Mengingat Insomniac: Album Balas Dendam Yang Penuh Agresi Dari Green Day

Call me a snob or anything, saya selalu menobatkan album Insomniac dari Green Day sebagai album terbaik mereka sepanjang masa. Bodo amat sebagus apa Dookie atau bahkan Kerplunk, Insomniac adalah album major-sophomore yang keren banget, layaknya album In Utero milik Nirvana dan Pinkerton dari Weezer. Nah, ada yang unik soal album-album major-sophomore tersebut, semuanya punya narasi tentang kejujuran dan kelelahan setelah ‘sellout’ secara bisnis. Contohnya kayak lagu-lagu di Pinkerton yang menggambarkan ruwetnya pikiran Rivers Cuomo ketika menghadapi publik yang terlanjut melabeli Rivers sebagai rockstar. Kalau kamu menyimak lebih seksama Insomniac, keresahan tersebut juga sama-sama dikemukakan oleh Billie Joe lewat lagu-lagunya. Malahan dengan tingkat agresi dan emosi yang lebih tinggi.

Tekanan eksekutif label mayor yang dihadapi Green Day di tahun 1995 buat bikin album baru yang sebagus Dookie malahan Green Day jadiin sebagai emotional outlet sekaligus protes di Insomniac. Mulai dari track pembuka “Armatage Shanks” sampai lagu penutup “Walking Contradiction”, semuanya punya nuansa ngambek yang kentara di setiap lagunya. Ambil contoh lagu “Stuck With Me” yang memaparkan isi pikiran Billie Joe yang merasa nggak peduli lagi kalau dia bukan bagian dari “punk rock elite” lagi sejak Green Day memutuskan untuk dikontrak label mayor. Atau lagu “86” yang isinya sindiran sarkas terhadap komunitas dan venue punk legendaris di California, 924 Gilman Street, yang menolak kehadiran Green Day kalau lagi berkunjung ke sana. Bahkan sampai keresahan personal yang dirasakan Billie Joe pun terekspos di lagu-lagu seperti “Brain Stew”, “Panic Song”, dan “Jaded”. Full blown raging album indeed.

via stitchandgrooves.wordpress

Tapi seluruh keunggulan dan relatable content yang ada di Insomniac berimbas terbalik dengan aspek bisnisnya. Album tersebut nggak terlalu sukses di pasaran. Ada yang bilang kalau nuansa lirik dan lagu di Insomniac terlalu nihilistik dan muram dan sebenernya kalau dipikir-pikir nggak salah juga. Ada juga yang bilang kalau penggarapan sound di Insomniac terlalu rough untuk kuping mainstream, mirip kayak kasus In Utero di mana publik nggak suka sound albumnya yang lebih ‘megah’. Secara artwork album, Insomniac memang terasa lebih punk dan mentah. Karya kolase cover album tersebut seperti menggambarkan kekacauan yang terjadi pada pikiran manusia. Konon kabarnya artwork itu adalah sebuah alusi terhadap kondisi mental dan pikiran Billie Joe ketika waktu menggarap Insomniac sedang tidak stabil. Kalau mau dirangkum sih, Insomniac ini semacam ajang balas dendam Green Day. Mereka melawan semua opini dari berbagai segmen pendengar yang menghakimi ini itu terhadap langkah Green Day yang so-called sell out. Jadi ya kagok edan kali ya, makanya dari sound dan artwork emang dibikin semarah dan se-punk mungkin.

You know what I think? Screw those opinion and review. Insomniac adalah album mahakarya dari Green Day yang dirilis di waktu dan kesempatan yang tepat. Green Day memanfaatkan fasilitas label mayor maksimal yang bisa mereka dapatkan di saat puncak karir mereka. Mereka bisa bikin artwork yang mereka pengin, sound yang mereka mau, tanpa ada ganggu gugat yang terlalu signifikan dari pihak label. Karena ya, Green Day lagi laku banget di masa itu. Masa iya pihak label mau ngatur salah satu talent yang lagi gencar-gencarnya jadi pencetak uang buat perusahaannya? That’s punk as fukk!

Seharusnya para fans Green Day lama dan bahkan yang baru pun harus bisa lebih mengapresiasi Insomniac. Album ini adalah punk rock magnum opus dengan bentuk yang lebih bersahabat. Mungkin cara penggarapan album dari segi penulisan lagu, penggarapan audio, bahkan konsep artwork Insomniac bisa dijadikan preferensi yang tepat bagi para band-band muda untuk membuat karya punk rock yang keren tanpa harus menginjakkan kaki di satu sisi saja. Kasarnya, di sisi pasar masih tetap bersahabat tapi secara attitude dan nuansa tetap punk.

Anyway, Insomniac baru saja berulang tahun yang ke-25 tahun dua hari yang lalu. Untuk merayakannya, Green Day pun merilis ulang album tersebut dalam format vinyl berwarna oranye dan juga beberapa cetakan ulang kaos-kaos dengan desain tur mereka di era album tersebut. Not a bad way to celebrate the best 21st century major punk rock album. Selamat ulang tahun, Insomniac.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button