Polemik Musik di New Normal: Kapan Konser Streaming Akan Berakhir?

Sudah lama kita bergumam tentang keadaan ini, mengantungkan ketidak pastian terhadap situasi yang melahirkan banyak spekulasi.  Jarak yang dulu bukan masalah kini dibatasi dan harus diamini dengan pasrah.Entah sampai kapan kegilaan ini akan terus berlangsung. Sejatinya mungkin kita hanya perlu membunuh waktu untuk menunggu semua ini membaik dengan sendirinya.

Saya tahu banyak aspek di kehidupan ini terbabat habis oleh the so-called pandemi ini. Tidak cukup dengan ribuan kata saja kalau saya perlu membahas semuanya. Kebetulan saja sekarang saya ingin beropini dalam artikel ini tentang keresahan dangkal terhadap pandemi yang memberikan kebiasaan baru dalam satu-satunya hiburan saya di separuh hidup ini. Yaitu menonton konser musik.

New normal yang dilontarkan sebagai sebuah kebijakan pemerintah ini terkesan usang dan dipandang sebelah mata. Formula kebijakannya kerap terus diperbaharui tanpa solusi yang pasti. Mungkin ada hubungannya dengan demografis kita yang ada di bagian dunia ketiga. Hal-hal seperti pandemi ini malah dijadikan kepentingan personal meraup keuntungan dari buruknya situasi. Ah jangan diambil hati ucapan saya yang itu. Mungkin saya cuma sok tahu saja.

Tidak hanya di Indonesia, konser musik internasional seperti Lollapalooza, Coachella, dan Glastonbury pun akhirnya urung diselanggarakan. Alasannya apalagi kalau bukan aturan ‘suci’ yang terlahir karena situasi ini? Di Indonesia gelaran seperti Hammersonic harus di-reschedule dan Synchronize Festival memilih utntuk melakukan siaran di salah satu stasiun tv nasional. Banyak pula promotor acara yang malah harus refund ticket, seperti Head In The Clouds dari 88Rising dengan berat hati harus di batalkan.

Kini konser daring jadi pilihan aman bagi para pelaku musik. Era yang katanya new normal benar-benar menggeser kebiasaan yang sudah kita pegang semenjak beratus-ratus tahun lalu mengenai konsep sebuah konser musik. Hari ini kita diharuskan untuk mengerjakan dan melakukan semua hal di batasi jarak, ruang dan waktu. Sucks. Tidak hanya skala festival yang menyelanggarakan konser musik secara daring, banyak band yang secara mandiri ikut menggelar gaya daring seperti ini. Band dan audience yang biasanya hanya terhalang oleh barikade panggung, sekarang mereka harus dipisahkan jarak, ruang, dan mungkin juga waktu.

Pengalaman menonton konser daring sudah pasti berbeda. Kedekatan emosi ala konser musik live kini dianggap langka. Tapi, fenomena konser online ini menimbulkan satu pertanyaan di benak saya: apakah orang-orang memang rela mengeluarkan uang untuk tiket menonton festival musik berbasis daring? Mungkin ada saja, tapi saya yakin, nggak bakal sebanyak festival musik yang di gelar seperti biasanya. Soalnya nggak bisa dipungkiri celotehan macam “ah nggak usah beli tiket, nanti juga pasti di-upload kali di Youtube mereka.” Pasti itu mah.

Tapi di luar negeri, band-band dan promotor sudah ramai berbondong-bondong mengeluarkan flyer acara mereka untuk tahun depan. Contoh seperti Primavera Sound. Mereka gagal menghelat acara tersebut di tahun ini. Ketika festival lain menawarkan refund ticket sebagai itikad baik untuk mengganti kekecewaan para penonton, Primavera justru menawarkan line up terbaik sepanjang event yang mereka di gelar untuk 2021. Alhasil bukanya merugi mereka malah menjual habis ticket untuk tahun depan.

Atau Outbreak Fest yang menawarkan Youth Of Today sebagai salah satu pengisi artisnya di perhelatan tahun depan. Seakan menebak pandemi ini akan berakhir dengan cepat. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Hammersonic masih keukeuh dengan keputusannya di tahun depan untuk tetap menyelanggarakan acaranya. Walau jika melihat keadaan hingga saat ini, harapan itu hanya cahaya yang perlahan dibabat habis oleh gelap.

Tetapi banyak juga yang menggelar konser secara langsung dengan penonton di dalamnya, seperti sebuah konser yang disenggarakan di Denmark, di mana untuk menyiasati pandemi, para penonton diwajibkan tetap dalam mobil mereka. Mirip kayak drive-in cinema. Dan salah satu band psychedelic rock asal Amerika, The Flaming Lips yang menggelar konser di salah satu acara stasiun televisi nasional di sana dengan menggunakan bubble pelindung bagi para personel atau penontonnya. Melihat kejadian tersebut, saya pun berpikir memang betul adalanya kalau apapun harus dilakukan untuk tetap bertahan hidup di kondisi new normal ini. Terutama di ranah musik.

Entah siapa yang harus saya salahkan. Apakah memang karena pemerintah yang tidak bisa mengatasi masalah ini, warga yang tidak mematuhi kebijakan, atau saya yang keras kepala mempermasalahkan masalah yang katanya nggak penting-penting amat. Sudahlah, saya harap semua akan membaik dengan sendirinya tanpa campur tangan manusia. Ibu bumi bersama kita semua.

Oleh Reza Ilham

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button