Lambat Nan Stagnan: Pudarnya Pamor Bandung Sebagai Produsen Band Muda Potensial Di Kancah Musik Nasional

Sebagai seseorang yang tumbuh besar sebagai pendengar dan mengamati kancah musik sektoral di kota sendiri – yakni Bandung –, ada satu fenomena yang sebetulnya sangat mengganggu kepala saya. Entah ini cuma ada di pikiran saya atau perspektif saya yang naif, saya rasa citra Bandung sebagai kota yang selalu identik dengan kota yang punya band-band keren mulai pudar. Don’t get me wrong, sampai hari ini banyak banget kok orang sini yang memulai proyek musiknya sendiri dan band-band Bandung pun masih banyak banget yang aktif. Tapi itu pun membawa saya ke jurang pemikiran suram yang lebih dalam, yaitu dengan kuantitas band yang masih aktif di Bandung ternyata cuma sedikit yang bisa sukses di skala nasional.

Oke sebelum kamu menghujat saya dan menghakimi saya dengan anggapan “maneh saha ajig, nangkring di komunitas ge tara”, saya punya beberapa parameter mengenai permasalahan takaran sukses tersebut. Yang paling gampang deh, mungkin kamu bisa lihat jajaran musisi yang kerap mengisi sebuah acara musik di dalam kota maupun luar kota. Mulai jarang banget band-band Bandung yang namanya terpampang besar di baligo promosi acara itu. Oke, katakanlah ada band Bandung yang mengisi acara tersebut. Tapi nyadar nggak, band-nya yang itu-itu saja. Band-band yang notabene angkatan lebih tua. The Sigit lagi, Burgerkill lagi, Rocket Rockers lagi. Sebenernya wajar aja sih hal itu terjadi, mengingat kalau band-band tersebut udah bergerak jauh lebih lama daripada band-band yang masih muda. Ah, kasarnya mah kenapa gitu band-band muda Bandung jarang banget ada yang bisa mencapai level “kesuksesan” band-band Bandung secara komersil dan publisitas kayak band-band di atas. Asli saya heran banget euy.

Padahal dipikir-pikir secara kualitas, band-band Bandung hari ini banyak yang lumayan oke secara kualitas dan malahan layak untuk bersanding dengan nama-nama besar lainnya di sebuah acara musik skala nasional. Dari segi genre musik pun, beberapa band Bandung tetep bervariasi dan mempunyai keunikannya sendiri. Paling kalau mau dirunut band muda Bandung (atau sekitarnya) hari ini yang bisa menembus pasar nasional, mungkin nama The Panturas-lah yang sering jadi household name untuk mewakili sosok sebagai “band muda asal Bandung” di berbagai acara berskala nasional. Tapi masa sih harus Panturas sendiri doang yang maju? Padahal masih banyak lho band-band Bandung yang musiknya lebih bagus daripada mereka. No offense.

Saya pun akhirnya menganalisa amatiran tentang fenomena aneh ini. Jelas aneh sih, soalnya ada suatu waktu ketika Bandung dianggap sebagai kiblatnya band indie se-Indonesia, tapi sekarang malah kayak macan kehilangan taringnya. Setelah mengamati dengan seksama dan ngobrol dengan berbagai tongkrongan, mungkin ini beberapa faktor yang bikin fenomena itu terjadi.

Kurang peduli terhadap strategi marketing dan branding

Layaknya sebuah merk dagang, band pun sebetulnya udah bisa dijadiin komoditas di masa ini, friend. Mau disebut sell-out, mau disebut melacurkan musik, hal ini memang ada nyatanya dan seringkali terbukti sukses di aspek komersil. Lihat aja, banyak banget band dari berbagai penjuru negeri yang sebenernya musiknya kurang sreg tapi tetep bisa menembus panggung nasional. Ya karena si strategi marketing dan branding ini, friend!

Nah sepenglihatan saya, aspek ini seringkali nggak diimplementasikan sama banyak band di Bandung. Banyak alasannya sebenernya, ada yang memang tidak peduli terhadap eksposur dan ada juga yang memang nggak ngerti gimana cara bikinnya. Buat band yang nggak peduli, mereka memang cuma pengin celebrate the scene itself dan emang cuma mau main musik plek doang. Nggak ada tendensi buat melaju lebih jauh. Nah buat band yang nggak ngerti, mereka memang kesulitan untuk menyusun sebuah rancangan campaign agar musik mereka bisa menjangkau banyak pendengar. Sayang banget. Padahal nggak ada salahnya buat bikin musik yang mereka mainkan buat bisa menjangkau pendengar yang lebih bervariasi dan lebih luas.

