Ledakan Energi Kafein: Menelusuri Korelasi dan Pengaruh Kopi Terhadap Punk Rock

Oke, coba kita ngobrol secara realistis. Tren musik folk pop yang selalu diidentikkan dengan kopi itu di satu sisi memang harus diakui cocok dengan citra musiknya yang memiliki nuansa kalem dan relaxing. Minuman kopi emang lekat dengan suasana santai, friend. Mau pas bertamu ke rumah kerabat, mau pas lagi nongkrong, biasanya kopi selalu menjadi suguhan utama bagi orang-orang di paruh umur remaja dan dewasa.

Tapi menurut saya, ada satu hal yang jarang terekspos mengenai minuman kopi. Minuman berkafein tersebut kalau dikonsumsi dengan kuantitas yang banyak bakal menimbulkan efek samping, yakni yang paling umum adalah tubuh gemetar dan kadang ada yang menjadi merasa hiperaktif. Kondisi tersebut disebabkan oleh kandungan kafein pada kopi yang bisa meningkatkan hormon adrenalin dan juga tekanan darah di dalam tubuh. Makanya banyak orang yang sebelum beraktivitas suka pada minum kopi dulu ‘kan? Nah itu alasannya, friend. Biar badannya siap buat jadi produktif sepanjang berkegiatan.

Balik lagi ke musik, jauh sebelum tren folk kopi senja, beberapa band punk rock sudah lebih dulu mengimplementasikan efek kopi yang jarang diekspos tersebut dalam karya dan aksinya. Ambil contoh band pionir hardcore punk seminal asal Amrik, Black Flag, mereka punya satu karya yang berjudul “Black Coffee”. Ada yang bilang kalau lagu itu sebenernya alusi terhadap kasus pemakaian heroin yang merebak di tahun 80an silam. Tapi menurut penjelasan Kira Roessler, bassist Black Flag di waktu itu, lagu itu emang tentang efek kopi yang mereka pakai sebagai proses kreatif. Kira menyatakan bahwa bukan substansi narkotika yang membantu mereka untuk menyelesaikan lagu-lagu mereka. Akan tetapi itu semua berkat efek kopi yang menolong mereka untuk tetap terbangun selama 48 jam di dalam studio rekaman dan mengerjakan album legendaris mereka, Slip It In.

Beda cerita dengan band pionir pop punk, Descendents, mereka memang kerap diidentikkan dengan lagu-lagu “becandaan” seputar makanan dan minuman kayak “I Like Food” atau “Weinerschitzel”. Tapi dua lagu mereka yang berjudul “Kids On Coffee” dan “Coffee Mug” merupakan cerminan dari etos kerja mereka yang sangat bergantung terhadap kopi. Seperti lirik mereka pada lagu “Coffee Mug” yang berbunyi “I don’t need no booze or drugs, I just chug-a-lug-o my coffee mug”, Descendents menggunakan kopi sebagai pengganti doping atau substansi terlarang dalam proses kreatif mereka. Milo Aukerman, vokalis Descendents, menjelaskan bahwa efek kafein dalam kopi sangat membantu mereka pas lagi manggung. Jadi di saat band-band lain pake narkoba atau minum alkohol buat ngerasa “lebih oke” pas manggung, Descendents minum kopi sampe 8 gelas gede sebelum manggung buat jadi lebih intens dan lebih aktif pas di atas panggung. Bahkan di  umur mereka yang udah nggak belia lagi sekarang, mereka masih suka minum hampir 10 gelas kecil espresso sebelum manggung supaya tetep bisa intens pas manggung. Gokil.

Selain Black Flag dan Descendents, masih banyak kok band-band dari ranah punk yang memang menggunakan kopi sebagai energy trigger mereka atau inspirasi lagu-lagu mereka. Kayak Lagwagon yang punya lagu “Mr. Coffee”. Lagu tersebut menceritakan bagaimana Joey Cape menganggap bahwa kopi adalah “narkoba legal” yang bisa digunakan seluruh masyarakat Amerika Serikat untuk membuat diri mereka merasa lebih enak. See? It’s so much more than a substance for relaxation.

In a sense, band-band punk yang saya bahas di atas menggunakan efek alternatif kopi sebagai pendorong proses kreatif mereka. Mungkin hal itu bisa terjadi karena beberapa faktor, ada yang memang intentional untuk menggunakan kopi, ada juga kasus seperti Descendents yang menggunakan kopi sebagai pengganti narkoba untuk jadi lebih “oke”. Dalam konteks yang berdekatan, kopi pun memiliki citra yang sama dengan musik. Ketika hanya dinikmati dengan tanpa tendensi dan hati yang tertutup, kopi mungkin cuma sekedar minuman pemuas dahaga yang lewat begitu saja. Seperti musik pop kacangan yang eksistensinya hanya bertahan sebentar. Tapi ketika kopi dimanfaatkan dengan tujuan dan penggunaan yang alternatif, efek sampingnya akan terasa sangat hebat seperti gemetar dan hiperaktif. Sama juga dengan musik, ketika musik diambil dan dimainkan ke ranah alternatif, efek yang dihasilkan bagi pemain dan pendengar akan terasa lebih nyata dan relatable. Just saying. No offense, you trendy so-called today’s “indie” people.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button