Kehilangan Warna Losing Fight yang Justru Memberikan Warna Baru

Mungkin baru 5 tahun terakhir saya terjerumus masuk ke lubang musik emo, tepatnya ketika menginjak fase remaja di mana pada masa tersebut memang waktu yang paling tepat untuk memakan dosis peredam kesedihan dan kekosongan yang kian hari kian menjadi. Mungkin kata-kata yang cocok untuk menggambarkan saya pada beberapa tahun ke belakang adalah “i lost my self in blue and I found my self in blue.” Jujur, saya bukan pendengar musik emo yang berangkat dari mendengarkan nama-nama semisal Jimmy Eat World atau My Chemical Romance seperti kebanyakan orang, nama dari arus pinggir seperti The Promise Ring dan Mineral malah yang mengantarkan saya masuk ke lubang ini, mungkin karena itu juga saya lebih banyak mengkonsumsi musik emo yang sedikit di luar garis.

Pada beberapa tahun terakhir, saya juga mencoba untuk sedikit digging ke ranah musik emo di Indonesia, dan jika berbicara dalam ranah lokal, saya hanya menyukai band-band emo yang lahir di kurun waktu 5-6 tahun terakhir, karena mereka sudah pasti mengambil elemen dari band-band seperti Title Fight, Tigers Jaw, sampai Movements, ya emo dengan racikan pop-punk dan post-hardcore gitulah, friend. Dari sekian nama yang saya dengarkan, hanya sedikit yang berhasil memasuki ember penyimpanan playlist saya, band yang akan saya bahas kali ini mungkin salah satu nama yang paling sering saya dengarkan, dan band tersebut bukan muncul dari kota sekapital Jakarta atau Bandung, karena mereka justru muncul dari kota Kuningan. Band yang saya maksud adalah Losing Fight, mereka muncul dengan bentuk kemuraman yang mengutuk semua warna selain hitam, abu, dan biru.

Sumber : Losing Fight Bandcamp

Unit emo/post-hardcore beranggotakan Restu (Gitar dan Vokal), Rayana (Bass), dan Rizky (Drum) muncul  ke permukaan dengan EP bertajuk ‘Some Hope//Some Tired’ pada 2017, lalu No Longer Just A While’ pada 2018 sebagai debut album mereka. Tetapi, yang paling mencuri perhatian saya justru album yang terakhir mereka rilis di awal tahun 2020 ini, yaitu ‘Lost In Colour’.

Sebenarnya, pada awal kemunculan album ‘Lost In Colour’ di tahun 2020, saya pernah melakukan interview bersama mereka, tetapi karena satu dan lain hal sampai saat ini saya belum merampungkan hasil interview saya, padahal saya sangat antusias dengan kemunculan album mereka. Perbincangan berjalan cukup lama, dari mulai membahas tahun 2017 yang menjadi titik paling gelap dari salah satu personel, bentuk emo yang mereka coba representasikan lewat musiknya, sampai keadaan kancah musik di kota Kuningan.

Sumber : Losing Fight Bandcamp

Sedikit bercerita tentang ‘Lost in Colour’, album ini dipenuhi lagu-lagu yang bercerita tentang pertemanan, keluarga, sampai krisis di seperempat hidup yang memberikan bentuk kegelisahan peralihan dari fase teenage menuju young adult, 8 trek pengembaraan musik emo yang begitu terasa gelap, menakutkan, dan dingin. Teriakan di beberapa lagu juga terasa begitu organik, alias nggak dibuat-buat.

Beberapa nomor penting seperti Become A Ghost’ dan ‘Bloom’ adalah trek yang paling mencuri perhatian saya. Bahkan, saya masih mengingat percakapan saya bersama salah satu personel, ketika dia bertanya “kalau menurut mas di album ini paling masuk lagu yang mana?” saya jawab dengan gurauan “saya sedikit nyesel sih, kenapa Become A Ghost’ sama Bloom’ bukan dibuat oleh band saya?”

Dalam obrolan larut malam lewat ponsel itupun Estu bercerita bahwa mungkin mereka hanya satu-satunya band di kota Kuningan yang membawakan emo/post-hardcore, karena kebanyakan band yang di tumbuh di kota Kuningan lahir di ranah musik punk hingga metal. “Tetapi itu bukan persoalan serius ketika kita membawakan musik dengan genre yang berbeda di sini, bahkan kita banyak dapat panggung di acara-acara kolektif dari teman-teman yang berada di ranah musik punk” ungkap Restu.

Di tengah kehilangan warna yang mereka alami, menurut saya Losing Fight justru memberikan warna baru di kancah musik emo Indonesia. Walaupun sebenarnya, ada beberapa nama semacam Whitenoir, Shewn, atau nama-nama lain yang membuktikan bahwa emo revival sudah menjadi artian yang luas. Musik emo sudah tumbuh dan berkembang menyatu dengan genre lainnya, menjadi suatu kesatuan yang tek terelakan. Formulasi menyatukan beberapa genre menjadi satu sudah menjadi hal yang lumrah, dan itu yang terjadi pada musik emo di era sekarang.

Menurut saya Losing Fight sudah membawakan angin segar di ranah lokal musik emo, memberikan pilihan ketika kita bosan dengan kecengengan yang diteriakan oleh para pelaku lama. Altar milik saya pribadi masih berisikan repertoar milik mereka, sambil menunggu perpanjangan nafas musik mereka. ‘Become A Ghost’ dan ‘Bloom’ masih akan saya telan sebagai pain killer harian peredam kekosongan dan kesakitan hasil olah pikir saya sendiri.

Show More

Related Articles

Back to top button