Merasa komunitas atau genre adalah segalanya

Poin ini mungkin akan terdengan kontroversial, tapi inilah realita yang terjadi di segmen musik Bandung. Masih banyak pelaku yang ngagulung “atas nama komunitas” dan tidak mau bergaul ke lingkaran pergaulan musik yang lain. Ada yang merasa bahwa kesuksesan band secara komersil itu bisa diraih dengan aktif di komunitas dan terus-terusan aktif di lingkup yang sama secara konstan. Tapi pada kenyataannya, band-band yang bisa menembus tembok pasar nasional adalah band yang bergaul dengan siapa saja. Mau dengan pelaku dari kancah musik mana pun dan genre musik apa pun. Tidak terpatok pada satu genre saja. Bukan maksudnya pansos atau lupa daratan, tapi toh band-band yang “sukses” itu nggak selalu main di acara yang genre musiknya spesifik. Iya nggak?

Mentalitas seperti itu kerap sering terlihat di sektor Bandung, terutama pada band yang pelakunya relatif masih berumur muda. Mereka pikir kalau loyal hanya pada satu komunitas, musik mereka akan bisa didengarkan oleh banyak orang. Padahal nggak tuh. Pada akhirnya parameter musik yang sukses secara komersil adalah musik yang bisa diakses oleh berbagai golongan dan kalangan. Meski musiknya cutting-edge atau underground, setidaknya posisi yang diraih oleh musik tersebut bisa tersanding dengan musik-musik dari genre lainnya sebagai kisaran pendengaran alternatif.

Kesenjangan sosial antara pelaku “lama” dan “baru”

Ini klasik sih, saya sempet ngobrol sama seorang pelaku “lama” dan dia mengaku kalau dia lost track sama band-band baru. Alasannya simpel, karena dia terlalu sering ngurusin tongkrongan old-school-nya dia sampe nggak merhatiin aksi-aksi baru di kancah musik lokal. Jadi kalau kamu pernah denger obrolan kayak pemain “lama” nggak pernah mengayomi yang baru, itu beneran pernah terjadi.

Poin ini sebenernya bisa merunut ke poin tentang komunitas di atas. Biasanya pelaku “lama” ini masih berpikir bahwa old way is the best way. Nggak salah memang, toh meski dia melakukan old way, karir musiknya oke-oke aja dan tetep bisa lancar pemasukan manggungnya. Tapi ketika ada band baru yang mulai agak terlihat, dia biasanya nyecer band itu dengan alasan-alasan kolotnya atas nama kejayaan di masa lalu. Biasanya itu bikin band-band baru jiper buat berinovasi dan bergerak lebih jauh. Karena mereka pikir, abang-abangannya aja nggak support, ngapain harus bergaul sama dia. See?

Segala jenis promosi, termasuk word-of-mouth promotion itu penting buat keberlangsungan sebuah band dan bahkan suatu kancah musik, friend. Bukan cuma sekedar harus viral dan jumlah play number banyak di Spotify doang yang ngaruh (ya ngaruh sih buat para event organizer, kan acaranya harus rame ya? Duh.), promosi dari seorang sosok musik yang terpercaya itu bakalan bikin band-band baru lainnya percaya diri untuk bisa melaju lebih jauh di kancah musik nasional. Pihak-pihak lainnya seperti sponsor dan EO pun bakalan percaya kalau band-band baru itu bagus kalau ada approval dari sang abang-abangan. Ini terdengar menggelikan, tapi ini beneran salah satu cara untuk mendobrak kisaran pendengar musik yang baru.

Tapi seringkali, yaaa yang muncul ke permukaan itu pasti seringnya band baru yang memang pergaulannya lebih dekat dengan si pemain “lama” ini. Entah karena malas ngulik band baru atau urusan selera (atau mungkin ada nepotisme lainnya?). Wallahualam. Yang pasti, hal inilah yang sering bikin band-band baru kepentok jalurnya di kancah musik Bandung. Just saying.

Itu cuma sekelumit pikiran saya aja tentang polemik kancah musik Bandung hari ini. Pilihan untuk menjadi sukses itu tetap ada di tangan masing-masing pelaku musiknya. Termasuk apa pun jenis kesuksesan yang dipilih. Tapi rasanya nggak muluk kalau band-band Bandung seharusnya menyadari potensi yang mereka miliki itu bisa membawa mereka ke tempat yang lebih jauh. Karena suatu hari nanti, band-band Bandung yang sering main di festival nasional itu bakalan udah terlalu tua untuk bermain musik dan secara fisik juga nggak memungkinkan. Ketika masa itu datang, sudah dipastikan band-band barulah yang akan menggantikannya. Pertanyaannya adalah, mau sampai kapan nunggu kesempatan untuk main di panggung besar yang seringkali dimonopoli oleh pihak tertentu? Mending bergerak sekarang, friend. Don’t stop playing, make friend with everyone, believe in yourself.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button