Kenapa Title Fight Begitu Digandrungi?

Pada tulisan kali ini saya akan membahas salah satu band yang cukup fenomenal dan banyak dikenal oleh para penikmat musik arus pinggir medio 2010, bahkan sampai saat ini. Band yang saya maksud adalah Title Fight. Sebuah band asal Kingston, Pennsylvania, Amerika Serikat yang beranggotakan Ned Russin, Ben Russin, Shane Moran dan Jamie Rhoden ini benar-benar mencuri perhatian saya.

Jujur saja, saya baru mengenal musik mereka kurang lebih empat atau lima tahun yang lalu. Saya masih ingat, untuk pertama kalinya saya mendengarkan salah satu repertoar dari album mereka yang baru saja mereka rilis pada tahun 2015, Hyperview’ yang bertajukRose of Sharon’. Pada saat itu, saya kira mereka adalah band yang tulen membawakan alternative rock/nu-gaze, tetapi yang membedakan mereka adalah suara teriakan sang vokalis begitu emosional dan melelahkan, seperti ketika saya mendengar Youth of Today dan Gorilla Biscuits.

Ya, mungkin itu awal perkenalan saya dengan musik mereka, semenjak itu saya mulai keranjingan untuk mencari tahu segala hal tentang mereka. Ditambah salah satu teman saya memang merupakan fanboy mereka dan itu membuat frekuensi baru dalam topik pembicaraan saya dan dia. Tidak jauh dari dirilisnya album Hyperview’ mereka malah dikabarkan hiatus tanpa kejelasan, lalu kenapa mereka begitu dielu-elukan di ranah musik arus pinggir? Sampai saya berfikir what makes Title Fight so special?

Sumber : Krowbar

Debut mereka sebagai sebuah band sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2003, tetapi  EP Kingston’ dan split album mereka bersama The Erection Kids muncul di tahun 2007. Beberapa waktu setelahnya, lelagu pada kedua rilisan tersebut kemudian dikumpulkan pada debut kompilasi Album mereka bertajuk ‘The Last Thing You Forget’ dibawah naungan Run For Cover Records.

Debut studio album mereka Shed yang dirilis pada 2011 mungkin menjadi sumbu yang memicu meledaknya nama kuartet post-hardcore ini, bagaimana tidak, pada tahun ini nomor-nomor penting dalam album seperti ‘Shed’ dan ‘Crescent-shapped depression’, mengantar mereka pada tur Australia pertama mereka dengan Touch Amore dan tur eropa bersama Balance and Composure.

Album ‘Shed’ masih kental dengan gaya hardcore 90-an dan warna pop punk pada ‘The Last Thing You Forget’, yang membedakan adalah dua trek yang kebilang pelan seperti ‘Safe In Your Skin’ dan ‘Where Am I?’ memberikan warna baru dan sekaligus menjadi jembatan menuju album selanjutnya ‘Floral Green’.

Formulasi yang sama mereka terapkan, tetapi Title Fight selalu punya sentuhan magis dan menjadikan pendengarnya mempunyai sebuah asumsi, seperti “apapun yang mereka lakukan adalah sebuah terobosan baru”, padahal ketika melihat ke sudut lain, nyatanya banyak band yang telah memainkan sound yang serupa dengan mereka.

Salah satu di antaranya adalah Citizen yang memperkenalkan album ‘Young State’ pada tahun 2011, sound yang dimainkan cenderung dekat dengan apa yang dilakukan Title Fight pada ‘Floral Green’. Tetapi, kenapa rilisan berwarna putih ini mendapat sorotan lebih besar dibanding album dari band lainnya yang telah lebih dulu membawakan sound serupa? Nggak nutup telinga juga sih, kalau saya boleh menggunakan hukum banding-membanding, album kedua dari Title Fight ini emang sakit. Kegilaan udah bisa kalian temukan sejak trek pertama, ‘Numb, But I Still Feel It’, lalu pada ‘Like a Ritual ‘ dan lirik yang melankolis mampus pada ‘Lefty’, menjadikan album ini sebagai album terbaik sepanjang masa menurut saya personal. Hahaha. Tapi, siapalah saya ini~ Pendapat bisa berbeda untuk setiap orang.

