Mari Belajar Kaidah Rock Ugal-ugalan Yang Baik dan Benar Dari Muchos Libre

Punten, mau ijin ngutruk dulu ya buat ngebuka tulisan kali ini. Plis atuhlah, buat siapa pun yang ngerasa punya band dan selalu mengkampanyekan musiknnya sebagai rock “ugal-ugalan” dan “brengsek”, tolong diamalkan juga di aksi panggungnya. Bukan semata karena kualitas rekaman atau lirik lagunya doang yang nyeleneh, tapi performance juga harus sama rata brengsek dong ah! Nah kalau ngomongin band rock yang beneran menjalankan kaidah rock ugal-ugalan secara lahir batin, kayaknya cuma unit garage rock asal Bandung yang bernama Muchos Libre yang berhasil melakukannya.

Muchos Libre

Tentu opini saya yang sampah itu punya alasan. Band yang terbentuk tahun 2010 ini memainkan musik garage rock semi-primitif yang cocok digunakan sebagai lagu latar melakukan kegiatan ugal-ugalan yang berfaedah mau pun yang nggak ada gunanya sama sekali. Let’s say, ketika kamu terpaksa untuk berkendara dengan motornya dengan cukup ngageber karena dikejar waktu, lagu-lagu dari Muchos Libre seperti “Romusa” atau karya terbaru mereka “Butaneko” pas banget didengerin sambil mencoba menandingi menghindari mobil-mobil angkot yang sruntulan. Berfaedah ‘kan? Kalau buat kegiatan yang gelo, lagu-lagu mereka cocok banget buat kamu pasang di video-video prank atau Jackass-esque amatirmu. Ah, intinya mah lagu-lagu Muchos Libre itu memang cocok untuk melatari berbagai kegiatan yang membutuhkan pasokan adrenalin yang lumayan gede.

Baca juga: 5 Rekomendasi Band Alternative-Rock Lokal

Muchos Libre bukan sekedar band yang berani gila dan ekspresif soal musiknya cuma lewat deskripsi press release doang, friend. Live antics mereka pun sebenernya udah bisa bikin almarhum Ucok Aka atau mendiang GG Allin tersenyum kecut karena kelakuan spontan yang mereka biasa lakukan di atas panggung. Mulai dari cela-celaan multi dimensi antar band dan penonton yang selalu mereka lakukan sampai aksi absurd macam makan puntung rokok di sela-sela lagu udah jadi sebuah ritual wajib di setiap panggung mereka. Bahkan saya masih ingat ketika mereka manggung di sebuah skatepark di Bandung, salah satu vokalisnya tiba-tiba lari dari atas panggung ke luar gerbang skatepark dan langsung naik angkot dengan masih memakai kostum manggungnya plus bertelanjang dada. Absurd.

Dari kedua aspek yang saya jelaskan di atas, saya yakin kalau Muchos Libre-lah seharusnya bisa lebih besar dan terkenal sekarang. Tapi apa daya, tren musik garage memang segmented dan dianggap sebagai sekedar musik euforia yang cocok didengarkan/ditonton gigs saja. Bullshit. Muchos Libre lebih dari parameter itu. Muchos Libre adalah band rock yang energinya bisa dinikmati di medium rilisan mau pun ketika live. Dan sekali lagi, kalau kamu mau bikin band rock yang berlabel ‘ugal-ugalan’ karena skill musikalitasmu emang nggak nyampe, then do it with right. Karena Muchos Libre  yang punya skill musik yang lumayan mumpuni pun bisa menggubah konsep musik ugal-ugalan mereka secara brengsek dan sekaligus estetik.

Dengarkan Muchos Libre di sini.

Related Articles

Back to top button