RICH FEATURESRICH OPINION

Polemik Fanbase Musik di Bandung: Emo vs Rock & Roll

Dalam tema #Kontekstualisasikan2008, tentu fenomena “konflik” antar fanbase yang dipicu oleh perbedaan genre  tak luput mewarnai ekosistem musik di Kota Bandung saat itu. Wajar saja, 2008 masih termasuk masa transisi menuju kemutakhiran era internet yang mengakibatkan pandangan terhadap musik masih cenderung sempit dan ruang diskusi secara populis belum terbuka lebar.

Salah satu fenomena gesekan antar fanbase yang cukup terlihat bertubrukan saat itu yaitu era di mana para penggemar rock & roll dan emo seakan menjadi musuh bebuyutan layaknya Tom dan Jerry. Entah apa landasan awal mereka bisa saling mencemoohkan satu sama lain. Era 2005 sampai 2009 kedua musik tersebut seakan tengah menduduki tingkat klasemen tertinggi untuk kelas sidestream di Bandung – atau bahkan mungkin di skala nasional.  Namun kalau dilihat secara kasat mata, memang sepertinya ada dua citra yang kontras di antara orang-orang yang terlibat di lini fanbase tersebut. Sepenglihatan saya, para fans rock & roll biasanya menyiratkan attitude arogan nan ugal-ugalannya, sedangkan emo menebarkan aura yang menye-menye.

Di era itu,  tren musik emo memang datang satu paket bersama identitas fashion-nya – meliputi rambut poni lempar, baju berukuran pas-pasan (tak jarang juga mengenakan t-shirt v-neck), plus dilengkapi dengan sikap dan sudut pandang yang serba depresif. Meskipun punya nilai “keren” tersendiri, konon sepertinya para fans rock & roll tidak sepakat dengan hal tersebut. Padahal, tak dapat dipungkiri itu hanya lah perihal selera.

2000s emo starter pack (via Reddit)

Untuk menguak tabir fenomena tersebut, saya pun memutuskan untuk berbincang dengan punggawa unit emo asal Bandung The Grey Field, Gery yang secara personal sudah lama menggemari dan berkecimpung di tren emo lokal, bahkan sejak di era ketika emo masih dianggap sebagai “tren yang menjijikan” di berbagai golongan pelaku musik di Bandung.

Perbincangan kami pun dilengkapi oleh kehadiran Septian alias Ceplok yang dulu pernah tergabung di satu band bersama Gery yaitu Bombomkart. Uniknya, sebelum mereka bermain di satu band yang sama, keduanya malahan sempat berada di sisi berbeda sebagai fans rock & roll dan emo pada masa pertengahan 2000-an. Ceplok dulunya merupakan Speaker People (nama fanbase dari band rock asal Bandung, Speaker First) garda depan. Lebih dari sekedar memenuhi agenda wawancara, perbincangan sore itu pun sekaligus menjadi taman nostalgia bagi mereka. Cukup banyak cerita yang keluar dari masing-masing mulut seraya mengenang masa-masa  remaja mereka.

Saalah satu film lokal yang menggambarkan kultur rock and roll dalam budaya populer di era 2000-an

Di usia yang masih dalam fase pencarian jati diri itu lah mereka berdua sempat menjadi “rival” akibat kesukaan mereka terhadap musiknya masing-masing. Ceplok mengakui kalau ia juga sempat membenci tren emo meskipun hanya berdasarkan arogansi. “(Saat itu) emang ngerasa paling keren sih,” terangnya. Terlebih di era itu, mengapa rock & roll mulai merambah menjadi musik yang lebih populis karena salah satu lagu Speaker First, “Like a Rolling Stone” sempat jadi OST untuk film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, Gie (2005). Sebagai penggemar, tentu rasanya seperti memilih pilihan yang paling tepat.

Selain menjadi tren (lain) yang tiba-tiba membeludak, emo juga dinilai memiliki kesan berlebihan yang membuat mereka terlihat paling menyedihkan, sengsara atau semacamnya. Hal tersebut mudah terbaca dari segala aspek di sekitar genre musik tersebut. Mulai dari judul lagu, penulisan lirik, bahkan dari nuansa musiknya. Memang jika ditilik-tilik kembali, tren emo benar-benar sebuah gambaran seorang remaja puber yang mulai mencoba menujukan eksistensi dirinya di era itu.

