian entah gimana ceritanya, bocor ke public. Dan akhirnya mereka terkenal dengan julukan tersebut.

Listener

via idioteq.com

Memproklamirkan diri sebagai band yang mengusung ‘talk-music’, Listener sudah menebarkan racauan sejak 12 tahun yang lalu. Sebenarnya band asal Arkansas ini bermula sebagai sebuah solo project dari Dan Smith, sang vokalis, yang memainkan musik hip-hop. Seiring berjalannya waktu, akhirnya menjadi format full-band seperti saat ini.

Pada awal karirnya setelah menjadi format full-band, Listener memainkan musik yang berputar di sekitar indie-rock, post-rock, bahkan country. Namun, pada album terakhirnya yang dirilis pada tahun 2018 lalu, kuartet tersebut mengubah arah musiknya menjadi lebih agresif dan berdistorsi, dengan aransemen yang terdengar lebih nge-punk.

Hotel Books

via hmmagazine.com

Kalian menyukai nuansa sendu ala post-rock dengan bumbu post-hardcore yang diberi narasi sendu pada komposisi musiknya? Maka Hotel Books adalah sajian yang tepat untuk kalian. Membawakan narasi-narasi personal seperti kekecewaan, patah hati, bahkan soal kepercayaan, Hotel Books siap untuk membawa para pendengarnya pada nuansa kesedihan yang hakiki.

Ketika mendengarkan mereka, kalian akan dipaksa untuk fokus pada racauan yang dibawakan oleh Cameron Smith, sang vokalis, karena aransemen musik yang mereka bawakan pada setiap lagunya tidak terlalu ramai, dan berhasil membawa lagunya pada nuansa yang pas dengan liriknya.

Old Gray

via bandcamp.com

Old Gray merupakan salah satu nama yang cukup menjadi favorit untuk saya masukkan pada playlist harian. Band yang bubar pada tahun 2018 ini membawakan musik yang memiliki energi raw ala band-band screamo seperti pg.99 dan Orchid, namun terkadang juga membawakan sisi yang lebih tenang dengan aransemen ala Explosions In The Sky.

Kombinasi variasi vokal antara teriakan dan spoken word dibuat secara pas, tanpa terasa memaksa. Hal tersebutlah yang saya rasa membuat tidak semua lagu Old Gray memiliki bagian spoken word. Walaupun begitu, saya tetap memasukkan mereka pada list ini karena saya ingin banyak orang yang tahu lebih banyak mengenai band ini.

Treehouses

via bandcamp.com

Tidak seperti band sebelumnya yang membawakan musik yang berfokus pada lingkaran post-rock dan post-hardcore untuk mengiringi spoken word, Treehouses memberikan sesuatu yang berbeda dengan musik indie-rock yang easy-listening. Sebuah komposisi yang menurut saya cukup segar. Bayangkan jika Alvvays berkolaborasi dengan La Dispute, mungkin musik yang dibawakan oleh Treehouses ini adalah hasilnya.

Perpaduan antara nyanyian dan juga spoken word dan teriakan yang mengiringi di belakangnya memberikan sesuatu pengalaman musik yang cukup unik. Kalau nggak percaya, coba deh dengerin single mereka yang berjudul ‘Roses’ berikut.

Gimana friend, rekomendasi dari Rich Music kali ini? Lumayan kan buat jadi alternatif di tengah playlislt kalian yang itu-itu aja? Kalau kamu suka, jangan lupa sebarkan juga ke teman-teman kamu yaa!

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button