Mau Joged Sambil Headbang? Nih 5 Rekomendasi Album Electronicore Yang Asyik!

Mungkin banyak orang sudah cukup lama tak menjejali telinganya dengan lagu-lagu beraliran electronicore untuk hari ini. Sedikit merunut ke medio awal 2010-an, tak sedikit band-band dengan aliran electrocore punya lagu yang sebetulnya cukup nyaman untuk dinikmati. Bahkan, sempat mengisi rak daftar putar banyak orang sehari-hari di masa itu. Kehilangan sentuhan dan menurunnya tren electronicore untuk jangka waktu yang cukup lama mungkin membuat kita seakan lupa akan eksistensi musik-musik sejenis.

FYI saya mau sedikit menjelasakan tentang genre musik yang unik tersebut. Electronicore merupakan sebuah wujud hibrida yang berakar pada metalcore dan diberi sentuhan musik-musik elektronik sehingga istilah electronicore atau electrocore pun lahir. Walau tampak bertolak belakang satu sama lain, atas dasar eksplorasi musik nampaknya percampuran dua genre tersebut jadi melaju tanpa batasan.

Kali ini, saya mencoba untuk memutar kembali beberapa album yang dulu sempat menjadi santapan wajib sehari-hari bagi generasi saya. Meski nostaljik, ada satu nama baru yang saya sematkan dalam daftar rekomendasi musik kali ini. Untuk mendengarkannya, silahkan ketuk sub judulnya ya!

Issues – Issues (2014)

Hengkangnya Michael Bohn dari band ini cukup memilukan bagi saya. Issues terasa cukup hambar di album-album berikutnya tanpa sosok Bohn. Seperti macan yang kehilangan taringnya. Maka dari itu, saya menyematkan self-titled mereka yang rilis pada 18 September 2014 silam via Rise Records ini.

Komposisi vokal Issues saat Tyler Carter dan Michael Bohn masih berharmoni merupakan sesuatu yang unik. Carter memiliki karakteristik suara yang sopan dan merdu ketika hendak memasuki telinga, kemudian tumpang tindih dengan teriakan Bohn yang memiliki kesan naik pitam. Layaknya dua sisi berbeda, gelap dan terang. Diikuti ramuan instrumen yang melodius dan sentuhan elektronik dengan takaran yang pas menjadikan album-album Issues memiliki barometer harmonisasi di angka yang memuaskan untuk kelas electronicore. Salah satunya adalah album ini.

I See Stars – New Demons (2013)

Album keempat milik unit electronicore asal Amerika Serikat ini memiliki komposisi yang cukup memuaskan di segmennya. Perpaduan antara kedua elemen musik metalcore dan sentuhan elektroniknya seimbang. Rilis pada tanggal 22 Oktober 2013 silam lewat Sumerian Records mungkin menjadikannya sebagai jaminan bahwa album ini layak untuk dikatakan “bagus”. Mengingat band-band yang (sempat) dinaungi Sumerian Records memiliki talenta yang nggak bisa diremehkan.

Enter Shikari – A Flash Flood of Colour (2012)

Ketika pertama kali mendengarkan “Arguing With Thermometers” (salah satu repertoar dalam album ini), seketika saya cukup memberikan atensi pada band ini. Sebuah perpaduan yang apik dalam pengemasan electronicore. Tak terlalu terdengar menggelikan, namun tetap mengangguk-anggukan kepala lewat harmonisasi yang dimainkan.

A Flash Flood of Colour memberikan sentuhan yang kentara antara dance, riff-riff metal, dan energi dari punk. Sehingga akhirnya berpadu dalam satu album yang wajib kamu dengarkan, friend!

Thirteen – Epidemic (2011)

Unit asal Jakarta yang sudah cukup kaliber namanya di ranah metalcore, Thirteen, memang sudah piawai dalam meramu berbagai elemen musik di karya-karyanya. Sebut saja metal, hardcore, trance, hingga jazz. Epidemic mungkin menjadi torehan terakhir sebelum musik mereka berubah pada rilisan berikutnya. Meskipun menurut saya pribadi, bukan ke arah yang lebih buruk.

Last Goal! – Back in Time (Black Edition) (2020)

Sempat dikenal sebagai Last Goal! Party, kini mereka muncul kembali dengan nama Last Goal! Telah menelurkan dua album, yaitu; In Time (2014) dan Back In Time (2016) dan di tahun ini, mereka merilis penuh album kedua mereka dengan sentuhan anyar. Mengingat perbaruan formasi telah mereka lakukan. Kini Last Goal! digawangi oleh Fachrizal ‘Jal’ Achmad (vokal), Daniel ‘Asido’ Asido (gitar), Vallian ‘Val’ Hanjani (gitar), dan Ramdhyan ‘Beck’ Beckham (drum).

Perbedaan vokal yang kentara dipertunjukan oleh mereka di karya terbarunya ini. Tentu, departemen vokal yang kini diberdayai penuh oleh Jal menjadikan karakteristik vokal yang terasa berbeda ketimbang sebelumnya. Nuansa yang lebih muram pun turut mereka persembahkan, bersamaan dengan rilisnya diskografi Back In Time dengan penyematan “Black Edition”-nya.

Berbicara soal Last Goal! unit asal Jakarta ini akan mengisi line up di Rich Gigs minggu ini. Jadi bagi kalian yang ingin menyaksikan bagaimana Last Goal! kembali dengan wajah baru mereka, jangan lupa untuk menyaksikannya eksklusif hanya di www.richmusiconline.com!
Oleh Ilham Fadhilah

Related Articles

Back to top button