Integritas Dan Konsisten: Memahami Konsep Fugazi Mengenai Sebuah Pertunjukan Musik

Oke, mungkin ini unpopular opinion. Tapi saya rasa Fugazi lebih cocok disebut sebagai movement daripada disebut sebagai sebuah unit musik. Meski nggak bisa dipungkiri kalau musik yang mereka bikin emang keren banget dan revolusioner secara sound (Revolution Summer, ring any bell?). Bahkan buat saya pribadi sih, nggak akan ada band lain yang bisa menyaingi Fugazi dalam aspek musik dan juga etos kerjanya. Terutama di bagian etos kerja, nggak bakalan ada yang bisa menyaingi mereka.

via washingtonian.com

Tunggu tunggu, mungkin kamu bakal berpikir Fugazi ini sebuah band atau sebuah perusahaan start-up soalnya saya menyebutkan ‘etos kerja’ di kalimat sebelumnya. Well, sebetulnya mungkin analogi itu bisa jadi cocok untuk Fugazi. Soalnya propaganda yang mereka jalankan selama bermusik bisa dianggap layaknya sebuah tuntutan kinerja terhadap seorang staff dari seorang CEO lulusan SBM ITB yang keras kepala dan super ambisius terhadap pekerjaannya walau pun nggak tahu nanti hasil tuntutannya kayak gimana. Yang penting apa yang dia pengin terbaik buat perusahannya, harus dicoba untuk ‘kebaikan bersama’.

Ah barangkali kamu nggak tahu siapa atau apa itu Fugazi, mereka adalah sebuah unit musik rock asal Washington DC, Amerika Serikat yang diprakarasai oleh ex-vokalis band hardcore legendaris Minor Threat, Ian Mackaye. Musik yang Fugazi mainkan sangatlah berbeda dengan apa yang Minor Threat dulu mainkan. Fugazi memainkan musik rock yang eksperimental. Kadang kamu bisa menemukan elemen punk di lagunya, kadang ada reggae-nya (ayolah, bass line “Waiting Room” itu reggae banget), kadang juga ada elemen noise rock-nya.

Udah cukup perkenalannya sama Fugazi, sekarang saya mau bahas apa yang membuat Fugazi itu keren selain musiknya. Yakni integritas mereka dalam bermusik. Fugazi bukan tipikal band yang ingin bersenang-senang terus seberes manggung mabuk-mabukan dan bungkus cewek di sekitar venue. Mereka jauh banget dari citra destruktif rock ‘n roll macam gitu. Malahan mereka sangat peduli terhadap penonton dan lingkungan di sekitarnya. Contohnya, untuk setiap gig yang  menjadikan mereka sebagai headliner, mereka berusaha untuk tidak pernah mematok harga tiket acaranya lebih dari $5. Hal itu dilakukan agar semua orang dari berbagai kalangan bisa menikmati pertunjukan musik mereka. Dan percaya nggak percaya, mereka tetap bisa tur keliling dunia dan membuat banyak album sampai mereka bubar di tahun 2000 lalu.

via dischord.com

Selain mematok harga $5 untuk setiap pertunjukannya, Fugazi mempunyai ‘aturan’ yang cukup nyeleneh untuk sebuah band rock. Pas mereka main, mereka nggak mau penontonnya rusuh. Mau itu moshing, stagediving, atau menabrak-nabrakan diri ala pogo. Di konser Fugazi itu semua nggak boleh. Titik. Konon katanya, alasannya sederhana. Fugazi nggak mau penonton yang beneran pengin menikmati musik mereka merasa terganggu dengan perilaku ‘keras’ dari penonton yang cuma pengin ribut doang ketika mereka bermain. Bahkan awalnya bagi saya pun, konsep itu terdengar gila. For God’s sake, it’s a rock show, people should dance and move as they want! Tapi kalau dipikir-pikir alasan Fugazi juga untuk melakukan kampanye seperti itu pun sangat beralasan. They just wanted everyone to have a good time at their show.

Dua konsep yang Fugazi terapkan di gig memang kontroversial. Beberapa orang di masa itu menganggap Fugazi terlalu serius dan konservatif. Well, anggapan seperti itu emang nggak bisa dihindari. Terutama ketika konteksnya membahas mengenai sebuah acara musik, di mana para penonton yang datang memang ingin bersenang-senang dan berekspresi sesuai perasaan hati mereka. Tapi di satu sisi, konsep-konsep yang Fugazi terapkan memang masuk akal dan sebetulnya kalau diperhatikan bertujuan mulia. Fugazi ingin para penontonnya untuk lebih menghargai musik yang mereka mainkan daripada mendapatkan respon asal-asalan dari penontonnya. Fugazi berusaha keras untuk menerapkan konsep tersebut agar para penonton bisa lebih manusiawi ketika menonton sebuah pertunjukan musik, bukan sekedar jadi ‘kambing’ yang asal ikut-ikutan dan tidak mengerti apa-apa alias cuma pengin joged nggak karuan dan nonjokin orang pas di dance floor. Yaaa, mungkin tipikal gig gratisan lah kalau di sini mah.

via dischord.com

Setelah hampir 20 tahun setelah bubarnya Fugazi, saya rasa konsep integritas dalam bermusik ala Fugazi memang masih sulit untuk diterapkan. Selain karena banyaknya monopoli beberapa pihak dan arus penonton yang ‘masih mencari jati diri’ (alias anak ABG yang ngerasa keren kalau rusuh) di berbagai acara, rasanya akan sulit untuk mengimplementasikannya di acara musik hari ini. Well, mungkin itu akan sulit untuk acara dengan skala yang besar. Tapi FYI, untuk acara-acara musik berskala underground atau DIY, konsep integritas ala Fugazi sangatlah kental terasa pengaruhnya. Mulai dari ticket pricing sampai dance floor justice. Semua itu dilakukan demi kenyamanan bersama. From the kids, by the kids, for the kids.

Mungkin konsep integritas bermusik seperti apa yang Fugazi lakukan bukanlah hal yang baru. Bisa saja ada band-band lain yang sama-sama menerapkan konsep seperti itu di band mereka. Tapi saya rasa, konsistensi dan legacy Fugazi dalam melakukannya patut mendapatkan apresiasi dan tetap dijalankan seterusnya. For the love of the music and the people.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button