Mencari Penyebab Pudarnya Pamor Metalcore Saat Ini

Share to:

Mari kita memulai tulisan ini dengan mengingat beberapa nama yang dilabeli sebagai metalcore. Parkway Drive, August Burns Red, atau Killswitch Engage, mungkin tak luput dari isi daftar putar kalian di medio 2010an (atau bahkan sampai saat ini). Bagaimana metalcore bekerja secara musikal pada saat itu memang suatu yang menjangkit telinga terus-menerus untuk mendengarkannya sembari mempraktikan gaya headbang sampai leher putus.

Bagaimana ya saya coba untuk meyimpulkannya? Kasarnya, saat itu metal merupakan konsumsi wajib. Namun, bukan metal yang terkesan ‘konservatif’ (dibaca: sebenarnya), kali ini hadir dengan gaya lebih nge-pop. Entah itu suguhan musikalnya yang melodius ataupun seringkali menyelipkan clean vocal di tengah-tengah musik. Sejujurnya agak menggelikan, tapi ya gimana lagi? Beberapa dari karya yang mereka memang nyaman untuk didengar.

Di era 2010an, dengan munculnya istilah metalcore, metal menjadi elemen yang dapat dikonsumsi khalayak dengan cakupan lebih luas. Lihat bagaimana Bring Me The Horizon bahkan menjadi konsumsi massal. Siapa yang tak mengenal sosok Olyver Sykes? Bahkan torehan album Sempiternal (album terakhir mereka yang saya dengarkan) terus bergaung sampai saat ini. Tak sedikit yang masih menjadi pemuja tetap “Sleepwalking” atau “Shadow Moses” sampai hari ini.

Bring Me The Horzion (pixelstalk.net)

Saya akui, musik-musik yang disuguhkan di bawah bendera metalcore memang mengesankan. Terlebih secara teknikal, nampak bukan diisi oleh orang-orang dengan skill main musik yang standar. Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum era kejayaan metalcore dimulai, pada awal dekade tahun 2010an, gaya bermusik seperti ini dilahirkan oleh berbagai nama yang (mungkin) tidak terlalu masif kedengarannya.

Jika coba menoleh ke belakang, nama-nama semisal Poison the Well, Misery Signals atau Shai Hulud sudah lebih dulu memainkan musik metal yang di kemudian hari disebut sebagai metalcore. Entah bagaimana awalnya musik mereka mulai bermetamorfosis menjadi metalcore yang kita kenal saat ini. Namun, saya tak dapat menyangkal jika eksplorasi musik terus berkembang, entah itu ke arah yang norak atau apik sekalipun.

Berbeda dengan aliran metal yang jauh lebih kolot dalam menyuarakan musik ekstrem sehingga terdengar sebagai sebuah bentuk ‘kultus’, kebanyakan dari musik-musik metalcore bersuara mengenai kondisi yang lebih personal sehingga membuatnya agak beririsan dengan emo.

Poison The Well (jonnyrocksite.blogspot.com)

Hari ini, gaya bermusik metalcore sudah banyak beralih menjadi jauh lebih nge-pop dibanding sebelumnya. Tak sedikit dari mereka yang dipicu oleh pendewasaan, atau tergerus zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu menjadikan gaya bermusik ini bukan lagi sesuatu yang mesti dipertahankan.  Agaknya, memang terkesan kuno.

Namun, saya pribadi merupakan orang yang terjebak di dalamnya. Masih sering meromantisasi karya-karya lama demi membawa kembali ingatan ke era di mana metalcore merupakan konsumsi wajib saat itu. Pertanyaan saya kali ini, mengapa populasi metalcore terus terkikis? Karena saya sendiri merupakan seorang yang kurang setuju jika musik disebut sebagai produk yang dapat basi. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwasanya taraf dari metalcore sendiri yang agak rancu.

Sebetulnya saya sendiri cukup bertanya-tanya bagaimana arus ini terus melaju sehingga menghasilkan band-band semisal Memphis May Fire atau Issues. Memoar yang masih melekat hanya bagaimana Bring Me The Horizon menggiring metalcore kepada sesuatu yang lebih gore (dari segi cover) lewat Suicide Season (2008) dan menjadikan gaya berpakaiannya sebagai kostum wajib anak ‘metalcore’ saat itu.

Kita coba lihat dalam kacamata hari ini. metalcore tak lebih hanya sebagai bahan guyonan akibat pamornya yang cukup melejit di tahun 2010an. Merupakan akar dari lahirnya bermacam-macam aliran yang cukup terdengar menggelikan seperti crunkcore atau crabcore, mungkin dapat menjadi salah satu faktornya. Walaupun pada saat itu, mungkin genre-genre semisal cukup mendapatkan atensi lebih hingga dapat terus berkembang dan sampai akhirnya tiba di masa semua itu merupakan sesuatu yang lebay.

Tak ada yang tersisa dari metalcore untuk diharapkan. Etos dari metalcore sendiri yang tak terakurasi dan mungkin dapat dituangkan lewat berbagai medium menjadikan para penganutnya berpencar. Seakan kehilangan arah, bahkan saat ini pun saya tak dapat lagi menemukan nama-nama baru yang membawa kiprah bagi metalcore agar dapat dikatakan “belum sepenuhnya mati”.

Jika kita coba untuk memperbincangkan bagaimana tren yang berlaku saat ini, mungkin musikalitas metalcore akan dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman. Masanya sudah lewat. Medio 2010an awal mungkin menjadi tahun keemasannya dan sebagaimana kita tahu, waktu terus berjalan tanpa dapat kita tarik kembali. Maka dari itu, dengan sangat berat hati saya dapat katakan meromantisasinya dengan terus mendengarkan karya-karya lamanya menjadi mesin waktu untuk bernostalgia seakan waktu tak pernah berjalan.

Ditulis oleh Ilham Fadhilah