Mending Nulis Lirik Lagu Bahasa Indonesia atau Inggris Ya?

Pertanyaan yang selalu enigmatis. Apalagi buat para musisi yang lagi mencari formula yang pas buat nyari arah mau dibawa kemana musik yang dia mainin. Sebenernya sih sah-sah aja mau pake bahasa apa juga, namanya juga berkarya. Tapi menurut sebuah penelitian linguistik, biasanya seseorang berbicara menggunakan bahasa tertentu ada motif dan tendensi di baliknya. Entah memang karena kepentingan komunikasi untuk menjembatani konteks antara dua pihak atau pun memang ada tendensi lainnya diluar aspek komunikasi doang.

Nah, kalau di ranah musik bahasan kayak gini biasanya mengerucut ke perspektif dari sudut pandang musisi daripada pendengarnya. Karena pada dasarnya, banyak pendengar musik punya tendensi untuk tetap akan mendengarkan musik tanpa peduli terhadap susunan diksi pada bagian liriknya. Terutama untuk lagu-lagu yang berbahasa asing. Ya kasarnya, kalau lagunya enak ya pasti didengerin.

Dari sudut pandang musisi, lirik seringkali dianggap sebagai satu bagian krusial dari sebuah karya musik. Mungkin aturan itu nggak berarti apa-apa untuk seorang komposer musik instrumental. Tapi kalau dari saya pribadi sih bakalan tetep memegang teguh prinsip dari alm. Yockie Suryoprayogo mengenai kehadiran lirik dan nyanyian dalam musik. Beliau menganggap bahwa lirik adalah bagian terpenting dari musik yang bisa merangsang aspek theater of mind bagi para pendengarnya. Baginya musik tanpa lirik itu seperti ada yang kurang, malahan tidak memberikan impresi yang berkesan bagi dia sendiri. Dan jujur, saya sepemahaman dengan beliau dan itulah sebabnya saya menulis tulisan ini.

Kembali ke pembahasan lirik, saya rasa banyak band atau musisi di Indonesia dari berbagai kancah mempunya tendensi masing-masing dalam penulisan liriknya. Kalau urusan tema mah bebas kali ya. Tapi saya rasa ada yang menarik dari pemilihan bahasa di penulisan lirik di beberapa karya musisi Indonesia. Ada fenomena dimana band-band dari beberapa genre spesifik lebih memilih untuk menulis lagu mereka dalam bahasa Inggris. Contohnya kayak di punk, metal, dan emo. Tiga genre itu emang lekat dengan citra lirik lagu berbahasa Inggris. Mungkin salah satu faktornya terdapat di besarnya pengaruh influence band-band household dari genre tersebut yang berasal dari English-speaking countries. Secara sadar maupun subliminal, band-band lokal yang memainkan musk tersebut bisa saja berpikir kalau musik tersebut lebih terasa “asyik” kalau dinyanyikan dalam bahasa Inggris.

Ada pun tendensi dimana band-band lokal menggunakan lirik bahasa Inggris sebagai upaya untuk mendapatkan kisaran pendengar musik mereka di skala internasional. Bukan rahasia bahwa bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa internasional yang digunakan sebagai jembatan komunikasi di hampir semua negara di dunia. Apalagi dengan akses musik yang semakin mudah melalui moda digital di zaman sekarang. Seua orang dari berbagai penjuru dunia mungkin kalau suratan takdirnya tepat, bisa saja mendengarkan lagu-lagu asal musisi Indonesia. Dan mungkin saja kelak akan menjadi penggemar loyal musisi tersebut karena lirik lagu bahasa Inggrisnya yang jadi bikin relatable.

Di sisi lain, masih banyak musisi lokal dari genre cutting-edge yang tetap merasa bahwa kesuksesan itu harus diraih di skala yang terdekat terlebih dahulu. Konteksnya tentu adalah skala nasional. Oleh sebab itu, banyak musisi lokal yang bersikukuh dan bahkan mencoba keras untuk menulis lirik berbahasa Indonesia. Tapi kalau ngomongin di genre punk, metal, dan emo, ada beberapa musisi yang beranggapan bahwa menulis lirik lagu dalam bahasa Indonesia itu sulit dan terdengar “nggak pas” di dalam alunan melodi lagunya. Ada yang merasa bahasa Inggris itu secara diksi dan struktur lebih pas untuk genre-genre musik tersebut. Ada juga yang beranggapan bahwa bahasa Indonesia terlalu picisan untuk digunakan sebagai lirik lagu di beberapa genre musik cutting-edge.

Tapi sebetulnya, penggunaan lirik bahasa Indonesia bisa saja menjadi efektif untuk genre musik tersebut. Ambil contoh Morfem dan Kebunku. Dua band tersebut terkenal dengan memainkan musik yang bernuansa international rock tapi tetap menggunakan lirik bahasa Indonesia. Tapi dengan penggunaan pilihan kata dan narasi yang tepat, lagu-lagu mereka memang terasa keren banget. Namun kalau berbicara skala kisaran pendengarnya yang sudah bisa menembus kancah internasional, dua band tersebut memang belum ada pemberitaan mengenai hal tersebut. Kembali lagi, mungkin tendensi kedua band tersebut memang mengutamakan untuk menjaring pendengar di kancah lokal.

Sebetulnya nggak ada yang salah mau menggunakan bahasa apa pun sebagai lirik lagu, mungkin yang bisa diperhatikan adalah tujuan awal proyeksi dari karyanya. Apakah memang mau mencoba untuk mendapatkan pendengar lokal terlebih dahulu atau memang ingin mengincar pasar luar negeri. Oke, mungkin the power of the song tetap akan menjadi kuncian utama sebuah karya bisa sukses, tapi lirik adalah nyawa dari sebuah karya lagu. Lirik adalah cerminan identitas sang musisi dan juga narasi yang ingin disampaikan kepada para pendengarnya. Pilihan penggunaan bahasa tetap kembali menjadi pilihan nyaman sang seniman agar bisa menjadi soul messenger terhadap penikmatnya. Apapun tendensi dan pilihan bahasanya, yang penting adalah berkarya dengan jujur. Mau dimana pun incaran pendengarnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button