Kenapa Ya Musik Metal Selalu Diidentikkan dengan Tato?

Saya yakin masih banyak orang yang ketika melihat seseorang dengan tato penuh di sekujur tubuhnya, maka akan beranggapan dan terlintas pertanyaan pada benaknya, “dia itu anak metal, ya?” Apalagi kalau hal tersebut didukung dengan kondisi rambut yang cukup panjang. Wah, udah aja pokoknya itu mah, langsung kena stereotip itu. Namun, bagi saya pribadi anggapan “kolot” semacam itu sudah lama hilang. Klise sih, tapi peribahasa ‘don’t judge book by it’s cover’ nampaknya memang selalu berlaku. Maksudnya, bukan berarti cenderung kepada hal-hal buruk, tapi semacam ingin meluruskan kalau tato itu bukan metal dan metal itu nggak selalu identik dengan tato.

Saya sendiri memiliki pengalaman menarik mengenai hubungan antara tato dan metal. Berawal dari rencana saya dengan seorang teman untuk membentuk grup doom/sludge metal pada sebuah sosial media, beberapa nama coba kami susun agar musik yang dihasilkan nanti terakurasi tepat sasaran. Kami saling bertukar referensi dengan menyebutkan nama-nama seperti Saint Vitus, Goatsnake, Weedeater, Eyehategod, dan kloning-kloningnya lengkap kami bahas. Namun, di tengah pembicaraan, tiba-tiba teman saya menyelipkan pernyataan, “harus tatoan tapi anak metal tuh, kurang sah aja gitu.. hahaha,” seketika saya langsung ketawa. Kenapa sampai kepikiran ke sana? Gurauan yang cukup bias untuk direunungkan. Nggak kebayang kalau nantinya band saya naik ke atas panggung dengan tiga personel berkacamata dan berpostur kerempeng tanpa setitik pun tinta di badan, mungkin penonton akan segera berteriak, “bawain Weezer aja udah!”

Saya jadi berpikir, kenapa metal itu harus disertai dengan penampilan yang menurut banyak orang “mengerikan”? Minimal tato yang menghiasi sepanjang tangan dan kaki. Padahal, nggak menutup kemungkinan orang dengan kaos polos dan potongan rambut standar di sekeliling kamu itu adalah makmum taat dari Max Cavalera, dan orang bertato penuh di sekujur tubuh lainnya merupakan customer YOGS. Kan bodor.

tshirtslayer.com

Sebenarnya, semuanya memungkinkan, tapi agak aneh aja gitu. Apa karena lirik-lirik blasphemous dan penyiksaan yang turut disematkan musik metal menjadikan image-nya harus selalu mengerikan? Gimana kalau cuma lihat dari segi musikal? Rasanya nggak ada standar khusus yang jadi pakem buat para pendengar metal dalam pemenuhan syarat-syarat tertentu. Hanya soal terbiasa atau nggak.

Metal memang memiliki karakteristik musik yang nggak selalu bisa diterima oleh telinga umum. Permainan instrumen yang rumit, nuansa gelap nan mengancam yang seringkali dihasilkan, dan disonansi yang turut menyertainya, jadi beberapa alasan yang pada akhirnya menjadikan metal sebagai musik yang segmented. Maka dari itu, teruntuk metalheads di seluruh muka bumi, kalian adalah orang-orang beruntung.

Kalau di Indonesia sendiri, stereotip anak metal mesti tatoan itu kayaknya belum sepenuhnya hilang, buktinya ungkapan itu dikeluarkan oleh teman saya sendiri. Jika kita coba bentangkan layar lebih luas, rasanya masih banyak musisi metal tanpa tato di tubuhnya. Bahkan, nama kontroversial bagi kancah musik ekstrem Per ‘Dead’ Ohlin (Mayhem) pun memerankan peran tersebut. Mungkin, ia terlalu fokus pada bau amis darah dan seonggok daging dari bangkai akibat obsesinya terhadap kematian. Ya, tetap aja mengerikan.

Dave Mustaine yang dibesarkan namanya oleh Megadeth pun tampaknya masih sama. Coba lihat ke sekitar, khususnya di kancah lokal. Stevi Item yang ikut menggawangi grup metal raksasa Dead Squad pun tampak tak memilik tato di tubuhnya. Kalau kita coba sebutkan satu per satu mungkin bakalan ngabisin waktu yang lama, karena memang ada banyak banget, friend. Ya, intinya sih nggak sedikit di antara mereka yang berkecimpung di dunia metal meski tanpa goretan apapun di tubuhnya.

Dave Mustaine (businessinsider.com)

Belakangan ini saya cukup memperhatikan nama-nama yang masih mengambil unsur metal di dalamya namun dikemas menjadi berbagai elemen. Seperti  metalcore, deathcore, dan unsur musik metal lain dengan akhiran –core sekalipun. Meskipun, kalau masih berpatok pada Mitch Lucker (Suicide Silence) atau Oliver Sykes (Bring Me The Horizon) pernyataan saya akan dianggap nol besar. Tak sedikit nama-nama baru bermunculan di kancah tersebut, membuat kalian yang masih berpatok pada dua nama tadi mesti memperbaharui referensi kalian. Saya akan menyebutkan salah satunya, yaitu Wage War. Briton Bond selaku frontman sekaligus vokalis dari band tersebut pun tampak tak memiliki tato di seluruh lengan dan kakinya.

Entahlah, dari nama-nama yang sudah saya sebutkan tadi yang diasumsikan nggak memiliki tato, hanya beberapa dari mereka yang sudah dapat saya pastikan, sebagiannya lagi hanya yang tampak, karena saya pribadi belum pernah lihat mereka buka baju di atas panggung alias shirtless. Namun, di bagian mana pun mereka menempatkan tatonya, saya rasa itu sudah cukup menjadi alasan untuk berpenampilan tanpa tato (yang tampak) ketika hendak memainkan musik metal di atas panggung.

Entah bagaimana akhirnya band saya terbentuk nantinya, dengan tato atau tidak, rasanya nggak perlu lagi dibahas. Kesan seram atau galak yang disuguhkan masih bisa tersalurkan lewat berbagai hal jika itu tentang penampilan. Rambut panjang, ikat pinggang peluru, ataupun perilaku dapat kalian maksimal kan untuk tampil se-’metal’ mungkin. Sedikit saran, kalau ingin memulai band metal tanpa tato sedikitpun, silahkan suguhkan ken666erian lewat gimmick yang lain, contohnya bawa penggalan kepala kambing atau kerbau ke atas panggung. Ya, kalau ada budget khusus buat nyiapin gimmick khusus setiap kali panggung itu juga. Hehehe.

Jadi, gimana? Masih ragu untuk memulai band metal tanpa tato?

*Oleh Ilham Fadhilah

Related Articles

Back to top button