Mainin Pop punk Ala Descendents, Waxtape Nggak Peduliin Tren Pop punk Hari Ini

Ah lagi-lagi menyenangkan bisa mendengarkan band baru yang sound-nya nggak tipikal kayak Blink, easycore, atau Neck Deep-core. Bukan maksud saya mendiskreditkan band-band yang mengambil jalur pop punk yang kayak gitu, tapi ayolah, sudah terlalu banyak band pop punk yang mengambil influence yang sama dan pada akhirnya semuanya punya lagu yang seragam. Membosankan. Nggak apa-apa kalau kamu bilang saya sok asyik dan nggak enakeun, karena pada kenyataannya memang seperti itu. Rata-rata band yang mengklaim diri mereka sebagai pop punk nggak ada bedanya dengan jadi copycat Blink atau band-band pop punk yang kaosnya mudah ditemukan di berbagai toko merchandise import. Argue with me on that.

Nanti lagi deh ngutruknya, sekarang saatnya saya untuk membagikan kebahagiaan nih buat kamu yang butuh penyegaran kuping akan sound pop punk yang unik. Terutama yang lagi nyari-nyari band pop punk lokal yang asyik. Nih dengerin deh Waxtape. Unit pop punk dari Tangerang ini ngambil jalur yang udah lumayan ditinggalin sama para pemain pop punk lokal hari ini, yaitu pop punk 90an. Sound pop punk 90an identik dengan pola lagunya yang straight forward, melodinya yang asyik, dan gaya bernyanyinya yang nggak menye-menye. Nah semua fitur itu lengkap hadir di lagu-lagu milik Waxtape.

Waxtape (Foto: RIuh Zine)

Jadi, jangan berharap kamu bakal dengerin ketukan ala hardcore punk atau beatdown yang diisi dengan chord mayor di lagu-lagu Waxtape. Everything is simple yet catchy. Ada satu yang bikin unik dari Waxtape, saya rasa mereka suka banget sama Descendents. Lagu mereka yang berjudul “PTB” punya riff gitar yang mengingatkan saya kepada lagu Descendents yang berjudul “Clean Sheets”. Gaya bernyanyi vokalis sekaligus gitaris, Galih Putra, juga mengingatkan saya kepada Milo Aukerman. Agak gruffy dan harmonisasi yang selalu diakhiri dengan nada vokal yang panjang. Keren juga sih, soalnya banyak band punk di Indonesia yang selalu dikaitkan dengan Descendents karena penampilan culun mereka atau karena sering membawakan cover Descendents, malahan nggak punya lagu original yang Descendents-core banget.

Ingin rasanya hati kecil saya berteriak kepada banyak orang yang selalu mengagungkan pop punk dengan sound medioker bahwa Waxtape adalah salah satu contoh band yang mengerti akan esensi pop punk yang sesungguhnya. Bukan tentang citra, fashion, atau sound yang lekat akan satu stereotip saja. Pop punk itu universal dan masih banyak contoh band pop punk yang bisa diambil pengaruhnya. Contohnya sih, kayak kamu lihat acara musik pagi-pagi di TV swasta beberapa tahun yang lalu. Ketika banyak banget band pop kacangan yang one-hit-wonder dan lagunya sering dipakai untuk soundtrack FTV yang ya-ampun-jelek-banget, semua band merasa harus membuat lagu seperti itu (baca: jelek) untuk bisa terkenal dan diterima oleh masyarakat banyak. Nggak gitu, be’ol. Tetep aja sebuah band itu harus punya identitas unik yang bisa diingat oleh orang banyak. Sama halnya dengan pop punk, ketika jenis pop punk yang itu-itu saja selalu disanjung-sanjung, tidak ada penyegaran dalam kisaran pendengaran dan saya nggak akan bosen bilang, membosankan ketika didengarkan atau bahkan ditonton secara live.

Nah, mungkin kamu bakalan ada yang kontra dengan apa yang saya utarakan di sini (pasti ada sih) dan menunjuk saya seraya bilang “bacot mulu soal pop punk, bisa kagak bikinnya?!”. Satu, saya bisa bikin lagu pop punk dengan cara saya sendiri tanpa harus ngikutin tren. Kedua, saya akan dukung band-band yang sejenis dengan Waxtape. Maksudnya, band-band pop punk yang berani mengambil gaya berbeda dan influence yang berbeda. Just saying.

Great big thumbs up for Waxtape. Saya pun sangat merekomendasikan kamu untuk mendengarkan Waxtape.

Dengarkan Waxtape di sini.

Related Articles

Back to top button