Maaf, Ijin Meracau Soal Fitur Spotify Wrapped Ya, Friend

Satu, dua, lima, sepuluh,…. hadehhhh banyak juga ternyata jumlahnya. Eh maaf-maaf, saya sedang sibuk mengitung akun Instagram yang sedang sibuk memamerkan seberapa lama mereka mendengarkan lagu apa aja dan genre apa yang mereka jilati sepanjang tahun ini di platform digital music streaming favorit generasi ini, Spotify.

Apa cuma saya aja yang kesel dengan wave yang melanda Instagram dan Twitter beberapa hari ke belakang ini? Rasanya kayak lagi  disuguhkan puluhan sampai ratusan baligo caleg-caleg sinting di era pemilihan mereka. Bedanya apa yang saya lihat sekarang ini beberntuk flyer digital yang berisikan rentetan artis atau band dan selera genre personal yang harus banget di umbar-umbar. Blah.

Spotify memang sialan. Ya meski sebetulnya saya pun berlangganan penuh akan jasa mereka, harus diakui gaya marketing branding mereka itu keren. Kayak yang saya sekarang bahas nih, mereka menggunakan ego para pengguna layanan Spotify yang selalu ingin terlihat keren di media sosial. Dan gilanya ternyata mereka berhasil. Campaign Spotify Wrapped ini menjadi tren besar di Instagram dan Twitter. Mereka yang tampil paling ‘alternative’ dan paling ‘edgy’ bahkan sampe bikin unggahan yang marah-marah karena menuduh Spotify nggak becus ngolah data berisikan caption semacam “kok gue hiphop banget sih, perasaan taun ini gue dengerin banyak lagu emo!”. Be’ol lah.

Muda-mudi bangsa ini memang selalu tampil kohesif. Tren dengan cepat mereka makan dan beraknya pun sembarangan. Saya nggak bisa menyalahkan mereka karena media sosial itu ruang publik. Tapi kalau tren ini masih berlanjut hingga tahun depan dan kamu merasa terganggu dengan adanya tren pamer ini, saya punya beberapa kiat menghindari Spotify Wrapped di tahun depan.

Satu, kamu bisa mengikuti kegiatan yang di selanggaran beberapa art space untuk mengikuti workshop yang mereka tawarkan. Ya contohnya kalian bisa pergi ke Salihara Jakarta atau ke Kyomi bandung yang menawarkan kalian workshop harian dan melupakan gadget kalian yang mungkin Desember tahun depan akan di penuhi orang-orang dengan flyer berisikan selera mereka.

Dua, kalian bisa pergi berkemah dan pilih dataran gunung paling tinggi untuk mempersempit signal yang masuk gadget kalian. Nah di sana kalian bisa menghirup udara segar di malam Desember dari pada menghabiskan waktu di kamar mantau Instatory teman kalian yang nge-post Spotify Wrapped mereka.

Kalau dua poin itu terasa berat karena kamu nggak punya waktu dan uang, kamu cukup uninstall Instagram dan Twitter aja. Cara ini bakalan ampuh banget buat menjauhkan kamu dari tren yang mungkin aja bakal terulang di 2021 nanti. Coba deh, dijamin ampuh!

Duh maaf nih, friend. Saya malah ngutruk gini. Tapi saya rasa buat apa sih pamer selera musik dengan tendensi berkompetisi? Yang bikin kesel itu ya contoh caption yang saya kasih tadi. Yaudah sih mau dengerin lagu apa pun, musik mah musik aja. Tetep enak didengerin. Mau genrenya apa dan sesering apa, musik itu bukan penanda status sosial. Di satu sisi, emang nggak ada yang salah buat mengekspos selera musik ke ranah publik, tapi ada baiknya cara melakukannya bisa dikulik biar lebih cantik dan less snob. Emangnya mau dijauhin gara-gara kelihatan snob? 

*Oleh Reza Ilham

Related Articles

Back to top button