Kenapa Sih “Indie” Diidentikkan Sama Musik Pop Akustik, Kopi, Dan Senja? Nggak Gitu, Ah.

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol sama temen yang juga seorang drummer dari band punk. Kegiatan sehari-harinya bekerja di sebuah kantor berita. Dia nyeritain ketika salah satu anak magang di tempat kerjanya nemu salah satu video live bandnya (kebetulan temen saya yang satu ini selalu menyembunyikan identitasnya sebagai musisi) dan langsung nyamperin dia. “Bang, ini elu ya?!” ujar anak magang itu sambil membawa smartphone-nya ke temen saya. Temen saya pun pasrah dan akhirnya ngaku kalau itu memang dia. Anak magang itu pun berceloteh, “musiknya keras ya bang. Gue sih sukanya yang band indieindie gitu. Kayak Payung Teduh atau Fiersa Besari gitu bang.” Temen saya pun langsung speechless dengan pernyataan anak magang tersebut. Karena dia rasa indie itu bukan definisi musik pop akustik cengeng yang sering digunakan para fuckboy buat nyekil cewek di Tinder. Yaaa, saya pun sepakat dengan temen saya perihal itu. Di saat yang bersamaan, saya pun merasa kalau istilah indie udah jauh melenceng dari maknanya sendiri, alih-alih malah jadi suatu istilah yang dilekatkan ke suatu stereotip musik dan individu tertentu.

Kalau mau dirunut secara sejarah, sebenernya istilah “indie” dalam musik itu udah ada kali dari tahun 90an lalu dan nggak identik ama musik pop folk. Macem-macem band “indie’ itu, friend. Mulai dari band punk, band rock, bahkan band pop pun bisa disebut band indie. Soalnya “indie” itu bukan mengacu sebagai sebuah definisi genre, tapi merunut kepada etos kerja suatu artis/musisi terhadap karyanya. Istilah “indie” merupakan kependekan dari “independent”. Ngerti ‘kan maksudnya apa? Jadi semua aspek yang berhubungan dengan karya artis/musisi tersebut dikerjakan secara independen alias “sendiri”. Ya nggak sendiri juga sih, pasti ada bantuan dari pihak lain. Tapi maksudnya nggak bergantung ke suatu sistem atau pihak yang mengatur mereka untuk melakukan proses kreatif berkarya dan produksinya.

Nah pas saya telusuri lagi, sebenernya ada tiga triggers yang bikin musik pop folk jadi identik dengan istilah “indie”. Coba saya breakdown dikit-dikit ya, biar nggak belibet hehe.

Suksesnya lagu-lagu bernuansa ala “Akad

Pasti kamu pernah ngalamin masa-masa di mana lagu “Akad” diputer nonstop di berbagai tempat. Kapan pun dan dimana pun. Di toko buku, di tempat ngopi, bahkan di WC mall nemenin kamu be’ol. Bisa jadi fenomena inilah titik awal kenapa musik pop folk itu dianggap musik “indie”. Bayangin deh, itu lagu sering banget diputer dimana-mana. Gimana nggak nempel di kepala orang coba? Konon katanya, waktu itu lagu tersebut tembus sampai  lebih dari 500 ribu play di setiap minggunya. Gila ‘kan?

Payung Teduh formasi “Akad” (via Google Image)

Nah suksesnya “Akad” menembus kuping para normies membuat lagu-lagu pop folk yang easy listening dari band-band lainnya mulai mendapatkan perhatian dan eksposur yang masif setelahnya. Nama Payung Teduh dan beberapa band folk pop lainnya yang waktu itu identik dengan band yang berada di arus “indie” membuat banyak normies berpikir “oh kayak gini toh musik indie tuh”. See? The rest is history.

Folk pop = kopi dan senja

Nah ini juga bodor sih. Setelah ada stereotip musik indie adalah musik folk pop ala Payung Teduh dan kawan-kawannya, ada juga stereotip dimana “indie” identik dengan kopi dan senja. Setelah saya runut dan profiling sana sini (not stalking, but profiling), ternyata ada dua hal penyebabnya: 1. musik folk pop memang musik yang dinikmati para pujangga dan artisan yang kerap meromantisasi waktu senja dan kopi sebagai minuman ‘pembuka cakrawala’ 2. Beberapa band pop folkindie” tersebut memang sering menggunakan diksi ‘senja’ di beberapa lagunya.

Salah satu ikon “indie-kopi-senja”, FIersa Besaru (via Google Image)

Coba deh kamu cek sendiri, friend. Danilla Riyadi punya lagu “Senja Di Ambang Pilu”, Fiersa Besari punya lagu “Senja Bersayap”. See? Gimana nggak nempel tuh kalau pilihan katanya overused banget. Semacam kayak stereotip band-band hardcore lokal yang kerap menggunakan kata ‘struggle’ atau ‘unite’ gitu deh, friend.

Pendengar musik yang mudah terpengaruh oleh playlist Spotify

Nggak bisa dipungkiri pengaruh Spotify sebagai salah satu medio pemutar musik digital favorit di zaman sekarang punya andil terhadap pembentukan stereotip “folk kopi senja”. Soalnya sering banget lagu-lagu dari band folk pop yang dilabeli band indie masuk ke playlist resmi buatan mereka. Contohnya ada di playlist Indienesia. Walau nama playlist-nya ada kata indie yang dilekatkan, rata-rata lagu-lagu yang terdapat di daftar putar itu bernuansa pop dan folk pop ala kopi senja. Ya makin aja para normies berpikir kalau musik indie tuh yang kayak begitu.

Daftar isi playlist Indienesia di tahun 2017 (via Google Image)

Tendensi para pendengar musik normies hari ini memang terkesan malas. Apa pun yang terpampang di playlist resmi dari apps-nya atau rekomendasi dari algoritma aplikasinya pasti langsung dilahap tanpa dipahami dulu apa yang sedang didengarkan. Bukan maksud merendahkan harkat dan martabat para pendengar musik normies, tapi hal itulah yang kelak akan membunuh ekosistem musik independen. Toh istilah “indie” sudah terlanjur menempel ke suatu genre yang spesifik, apa kabar dengan para musisi lintas genre yang beneran “indieas in independent? Tentu mereka akan sulit dilirik karena pemahaman indie para normies sudah bergeser akan istilah tersebut.

Menurut saya sih, meskipun sulit dilakukan, literasi terhadap sebuah karya musik harus tetep dikencengin friend. Bukan masalah yang penting enak didengerin atau kayak “ah apaan sih dengerin musik aja ribet banget!”, selera masyarakat terhadap musik akan berpengaruh seperti apa ekosistem musik di dalamnya. Emangnya kamu mau suatu hari nanti musik “indie” bakalan terus yang kayak gitu terus dan band-band “indie” lainnya dengan genre yang berbeda jadi tenggelam dan nggak bisa main lagi karena demand pasar yang bebal? Think about it, friend. Keep the music alive. Peace.
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button