Memperingati 16 Tahun Album Fenomenal My Chemical Romance, Three Cheers For Sweet Revenge

Tahun itu adalah tahun 2004. Stasiun radio masih berjaya dan MTV masih bisa ditonton lewat stasiun televisi swasta. Berbicara tentang MTV, mungkin untuk kamu si penyuka musik yang tumbuh di tenggang waktu ini akan ingat beberapa video klip yang sempat diputar secara masif di stasiun tersebut. Seingat kami, video-video band pop punk dan alternative rock luar negeri sedang lumayan sering diputar waktu itu. Salah satu band yang sering muncul adalah My Chemical Romance dengan lagu yang membuat nama mereka melejit di Indonesia, Helena.

Bukan tanpa alasan kenapa video klip band emo – yang padahal udah keren banget tapi malah merubah sound-nya menjadi rock generik di karya-karyanya yang terakhir– asal New Jersey, Amerika Serikat ini sering diputar di MTV, karena mereka baru saja merilis album mayor label perdananya yang berjudul Three Cheers For Sweet Revenge lewat label Reprise Records. Seiring seringnya video klip tersebut diputar, airplay lagu Helena pun turut meroket di banyak stasiun radio. Walhasil, banyak orang mulai keranjingan musik emo melalui perkenalannya dengan My Chemical Romance. Tidak cuma Helena, single-single lainnya pun terbilang sukses menjadi salah satu isi playlist wajib bagi para pemilik MP3 player atau telepon seluler Nokia N-Gage yang memiliki fitur pemutar musik – yang musiknya harus di-compress dan malah mendep pas didengerin. Bisa dibilang, berkat rilisnya album Three Cheers For Sweet Revenge ini, My Chemical Romance mendapatkan eksposur luar biasa secara global. Ya, termasuk di Indonesia.

Oke, kalau dari kualitas lagu-lagu single-nya, Three Cheers For Sweet Revenge sudah bisa diakui keren. Lantas, apakah ada daya tarik lain yang membuat album yang konon dikerjakan oleh para personilnya sambil menonton video porno dan film A Clockwork Orange tersebut keren? Tentu saja ada. Salah satu hal yang menarik adalah konsep penulisan lagunya yang konseptual dan sedikit melenceng dari akar emo yang mereka biasa mainkan.

Pada album independen mereka sebelumnya yang bertajuk, I Brought You My Bullets, You Brought Me Your Love, My Chemical Romance menggabungkan konsep penulisan lirik mereka yang menjurus ke horror ke topik generik lagu emo semacam patah hati atau kegalauan seseorang. Hal tersebut dianggap menarik oleh banyak kritik musik pada waktu itu dan terbukti di Three Cheers For Sweet Revenge, mereka menyempurnakan konsep tersebut. Coba deh dengerin lagu “Give ‘Em Hell, Kid” yang angsty sekaligus detail banget ketika Gerard Way (vokalis) menceritakan tokoh di lagunya yang akan berangkat dari New Orleans untuk membalas dendam kematian kekasihnya. Atau “To The End” yang menceritakan pembunuhan di sebuah pesta megah di dalam sebuah istana. Narasinya unik, friend.

via gettyimages.com

Selain dari sisi penulisan lirik, Three Cheers For Sweet Revenge memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi para pendengar musik awam yang baru berkenalan dengan emo. Tipikal formula lagu emo yang biasanya identik dengan vokal scream dan bagian-bagian breakdown yang selalu hadir di lagunya justru tidak diimplementasikan oleh My Chemical Romance pada album tersebut. Mereka malah bermain lebih pop punk dan sedikit nyerempet ke alternative rock. Contoh yang paling gamblang ada di lagu hits mereka, I’m Not Okay yang dari pola lagunya hampir 80% didominasi oleh progresi akor yang sangat pop punk dan sedikit eksperimen dengan lick solo gitar ala classic rock pada bagian bridge-nya. Helena pun terasa lebih punk dibanding lagu emo sebetulnya. Sebuah konsep yang waktu itu jarang ditemukan di sebuah band emo.

My Chemical Romance berhasil menjadi lebih sukses dibandingkan band-band koleganya dengan berani untuk mencoba mengaplikasikan fantasi mereka ke dalam karya-karyanya tanpa harus menjadi medioker. Lewat Three Cheers For Sweet Revenge, mereka benar berhasil untuk balas dendam untuk menjadi sukses. Oh, dan juga sukses membuat banyak usaha konveksi laris karena banyaknya permintaan untuk menjahit setelan kemeja hitam yang akan dikombinasikan dengan dasi merah oleh para remaja tanggung untuk acara perpisahan sekolah mereka atau hanya sekedar berfoto ria dengan poni lempar extension-nya.

Oh tentunya, tidak lupa kami ucapkan terima kasih My Chemical Romance sudah membuat Three Cheers For Sweet Revenge yang telah menjadi soundtrack wajib untuk fase emo banyak orang!

via twitter.com/emilyxoanna

Related Articles

Back to top button