“Zaman itu fans emo dan rock & roll kayak dua gangster yang berbeda aja. Tegangnya kalau saling ketemu tuh kayak gitu.  Bahkan dulu karena di lingkungan rumah banyak anak rock & roll, beli gorengan ke depan aja nggak mau pake merch emo hahaha,” kenang Gery sembari menambahkan, “Bahkan dulu ada slogannya tuh dari anak-anak Speaker People buat anak-anak emo; emo kids is shit! Anjir!”.

Padahal menurut Ceplok yang sering ngintilin Speaker First di era awal-awal, ia mengakui kalau sebenarnya band yang mereka idolakan (atau bahkan band apa pun di era itu) tidak pernah mempermasalahkan perihal perbedaan genre, misal band rock & roll dan emo sekalipun. “Kalau band sih ya enggak musuhan juga, ini sih lebih ke fans aja”. Mungkin fenomena ini tidak jauh berbeda seperti melihat supporter sepak bola antara satu dan lainnya. Kurang lebih seperti itu.

Gery melanjutkan ceritanya, “Dulu juga pernah tuh Jum’atan pake baju Alone At Last di lingkungan rumah (yang kebanyakan anak-anak rock & roll) terus ditegor karena pake merch emo. Malah minggu depannya sampe engak Jumatan lagi”. Lucunya, hal tersebut dilakukan oleh Ceplok, karena mereka saat itu tinggal di lingkungan rumah yang sama. Mengenang hal tersebut, gelak tawa dari mereka pun tak terelakkan.

Sebagai sebuah subkultur yang mulai terdeteksi di era internet dan terhitung baru saat itu, mungkin anak-anak emo kerap dianggap karbitan atau sekedar korban trend shock. Terlebih tahun 2008, musik semisal easycore atau electronicore sudah mulai menyelusup, dari segi fesyen mereka pun tentu akan dianggap anomali karena begitu colorful. Sementara rock and roll mungkin sudah ada sejak tahun ’60-an saat band-band sepeti The Beatles atau The Rolling Stones mulai eksis dan tetap seperti itu dari waktu ke waktu. Ya, hal itu menjadi suatu fenomena yang wajar saja terjadi di era itu.

Salah satu merch band yang paling diminati anak emo era 20008

Meskipun begitu, keduanya mengakui kalau sebenarnya dasar dari “konflik” itu sendiri sebenarnya benar-benar bias. Namun ketika ditanyai mereka menyesal atau tidak pernah menjadi bagian di dalamnya, jawabannya tentu tidak. Mereka lebih suka menjadikannya bagian dari proses pencarian jati diri.

“Kalau nyesel sih mungkin nggak, karena kadang kalau diinget-inget lagi emang seru sih masa-masa itu tuh. Kalau ngga ada masa-masa itu, mungkin urang nggak akan jadi urang yang sekarang”. Jawab Gery, “Nyesel sih emang nggak, cuman ya mungkin masa-masa itu bukan buat diiluangi lagi aja,” tambah Ceplok.

Keduanya yang sempat menjadi bagian dari konflik antar penggemar emo dan rock & roll pun memang tampak tak menyesali penah menjadi bagian di dalamnya. Namun memang jika berbicara hari ini, tentu praktik itu sudah kelewat primitif.  Namun itu justru menjadi keberuntungan tersendiri bagi mereka yang pernah mengalaminya, karena untuk menjadi penggemar musik tertentu, ada sensasi tersendiri yang perlu ditempuh dan tak akan pernah terulang lagi.

Oh iya membahas garis waktu tersebut, kita lagi ada agenda terselubung nih. Rich Music bersama Swan Studio tengah menggarap film layar lebar yang berlatarkan waktu 2008 dan bertemakan musik arus pinggir. Terlebih di sini juga akan banyak menyinggung rock dan metal. Film yang sedang kita bicarakan di sini berjudul Galang dan akan segera tayang akhir tahun ini, friend! So, pantengin terus agar enggak ketinggalan jadwal penayangannya ya!

Back to top button