RICH FEATURESRICH HIGHLIGHTS

Ketika K-Pop Menawarkan Fantasi, K-Indie Mengajak Pendengarnya Untuk Melihat Realita

Teks: Sarah Ashilah

Dekade 2010-an memang jadi titik awal di mana demam Korea Selatan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Enggak terkecuali di Indonesia tentunya. Hampir seluruh populasi teenagers dan para orang dewasa tanggung di sini kini tengah meniru gaya hidup orang Korsel. Dikit-dikit ngidam toppoki. Saban hari nonton drakor sampai tisu-tisu bekas ngelap ingus dan air mata numpuk di pojokan. Terus, sekarang Soju bukan cuma ada yang haram, saking ingin meniru budaya minum-minum orang Korsel tapinya takut dosa, warga Indonesia pun menciptakan Soju halal – dibaca; limun tiis berbotol mirip Soju.

Bukan hanya drakor, gaya hidup dan kulinernya, industri musik Korea Selatan pun menginvasi dunia. Sekarang sudah bukan zamannya lagi nebeng eksis ke musisi-musisi Hollywood. Kebalikan dari itu musisi-musisi Hollywood lah yang sekarang ikut nebeng ke para girlband dan boyband Korsel. Sebut saja Selena Gomez x Blackpink, sampai Coldplay — yang mungkin ngerasa udah kalah pamor— pun berkolaborasi dengan… tururururum *percussion sound effect*, yap! The one and only, freakin BTS.

Eh tapi kalian pernah bertanya-tanya gak sih? Selain oppa-oppa oplas dengan dance pop nya, dan ahjusie-ahjusie bermuka fucekboi di drakor, ada apa lagi sih di Korea Selatan? Pernah penasaran gak sih sama scene musik independen mereka?

Rasa penasaran inilah yang membuat jari ini ngetik “Indie music in South Korea” di gugel. Dari sekian sumber, cuma Tom Powell jurnalis dari Vice yang menurut saya memberikan gambaran lengkap tentang skena indie di Korsel. 

Berawal dari situ juga, saya mulai menelusuri sekian lagu dari sekian musisi. Rasanya gak afdol saja, kalau saya menulis artikel ini tanpa telinga saya mencicipi dulu karya-karya mereka. Setelah dua jam lebih saya mendengarkan, akhirnya saya hanya mengkurasi beberapa musisi serta lagu-lagu yang berkesan secara personal untuk saya. 

Di Coachella 2019, band independen Hyukoh berhasil mendapatkan atensi penonton. Bagaimana nggak? Musiknya yang easy-listening tapi tetap berkualitas akan sangat relate dengan mereka yang mendengarkan lagu-lagu pop di radio. Suara Oh-Hyuk selaku lead vocal, memang cenderung soft, sehingga amat cocok kalau dia memainkan musik pop sejenis itu. 

Sebagai gambaran nih saya jelasin dua lagu dari Hyukoh. Lagu berjudul Tomboy dari Hyukoh lebih terdengar seperti lagu pop-nya Ed Sheeran, hanya saja di lagu ini Hyukoh memberikan sedikit sentuhan gitar balad ala glam metal. Gak ngerti juga kenapa dia memilih memasukan unsur musik kayak gitu, padahal lebih bagus kalau suara tuwewew, tuwewew ini gak ada dalam lagunya. Udah enak padahal lagu ini, eh malah terkesan jadi jadul banget vibe nya.

Lagu selanjutnya, berjudul Comes and Goes. Lagu ini ngefunk banget, cocok buat kalian yang suka sama Bruno Mars. Personally saya lebih menikmati lagu ini, karena antara unsur instrumen yang dimainkan dan tone dari lagunya, lebih terdengar presisi. 

Apapun itu, satu poin plus untuk Hyukoh. Walaupun ngepop, muatan lagu yang dibawanya cukup berat. Dia tidak malu-malu untuk menyuarakan isu homophobia di tengah masyarakat Korea Selatan yang masih konservatif.

(Hyukoh, dok. Hai.com)

Masih di ranah pop-indie, ada Yerin Baek seorang solois perempuan berumur 24 tahun. Menurut saya, Yerin adalah musisi indie yang sangat produktif. Diskografinya menunjukkan kalau dia sudah menciptakan lebih dari 50 lagu. Selain itu, dia juga seorang founder dari label independent bernama Blue Vinyl.

Hmm, mendengar lagu 0415 dan Tellusboutyourself mengingatkan saya pada Joji dan Orange Rex County. Perpaduan antara Trip-Hop, Lo-Fi, dan R&B yang dimainkan Yerin cukup identik dengan kedua musisi yang saya sebut tadi. Bukan hanya lagunya yang saya perhatikan, di MV 0415, sebelum lagu dimulai Yerin menyuguhkan cerita pendek. And guess what? Cerita pendek ini menarasikan tentang “menjadi-berbeda”, diwakilkan oleh gadis vampir yang membantai satu keluarga. Ouch, Twilight brutality allert!

