Jimmy Eat World, Jawara Emo Multi-Ranah

Bleed American masih menjadi torehan Jimmy Eat World yang paling melekat di telinga saya hingga hari ini. Dirilis pada tahun 2001 silam, tak membuat album tersebut terasa kuno. Album yang masuk urutan sepuluh besar dalam ‘40 album emo terbaik sepanjang masa’ versi Rolling Stone  itu saya rasa menjadi salah satu rilisan dengan sampul yang mudah dikenali meskipun copywritingJimmy Eat World | Bleed American” tidak tertulis di gambar sampulnya. Intinya sih, menurut saya Jimmy Eat World ini salah satu punggawa emo yang sukses di kolam yang lebih besar berkat album fenomenal tersebut. Multi-ranah, friend.

Menyambung poin saya soal pengaruh signifikan Bleed American terhadap karir Jimmy Eat World, album itu memang menjadi karya pamungkas yang menghantarkan mereka keluar dari ruang bawah tanah menuju permukaan belantara kesuksesan di kancah arus utama. Di mana sebelumnya mereka bermain dengan band-band emo sejawat yang masih punya citra ‘underground’ seperti Mineral atau Christie Front Drive.

Bleed American (2001)

Materi yang mereka limpahkan dalam Bleed American memang terasa sebagai bentuk penyempurnaan dari dua album pendahulunya; Static Prevails (1996)  dan Clarity (1999). Di Static Prevails, nuansa musik yang mereka mainkan masih terdengar kasar seperti layaknya sound band-band alternatif era 90-an seperti Jawbox atau Seaweed. Sementara album Clarity menjadi sebuah transisi menuju sound midwest yang kentara ala Sunny Day Real Estate. Yaaa, sebuah transisi yang keren kalau menurut saya sih.

Sebelum membahas karyanya lebih lanjut, saya segarkan kembali ingatanmu soal band yang dibentuk pada tahun 1993 ini. Jimmy Eat World mengawali karir bermusiknya di Mesa, Arizona. Sang vokalis sekaligus lead guitarist, Jim Adkins, menjadi sosok yang berjasa atas terbentuknya Jimmy Eat World; bersama rhythm guitarist dan vokal latar,  Tom Linton, basis Rick Burch, dan penabuh drum Zach Lind.

Baca juga: Tahukah Kamu? Kelima Nama Band Ini Ternyata Terinspirasi dari Nama Band Lainnya

Nama band mereka merupakan salah satu nama band terbaik yang pernah ada di muka bumi menurut saya pribadi. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, nama band-nya akan tertafsir seperti ‘Jimmy memakan dunia’, Nama itu seperti memiliki artian yang bias dan saya rasa hanya akan muncul dari imajinasi anak-anak. Namun tetap terdengar keren jika disebutkan. Mengenai namanya yang hanya muncul dalam ruang imajiner anak-anak, ternyata memang begitu adanya. Siapa sangka jika nama yang di kemudian hari  mencuat dan menjejali panggung-panggung besar internasional itu terinspirasi dari hasil pertengakaran kedua bocah.

Berasal dari gambar krayon yang dibuat oleh adik-adik Linton , Jim dan Ed Linton yang sering bertengkar. Pasca insiden yang melibatkan mereka berdua. Jim biasanya memenangkan perkelahian. Sebagai bentuk balas dendam, Ed menggambar Jim sedang mendorong bumi ke dalam mulutnya dengan bertuliskan; “Jimmy eat world”.

Jimmy Eat World

Meskipun nama itu pernah digunakan oleh Linton dan Bruch (bass) sebelum mereka bergabung ke Jimmy Eat World. Pengukuhan nama mereka dibuat dalam waktu singkat dan tergesa-gesa. Mereka mengukuhkan nama tersebut tidak lebih dari lima menit sebab sebuah pesta yang mengundang mereka sebagai band pengisi dan mau nggak mau mereka harus menggunakan nama Jimmy Eat World. Dan, tampaknya sang vokalis sempat menyesali hal tersebut pada tahun 2018 lalu lewat akun twitter bandnya sendiri @jimmyeatworld,  yang bertuliskan;

“Saran untuk band-band baru: Ketika memutuskan sebuah nama band, pastikan bahwa saat akronimnya ditampilkan sebesar mungkin pada artwork atau t-shirt kalian, itu tidak akan menjadi hal yang merumitkan. Sama-sama.”

Tweet dari akun Twitter Jimmy Eat World perihal penamaan band yang mereka sesalkan.

Sejauh ini, mereka telah menelurkan 10 album penuh. Album terakhir yang mereka rilis muncul di tahun 2019 lalu, berjudul Surviving. Unit ini dapat terbilang solid dari segi musik selama dua dekade terakhir. Musik-musik mereka masih relevan untuk dinikmati hingga hari ini. Bagi kamu yang menjadikan “The Middle” (dari album Bleed American) sebagai youth anthem  (jika hari ini merasa masa-masa muda telah berlalu) rasanya masih dapat menjadikan beberapa trek dari album-album setelahnya masih layak untuk didengarkan. Mengingat kalau mereka terus menelurkan album sepanjang abad 20. Tepat di masa nostalgia emo tengah bergejolak.

Mungkin tak sedikit juga orang-orang yang mengenali mereka dari MTV. Meskipun acara semisal sudah sulit ditemukan di ranah industri televisi saat ini, nampaknya jejak mereka masih membekas. Rasanya, masifnya kemunculan band-band dengan narasi emo setelahnya yang mengusung unsur musik rock sampai hari ini pun tak lepas dari apa yang Jimmy Eat World lakoni di masa lalu. Seperti judul tulisan ini, Jimmy Eat World memang berhasil menjadi jawara emo multi-ranah. Bagi saya yang kebetulan menyukai jenis musik emo yang lebih nge-roots, musik yang mereka mainkan masih relevan dan nyaman untuk didengarkan. Apalagi bagi penyuka emo MTV, karena secara historis dan airplay pun Jimmy Eat World selalu hadir di layar kaca pada masa itu.

Dengarkan Jimmy Eat World di sini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button