Meski Sekarang Lebih Dikenal Bawain Emo, Band-Band Ini Malahan dulunya Nge-Punk Banget

Yang namanya pendewasaan musik itu sering banget terjadi di berbagai band. Prosesnya macem-macem, friend. Ada yang lewat penampilan atau dandanan bandnya. Contohnya kayak ada suatu band yang di awal kemunculan mereka, dandanan mereka slengean dan kucel banget tapi lambat laun dandanannya mulai rapi dan dandy. Ada juga yang ngelakuin pendewasaannya lewat perubahan musik yang dimainkan. Nah kalau konteksnya musik, banyak banget contohnya yang ini mah. Kayak Green Day yang awalnya mainin pop punk geber banget, di album-album yang sekarang mulai eksplor ke aransemen yang lebih modern. Biasanya gitu sih, friend.

Selain Green Day, banyak kok band-band yang mengambil langkah yang sama dalam melakukan “pendewasaan” musik. Dan itulah yang akan saya bahas di tulisan kali ini, saya bakalan ngebahas beberapa band yang awalnya terkenal karena bawain musik yang nge-punk banget, sekarang mereka malah lebih identik sebagai band emo. Bodor nggak sih, friend? Oke, nggak perlu lama-lama lagi, check out the list here!

The Ataris

via bandcamp.com

Kita mulai daftar ini sama satu band yang beneran ngalamin fase punk rock yang banting setir ke emo, deh. Yap, mereka adalah The Ataris. Band asal Amrik ini awalnya lebih dikenal sebagai band punk rock yang geber ala The Vandals dan Diesel Boy. Terus tiba-tiba di tahun 2003 pas mereka rilis album So Long, Astoria, sound mereka terasa lebih midwest emo dengan tempo yang lebih cepet. Nggak cuma secara musik, dandanan bandnya juga mayan jadi emo banget pas album itu rilis. FYI, tren kemeja item dan dasi merah sebenernya dipopulerin sama mereka duluan lho, bukan sama My Chemical Romance atau Green Day.

Fall Out Boy

Oke, mungkin hari ini beberapa orang masih ada yang nganggap Fall Out Boy sebagai band pop punk. Tapi emang bener kok, pada awalnya mereka emang band pop punk tulen. Sebelum vokal Patrick Stump jadi becek nggak jelas kayak sekarang. Fall Out Boy yang dibentuk tahun 2001 dulunya lebih terkenal sebagai salah satu penerus gerakan pop punk di Chicago. Mereka sering manggung sama band-band pop punk/punk rock underground di zaman itu. Tapi ya semua itu berubah setelah negara api menyerang mereka masuk label mayor dan merilis album debut mayor mereka From The Under Cork Tree. Meski beberapa lagu di album itu terdengar bernuansa pop punk modern, tapi lewat album itu jugalah mereka mulai disebut sebagai band emo. Mungkin karena dandanan Pete Wentz yang emo banget kali ya.

AFI

Ini A Fire Inside ya, friend. Bukan Akademi Fantasi Ind*siar. Plis. Band asal Californa, Amrik ini dulu terkenal sebagai band horror punk ala Misfits. Malah beberapa lagunya nyerempet ke hardcore punk. Cuma benih-benih emo emang udah kelihatan banget dari dandanan mereka di awal karirnya. Vokalis Davey Havok emang udah sering berdandan ala anak ke666elapan, lengkap dengan eyeliner dan cat kuku warna hitamnya.

Kayaknya lambat laun benih emo di AFI makin kuat dan menguasai diri mereka, friend.  Di album Sing The Sorrow yang dirilis di tahun 2003, sound mereka jauh banget dari punk akhirnya. Ada sih yang ngebut, tapi it’s just not like what they used to do. Belum lagi hit single mereka dari album itu “Silver And Cold” itu udah fix emo banget.

Saves The Day

Pada nyangka nggak kalau band emo yang vokalisnya punya suara imut ini dulunya band melodic hardcore ala Lifetime dan Gorilla Biscuits? Gila ‘kan? Saves The Day dulu lebih dikenal sebagai band melodic hardcore yang vokalisnya masih remaja. Dua album mereka sebelum masuk mayor, Can’t Slow Down dan Through Being Cool sama-sama bernuansa melodic hardcore dengan vokal yang nggak gruffy. Nah baru deh di album Stay Where You Are mereka mulai sukses lewat single mereka “At Your Funeral”. Tapi Saves The Day nggak begitu aja lupa daratan pas mereka udah sukses sekarang,  mereka sempet main dua kali di festival musik hardcore terbesar di Amerika yakni This Is Hardcore. Penonton pun antusias banget dengan kehadiran mereka di festival tersebut. Talking about not forgetting your roots!

Nah gimana friend? Masih ada nggak band-band lain yang melakukan “pendewasaan” kayak mereka? Nggak masalah kok kalau merubah genre kalau memang karena hal itu dilakukan untuk penyegaran. Ya mungkin bakal ada beberapa kompromi yang perlu dipikirin, just don’t forget what music real means. Asekkk.  

Related Articles

Back to top button