Panduan Singkat Berburu Harta Karun Rilisan Fisik Di Bandung

Untuk takaran anak kuliahan dengan segala problematika yang saya hadapi, mungkin mendengarkan lagu menjadi salah satu pelarian dari hiruk-pikuk dan kebisingan dunia ini. Ya, itulah bentuk hiburan yang paling gampang sih. Gimana ya, rasanya kalo lagi dengerin musik tuh langsung ilang cape atau stressnya.

Di era sekarang, mungkin platform digital streaming seringkali jadi pilihan paling praktis pas kita mau dengerin atau digging lagu. Contoh gampangnya platform kayak Spotify deh. Siapa sih sekarang yang nggak pake aplikasi ini? Ribuan lagu diunggah setiap harinya di platform ini  dengan pilihan genre yang lengkap. Semua lagu dari berbagai penghujung dunia manapun siap kamu dengarkan di aplikasi ini. Kalo kata temen saya sih, kalau punya spotify tuh kayak ngantongin ratusan juta keping kaset di saku celana kalian dalam sekaligus. Lebay sih ya hehe.

Meski streaming music digital digandrungi secara global, justru demand rilisan fisik sama sekali nggak melemah. Contohnya kayak apa yang terjadi di Amerika. Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA) melaporkan pada paruh pertama 2020 penggemar musik menggelontorkan 232,1 juta dolar AS (Rp 3,4 triliun) untuk piringan hitam pada paruh pertama 2020. Angka ini melebihi angka yang di keluarkan untuk membeli CD sebesar 129,9 juta dolar AS (Rp 1.9 triliun).

Di Indonesia pun tren hype-nya rilisan fisik mungkin sudah berlangsung pada 5 tahun terakhir. Banyak band berlomba-lomba bikin rilisan fisik di era yang katanya lagi digital ini. Toh ternyata masih banyak kok orang yang masih mau menikmati lagu secara analog. Alasannya sih kalo di tanya banyak banget hal yang nggak didapetin kalau cuma denger format digital. Selain itu, ada yang ngerasa pengalaman dengerin lagu itu kerasa lebih sentimental kalau dengerin format kaset atau piringan hitam.

Merambahnya tren rilisan fisik ini bisa jadi salah satu pelatuk yang bikin menjamurnya kehadiran record store di Indonesia, termasuk kota domisili saya yakni Bandung. Nama-nama seperti KeepKeep dan Collect mungkin udah nggak asing lagi sebagai beberapa household name kalau lagi ngebahas record store yang lokasinya di Bandung. Mungkin karena tempatnya yang instagramable, bukan karena koleksi rilisan-rilisan fisiknya. Meureun ya.

Kalau dipikir-pikir, sebenernya masih banyak tempat buat digging rilisan fisik di Bandung. Mungkin karena lokasinya yang terkesan ‘nyempil’ dan eksposurnya kurang banyak, lokasi-lokasi lapak rilisan fisik ini masih terkesan antah berantah buat beberapa orang, apalagi buat orang yang domisilinya di luar Bandung. Padahal koleksi rilisan yang mereka punya nggak kalah ajaib nan sakti dibanding sama toko-toko yang pamornya udah terkenal duluan. Nih coba saya kasih tahu beberapa yang nama-nama tempat hunting rilisan fisik yang legendaris di Bandung. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang mau mulai ngoleksi rilisan fisik.

Sejak tahun 1980-an sampai sekarang, kios-kios musik di Cihapit masih menjadi pilihan untuk urusan kaset pita. Beberapa tahun yang lalu malah salah satu teman saya dapet keajaiban, dia berhasil dapet kaset Guruh Gypsy di loakan daerah Cihapit. Gila tuh, harta karun musik banget ‘kan?! Nah, coba kamu digging di sana deh. Meski kelihatannya kayak deretan loakan biasa aja, daerah Cihapit ini bisa jadi tujuan kamu untuk digging rilisan fisik secara komprehensif dan tentunya, dengan berbagai kejutan yang bakal kamu temui.

Instagram @setyawanboni

Lalu ada D.U 68 MUSIK yang terletak di jalan Dipatiukur. Mulai dari piringan hitam, kaset pita sampai CD lengkap tersedia di sini. Semuanya tertata rapi di etalase dan disusun sesuai abjad, nama dan genre. Malah ada beberapa rilisan yang masih sealed. Saya cukup beruntung di sini karena pernah dapat piringan hitam dari unit Surf rock asal Amerika, The Ventures dan LP dari kuartet Shoegaze asal Bandung, The Milo. Dengan lokasi yang terletak nggak jauh dari pusat kota Bandung, DU 6.8 sedikiti menepis stereotip bahwa harta karun nggak selalu selamanya dikubur di tengah hutan atau di ujung pulau antah berantah.

Via Pikiran Rakyat

Tempat lain yang harus kamu kunjungi adalah pasar antik Cikapundung. Di sini belasan sampai puluhan toko antik bakalan menyambut kalian. Mungkin kalo digging secara khusuk, bisa-bisa kamu seharian stuck di sana. Banyak banget rilisan piringan hitam di sini umurnya udah ngelebihin kake dan nene kalian. Antik brow! Beberapa rilisan yang saya dapat di sini antara lain album dari unit Shoegaze Amrik, RIDE dan My Bloody Valentine. Nggak nyesel deh kalo kalian digging di sana sampe nginep.

Instagram @imthedarkestsoul

Balubur Square (Baltos) mungkin lebih terkenal sebagai tempat anak kuliahan beli perlengkapan ngampus, tapi kalau kalian susurin tangga dari bawah sampe atas lebih detail, kalian bakal ngeuh kalo di deretan toko itu banyak nyempil record store yang nggak kalah gila koleksinya. Deretan rilisan piringan band punk, alternative rock hingga hardcore bisa kamu temui keberadaanya di sini. Saran saya sih, mending siapin fisik kamu sebelum digging di sini, soalnya kalian pasti digging di tengah kerumunan ibu-ibu dan anak kuliahan yang mondar-mandir.

Nah itu beberapa rekomendasi tempat yang saya biasa kunjungi. Mungkin daftar di atas bisa membantumu yang baru ingin memulai mengoleksi piringan hitam, kaset pita atau CD. Semoga membantu ya!

*Ditulis oleh Reza Ilham.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Back to top button