‘Floral Green’ sendiri dirilis pada 2012 dalam bentuk rilisan digital, vinyl, dan CD. Saya ingin menebak, mungkin ini adalah salah satu faktor yang menyababkan Title Fight begitu berbeda dengan band-band serupa, detail dan estetika dalam produk yang mereka jual selalu memiliki nilai yang berbeda.

Album ini dirilis dengan bentuk CD dengan packaging yang tidak umum, karena menggunakan ukuran yang tidak lazim, mungkin saja ini akan memberikan dampak kecil tetapi begitu dalam bagi para pembelinya, bayangkan ketika CD mereka disimpan dalam satu tumpukan dengan CD lainya, tentu saja rilisan mereka akan lebih menonjol dibanding dengan rilisan CD pada umumnya.

Atau pada ‘The Last Thing You forget’, mereka memberikan sebuah disposable camera dengan desain bergambarkan cover album mereka dalam bundle pack pembeliannya. Sebuah hal setimentil yang jarang sekali saya temui pada umumnya. Bahkan, dalam Vans Warped Tour 2012, ketika band lain menjual t-shirt sebagai merch, mereka malah menyediakan tas backpack dengan patch kecil dengan logo mereka sebagai merch.

Sumber : Title Fight Tumblr

Untuk kurun waktu 2008 hingga 2015 mungkin itu adalah waktu paling produktif yang mereka miliki. Pada tahun 2015 mereka muncul bersama ‘Hyperview’ dengan eksplorasi sound yang melenceng dari formulasi sebelumnya. Hardcore kids menjadi penatap sepatu dengan musik yang dipenuhi ambience dari hasil olah pedal yang bejibun. ‘Hyperview’ makin memperkuat statement saya jika Title Fight membuat musik untuk mereka sendiri, bukan untuk orang lain. Album tersebut sangat berbeda dari pada para pendahulnya. Mungkin hal semisal ini kita bisa temukan di band seperti Hundredth, tapi sekali lagi saya akan bilang, Title Fight memiliki sentuhan magis yang tidak dimiliki band lainya.

Sumber : PInterest

Nu-gaze dikawinkan dengan teriakan tampa arah dari Ned Russin pada trek semisal ‘Rose Of Sharon’ yang selalu terdengar di album-album sebelumnya, sementara trek dengan nuansa muram dan pelan di serahkan kepada Jamie Rhoden dengan trek semisal ‘Your Pain Is Mine Now; dan ‘Murder Your Memory’. Komposisi ini memberi warna tersendiri untuk album terbaru mereka pada saat itu. Kali ini musik yang terdengar lebih rumit dan berlapis, menepis formulasi lama mereka sebagai band yang membawakan musik pop punk dan post-hardcore.

Mungkin menurut saya ekslorasi genre dan sound mereka yang membuat mereka begitu digandrungi, menunggu album terbaru dari mereka mungkin begitu terlihat abu, susah untuk ditebak, dan begitu misterius. Selain itu, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, nilai estetika pada produk rilisan mereka selalu mempunyai nilai lain.

Lalu nama-nama besar yang selalu membawa nama mereka, entah itu sebagai strategi branding band atau emang bandnya keren, Gitaris dari band hardcore, Haveheart pernah kedapatan menggunkan baju mereka ketika di atas panggung pada tahun 2009, lalu vokalis Quicksand yang memberikan pujian kepada mereka di salah satu interview-nya. pokoknya udah dapet validasi deh dari para pendahulunya.

Jika mereka memutuskan untuk bubar dan berhenti di ‘Hyperview’, saya rasa tahta Penthos sebagai prince of sadness akan saya berikan kepada mereka.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button