Kenapa Emo 2000-an Pengaruhnya Terasa Abadi?

Helaan nafas musik emo pertama kali terdengar dari ranah musik hardcore East Coast, tepatnya di Washington DC pada medio 1980-an Ketika kala itu nama-nama besar yang berjalan di bawah tanah seperti Minor Threat dan Bad Brains sedang gencar berteriak tentang kebencian mereka terhadap hidup dan keadaan dunia pada saat itu.

Di waktu yang hampir bersamaan, seorang penggemar Minor Threat bernama Guy Piccitto memutuskan untuk membentuk band bernama Rites of Spring. Musikalitas mereka tidak jauh berbeda dari musik hardcore yang lazim di era itu, cuma yang sedikit membedakan adalah lirik lagu-lagu mereka yang puitis, romantis, dan dianggap sangat emosional.

Sumber : Dischord

Rites of Spring bahkan menjadi pemantik bagi pentolan dari Minor Threat, Ian MacKaye untuk membuat band serupa bernama Embrace. Majalah Thrasher pernah mengeluarkan artikel yang menyebutkan bahwa genre baru ini bernama “emo-core” yang di sebut MacKaye sebagai “hal paling bodoh yang pernah kudengar dalam hidupku”.

Seiring berjalannya waktu, gerakan so-called emocore ini mulai meredup. Para pelakunya berpencar dan beberapa band pionirnya bercerai berai. Bubarnya para pendahulu tidak memutuskan perpanjangan nafas musik emo di awal 90-an. Band-band semisal Sunny Days Real Estate dan Jawbreaker lahir sebagai regenerasi yang krusial. Tidak hanya itu, wabah musik emo ini menjalar hingga daerah Midwest Amerika Serikat, yang sekarang sound-nya bisa kalian kenali sebagai Midwest-emo. Nuansa emo baru ini dianggap mematahkan stigma musik emo yang vokalnya lantang berteriak dan penuh amarah, malah menjadi bentuk musik yang melankolis yang terkesan lebih pendiam nan lembut.

Awal tahun 2000-an mungkin menjadi turning point genre musik ini untuk merambah pasar pendengar yang lebih luas. Jimmy Eat World muncul dengan album Bleed American yang pada akhirnya mengantarkan namanya untuk bersanding bersama Green day di tahun itu. Hmmm saya rasa, mungkin kehadiran Jimmy Eat World di tahun itu yang jadi trigger kemunculan term Emo MTV”? Who knows.

Sumber : Tone Deft

Setelah kemunculan Jimmy Eat World, saat itu munculah band-band yang dianggap sebagai emo-trinity gelombang baru, yaitu My Chemical Romance, Panic! At the Disco, dan Fall Out Boy. Mereka lambat laun menapaki puncak popularitas di berbagai chart musik dan kuping para pendengar musik global di era 2000-an. Tapi ngeh nggak sih, Kenapa band-band emo era 2000-an kayak mereka itu  pengaruhnya terasa abadi? Apa karena tahun itu menjadi titik puncak kejayaan genre ini? Atau orang-orang susah move on?

Mengenai hal tersebut, kita harus melirik sedikit ke ranah industri. Artis-artis yang berada di industri besar, tentu lebih mudah mendapatkan perhatian dari khalayak. Sama halnya dengan band-band emo di industri musik pada zaman itu, akses distribusi dan promosi yang masif terhadap band-band emo MTV membuat publik dengan mudahnya mengenali dan mematri citra emo di dalam kepala mereka. Walhasil, “emo” dianggap sebagai sebagai tren baru yang digandrungi oleh anak muda pada saat itu. Salah satu alasan yang paling signifikan yakni apa lagi kalau bukan musiknya yang sangat mewakilkan keadaan anak muda saat itu yang galau tapi fashionable.

Produk budaya populer emo-pun tidak hanya sampai di musik saja, mereka benar-benar mempengaruhi pendengarnya pada saat itu ke ranah yang lebih spesifik. Fashion dan gaya hidup mereka mulai tumbuh secara organik di para pendengarnya. Opini publik mulai terbentuk tentang emo karena pada saat itu rata-rata band emo punya tampilan yang seragam. Yakni  rambut dengan poni menutup mata, celah, dan kutek berwarna hitam. Padahal mah nggak gitu sih. Belum lagi dengan eksisnya para Emo kids di Myspace. Yang notabene platform tempat bernaungnya para scenesters dengan tampilan emo pabrikan ini.

Sumber : Pinterest

Saking kuatnya tren emo era 2000-an pada saat itu, stigma emo kids masih bertahan sampe sekarang loh. Coba deh tanya orang-orang tentang emo. Jangan kaget kalo rata-rata responnya malah lebih kentara ngomongin fashion ini. Kalau nggak, ya musik-musik emo MTV yang tadi saya bilang di atas. Nggak percaya? Ini deh yang paling konkret. Kalau kalian dateng ke acara emo night, emang ada yang muter lagu-lagunya Rites of Spring atau Sunny Days Real Estate? Cek deh, pasti jarang menuju nggak ada.

Ada yang bodor soal emo di masa itu. Pelabelan “Emo” terhadap suatu band rock di masa itu yang begitu ambigu mengantarkan band-band pop punk seperti All American Rejects, Midtown, Yellowcard ke dalam tumpukan band emo. Dan secara nggak sadar malah membawa mereka kedalam gelombang kesuksesan di ranah band-band emo pada saat itu. Kasarnya mah, numpang tenar.

Era “Emo MTV” mungkin hanya cerita kejayaan yang masih diagung-agungkan oleh generasi yang tumbuh besar pada saat itu. Saya rasa band-band yang eksis di era itu sekarang malahan sudah terasa usang, Kini definisi emo revival sudah mencakup ranah yang lebih luas. Bukan hanya seputar band-band 1980-an ala Rites of Spring, tapi juga beberapa band era 2000-an seperti Jimmy Eat World dan My Chemical Romance. Tentunya, fenomena tersebut memang didukung oleh masifnya kehadiran band-band emo MTV di zaman itu di berbagai media. Dan kembali lagi, itulah sebabnya band-band emo MTV 2000-an masih diromantisasi sampai hari ini.

Di Indonesia sendiri, di waktu yang hampir bersamaan setelah ledakan emo MTV, mulai banyak band-band emo lokal bermunculan. Sebut saja seperti The Side Project, Friends Of Mine, Dagger Stab sampai Alone At Last. Bahkan di zaman sekarang, masih ada band emo ala 2000an yang eksis lho. Contohnya Sunrise. Eh ngomongin Sunrise, kebetulan nih bakalan manggung di program mantap terbaru dari kita nih, namanya RICH GIGS! Jangan lupa nonton programnya besok jam 8 malem eksklusif hanya di www.richmusiconline.com!

Related Articles

Back to top button