Kid Dynamite, Entitas Hardcore Distingtif di Pertengahan 90-an

Setelah kemarin menulis sesuatu tentang Lifetime, rasanya kurang lengkap kalau nggak membahas Kid Dynamite. Maklum, setengah dari personil Kid Dynamite adalah pecahan dari Lifetime. Unit hardcore punk ini pun punya kontribusi tersendiri bagi scene musik hardcore pada masanya. Malahan saya menganggap band asal Philadelphia, Amerika Serikat ini adalah sebuah entitas hardcore yang sangat distingtif di era 90-an. Era di mana band-band hardcore lebih mengejar sound-sound beatdown yang berat dan super-metal influenced.

Kid Dynamite.

Kid Dynamite terbentuk di tahun 1997 beberapa saat setelah Lifetime menyelesaikan panggung terakhirnya di New Jersey. Uniknya, meski personil pionirnya memang orang New Jersey dan citra mereka sangat lekat akan kota tersebut, band ini malahan terbentuk di kota Philadelphia. Kota yang pada masanya emang nggak terlalu identik dengan musik hardcore. Padahal band-band punk seminal macam The Dead Milkmen, Ruin, dan Ink And Dagger berasal dari Philadelphia, friend. Yaaa, mungkin memang di media pertengahan 90-an musik hardcore emang lagi declining kali ya.

Di tahun 1998, Kid Dynamite merilis album perdananya. Album tersebut dinilai sebagai anomali di scene hardcore di sana pada masa tersebut. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan tadi, kebanyakan band hardcore di era itu memang memainkan musik hardcore dengan versi beatdown dan metalized. Band-band macam Earth Crisis sampai Strife sedang berada di puncak klasemen dan kisaran pendengaran para hardcore fans di era itu. Nah, ketika Kid Dynamite muncul dengan sound hardcore-nya yang lebih nyerempet ke punk rock, hal ini menjadi daya tarik tersendiri buat para pendengar di waktu itu. Vokal milik Jason Shevchuk yang ngotot tapi masih in-tune dengan lagunya ternyata malah nge-blend sama harmoni dan akor di lagu-lagunya. Malah ada beberapa opini yang  nganggap kalau album pertama Kid Dynamite itu seperti album baru Lifetime yang baru dirilis setelah bubarnya mereka. Bedanya cuma ada di bagian vokalnya doang, friend.

Album perdana Kid Dynamite (via seekingthesimple.wordpress.com)

Kehadiran Kid Dynamite seperti memberikan angin segar dan sensasi youth crew revival pada banyak hardcore kids pada masa itu. Meski dari segi sound dan penulisan lirik lumayan jauh dari stereotip band youth crew hardcore, energi dan aksi panggung mereka yang eruptif mengingatkan banyak orang akan band-band youth crew yang penuh spontanitas dan minim violence dance di arena mosh pit-nya. Tapi yang paling kentara sih dari segi sound. Kalau mau menyambung dengan bahasan youth crew revival, di tahun 90-an itu ada band-band macam In My Eyes, Ten Yard Fight, dan Rain On The Parade yang memang mengimani konsep youth crew secara lahir dan batin. Justru Kid Dynamite ini nggak ada sangkut pautnya sama budaya youth crew. Mereka ini layaknya kayak anak-anak punk yang bikin band hardcore punk. Dari fashion sampai penggubahan struktur dan akor lagunya emang lebih deket ke punk rock daripada ke estetik hardcore punk. Keren.

Baca juga: Dinamika Melodic Hardcore Dari Masa ke Masa

Dua tahun setelah rilis album perdananya, Kid Dynamite melahirkan album sophomore-nya yang berjudul Shorter, Faster, Louder. Sesuai dengan tajuk albumya, album tersebut berisi 18 lagu yang kalau ditotal semuanya berdurasi 24 menit. Gila nggak tuh, satu album isinya 18 lagu dan durasinya cuma setengah jam?! Ada yang bilang kalau album ini pun seperti menyempurnakan formula melodic hardcore yang mereka mainkan di album perdana mereka. Setelah rilisnya album ini, Kid Dynamite pun semakin menancapkan nama mereka lebih dalam di atas sejarah hardcore punk sebagai sebuah band yang signifikan bagi pergerakan hardcore punk di tahun 90-an.

Shorter, Faster, Louder (via seekingthesimple.wordpress.com)

Tapi nggak lama dari rilisnya album Shorter, Faster, Louder, Kid Dynamite memutuskan untuk bubar. Konon dilansir dari beberapa pembahasan di DVD dokumenter mereka yang berjudul Four Years In A Gulp, bubarnya Kid Dynamite tidak dapat dihindari karena memang ada konflik internal dan kepergian Jason dari band untuk melanjutkan studinya. Masalah band klasik lah, friend. Meski udah ngasih berita bubar, waktu itu mereka masih mau buat main beberapa konser reuni setelahnya. Yang terakhir mereka main di festival This Is Hardcore pada tahun 2013 silam. Tapi setelah bermain di sana, mereka memutuskan untuk breaking up for good. Yaaa, memang disayangkan kalau ada band sekeren Kid Dynamite memutuskan untuk beneran bubar dan nggak mau main musik lagi. Tapi apa yang mereka udah lakukan dan berikan untuk scene hardcore punk di sana ternyata imbasnya kerasa gede banget sampe hari ini. Mulai banyak band-band melodic hardcore bemunculan dan rata-rata memang terinspirasi oleh Kid Dynamite. Pay them some respect and listen to their songs now, friend!

Dengarkan Kid Dynamite di sini.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button