Memahami Logo-logo Rumit dari Musisi Black Metal Dunia

Logo atau font penting sekali perannya untuk sebuah band. Selain untuk membuat nama band jadi mudah dikenal, logo seringkali dijadikan sebagai identitas dan gimik tersendiri bagi sebuah band.

Makanya, banyak band yang sering berganti logo atau malah menghabiskan banyak waktu untuk membuat logo dengan tujuan logonya tersebut mudah dikenali oleh banyak orang.

Tapi sepertinya konsep logo band yang disebutkan di atas enggak berlaku untuk kebanyakan band black metal di dunia. Coba deh, kamu pasti pernah lihat logo-logo band black metal yang susah dibaca dan malah lebih mirip akar pohon yang sudah berumur ratusan tahun.

Usut punya usut, alasan band-band tersebut untuk membuat logo bandnya rumit yaitu untuk membuat musik yang mereka mainkan tetap ekslusif. Jadi, musik dan kancah musiknya tetap “bersih” dari jangkauan orang luar. Hmmm, emang perlu sampai segitunya untuk menjadi pendengar black metal yang sahih? Referensi: Inside The World Of Extreme Metal Logos

Karena penasaran, kami menantang tiga orang yang berprofesi di bidang musik dan seni buat cobain baca logo-logo band black metal yang ‘njlimet’ dan memberikan komentar mereka soal logo band unik tersebut. Mereka adalah Aska (Rocket Rockers, musisi), Altop (Seniman asal Bandung), dan Jimi (The Upstairs, musisi sekaligus seniman). Langsung aja disimak nih respon mereka!

Logo #1

Aska: “Mayhem. Nggak terlalu susah. Soalnya namanya sama kayak clothing di Bali yang sering kita kunjungi.”

Altop: “Mad Ham. Mad Hem. Mayhem ya? Pernah lihat nih kalo yang ini. Enggak terlalu asing. Lebih mudah dibaca juga.”

Jimi: “Mayhem.  Gampang dibaca nih. Tapi sebenernya aman dibaca cuma sampe “May” doang. Huruf H dan E bikin bingung.”

Logo #2

Aska: “Emperor. Sebagai fans Dash Emperor pasti langsung kebaca.”

Sebagai informasi nih, Dash Emperor adalah salah satu jenis mainan 4-wheel drive asal Jepang. Enggak ada hubungannya sama musik juga sebetulnya.

Altop: “Emperor nih. Ornamen di hurufnya dikit, jadi gampang kebaca. Buat orang-orang awam bakalan susah baca, tapi kayaknya kalau anak metal atau anak graffiti bisa baca lah. Desainer minimal hahaha.”

Jimi: “Emperor. Gampang kalo ini hahaha. Basic-nya masih keliatan kayak Metallica.”

Logo #3

Aska: “Apaan ini? Chopper Alien? Hahaha. Susah banget. Ujung font-nya kayak senjata Kujang. Bikin bingung.”

Altop: “Asemmm nggak bisa baca gue! Flow font-nya bagus padahal tapi nggak kebaca haha.”

Jimi: “Mulai brutal nih. Nggak bisa baca gue. Mana ada gambar bulan sabitnya lagi.”

Nah, kan. Ketiganya nampak menyerah. Padahal, Ini logo milik band Nightbringer

Logo #4

Aska: “Anjir ini mah udah bukan akar lagi, tapi bagian terdalam serabut akarnya. Malah lebih mirip serbuk sari.”

Altop: “Buset apalagi ini. Banyak banget rambutnya. Dibaca “kehed” kali ya hahaha.”

Jimi: “Ampun gila. Ini beneran akar pohon di kala hujan.”

Lagi-lagi mereka menyerah! Padahal, ini adalah logo milik band Senthil.

Ternyata, hanya dua logo band yang bisa ditebak oleh masing-masing orang di tantangan ini. Rasanya, ya memang susah untuk menebak logo yang sudah menuju ke seni abstrak tersebut. Namun dari sudut pandang seniman, Altop berkomentar, masing-masing jenis kelompok itu memiliki caranya tersendiri dalam membuat dan menampilkan identitasnya masing-masing tanpa harus menerima penilaian dari kelompok lain.

“Jadi mungkin untuk urusan band-band ini, supaya jadi pembeda unik aja di antara genre-genre lain,” ujarnya.

Sedangkan dari sudut pandang musisi, Jimi dan Aska punya pendapat lainnih.

“Kalau buat marketing sih sulit nih. Tapi kalau tujuannya buat tetep jadi segmented ya bagus-bagus aja,” ucap Jimi.

“(Bagus-bagus saja), selama tujuannya masih di ranah musik dan seni,” tambah Aska.

Pada akhirnya, musisi atau seniman tersebut sendirilah yang bisa mengetahui maksud dan tujuan karya seni tersebut dibuat. Tujuannya beragam, ya. Mungkin, maksud dan tujuannya memang untuk mencari penonton atau pendengar baru atau hanya sekedar ingin menghasilkan karya untuk beberapa golongan orang.

Ngomong-ngomong, kalian setuju juga enggak sama pendapat ketiga narasumber kita?

Leave a Reply

Back to top button