(Yerin Baek, dok. I love Seoul)

Mau yang lebih sidestream lagi? Well, ada Youthlim yang karya-karyanyanya cukup ambivalen. Antara ingin bersenang-senang, tapi suasana hatinya haru-biru. Di lagunya yang berjudul Sunstroke, saya sempat berpikir, ini kalau lagu-lagu The Stroke diterjemahkan ke Bahasa Korea bakal kayak gini nih lagunya. Lalu di lagunya yang berjudul The Spring Hasn’t Come to Me Yet, agaknya terdengar dream pop yang lebih spacey dan shoegazing, persis Mogwai di lagu Take Me Somewhere Nice.

Nah, lalu ini nih lagu  yang bakal masuk ke dalam playlist comfort songs saya. Buat kamu yang doyan banget sama No Vacation dan Fazerdaze kayak saya, wajib banget dengerin Say Sue Me! Nostalgic surf-pop nya yang slow and flowy dari Say Sue Me, bikin eksistensi pendengar ada di tempat lain. Dari sekian lagu-lagu Say Sue Me, ada tiga lagu yang paling saya suka, judulnya Old Town, Let it Begin, dan So Tender.

Selanjutnya ada Parannoul, dua lagu pertama yang saya dengarkan dari album To See the Next Part of the Dream, yaitu Beautiful World dan Analog Sentimentalism langsung mengingatkan saya pada My Bloody Valentine! Kebayang gak sih? Post-Rock Shoegaze, dengan rasa Lo-Fi dan sedikit dream pop, plus gembrengan gitar listrik yang kasar. Anyway… udah ngerasa paling hits nih nyebutin Joji dan Fazerdaze di paragraf-paragraf sebelumnya, di bagian ini ketahuan banget kan saya berasal dari generasi mana. 

Next, buat kamu with an old and wise soul dan setidaknya punya tiga sampai sepuluh lagu dari Bon Iver, Simon and Garfunkel, Elliot Smith, Joan Baez, Vashti Bunyan, you named it lah pokoknya, kemungkinan besar sih bakal suka juga sama Siot & Breeze dan Kim Ildu. Folk hipster, anak senja, penikmat kopi di atas gunung, akan jatuh cinta hanya dengan mendengarkan satu buah lagu saja dari mereka. 

(Say Sue Me, dok. The Guardian)

Sekarang kita bahas nih skena underground Korea Selatan! Billie Carter, duo female punk  bernama Jiwon Kim (Lead Vocal) dan Jena Kim (Guitarist), ini tentu saja bikin saya jatuh cinta. Musik mereka di album Don’t Push Me cenderung berwarna garage punk. Karena saya juga suka Yeah Yeah Yeahs, maka Billie Carter tentunya akan masuk ke dalam playlist saya. 

Namun, satu hal yang amat berbeda dari Yeah Yeah Yeahs dan Billie Carter, Jiwon dan Jena rupanya membawa pesan lagu yang lebih kuat. Mereka banyak membahas tentang praktik misogini, trauma-trauma yang dialami perempuan, dan ketidak-setaraan gender di tengah masyarakat. Lagu Beat-Up contohnya, secara terang-terangan berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan yang seringkali jadi pelampiasan amarah. So, the conclusion is rasanya saya akan jadi lebih suka mendengarkan Billie Carter! I’m sorry Karen’O…

Ngomongin band punk-rock lainnya dari scene independen Korsel, ada juga Dead Chant dengan lagu-lagunya yang bergaya pop punk ala Greenday, lalu ada juga Rumkicks dengan tabuhan drum dan gitar ala Bad Religion juga Fugazi. Uniknya dari Rumkicks, vokalis perempuannya bersuara agak cempreng. Nah kalau lagu-lagu Bad Religion dibawain dia, jadinya bakal kayak soundtrack anime. 

Selain itu ada juga, Smoking Goose. Hmm… gimana ya cara saya menggambarkan warna musik dari band ini? Gaya nyanyinya jelas meniru – meniru lho ya, bukan mirip– Greg Graffin, tapi warna musiknya lebih mirip NOFX. Jadi mungkin kalian bayangkan saja, kalau Greg Graffin ngegantiin Fat Mike di NOFX, seperti itulah Smoking Goose.

Dari sekian musisi dan lagu-lagu yang saya sebutkan tadi, tentu saja masih banyak musisi independent lainnya dari Korea Selatan yang pantas pendapatkan apresiasi untuk didengarkan. Dengan menulis artikel ini, saya ingin mengajak kamu-kamu untuk digging up lagi musik-musik menarik dari industri K-Indie. Jadi? Minggir dulu yuk ARMY, berikan ruang pada kami juga untuk ikut merayakan demam Korea Selatan! 

Back to top button