Heran Bin Aneh, 4 Album Bagus Ini Punya Sampul Depan Yang Nggak Banget!

Melihat cover dari sebuah album mungkin menjadi impresi pertama seseorang untuk mulai menelaahnya lebih jauh. Kesan yang dibangun, cerita yang dibalut, atau idealis yang diusung bisa jadi pemicunya. Semua punya porsinya sendiri-sendiri. Tak sedikit banyak album yang berkonsep minimalis namun ternyata berdaya jual tinggi ataupun sebaliknya. Dalam dunia seni (di mana musik pun termasuk di dalamnya) rasanya tak ada pakem yang menentukan ini dan itunya. Semua bersifat abstrak, bebas, dan fleksibel dalam menuangkannya.

Namun menurut saya, diantara kebebasan itu ada pakem-pakem subjektif, setidaknya dalam benak kalian masing-masing. Tanpa menyinggung soal musikalitasnya yang bisa memuaskan. Berikut empat album bagus dengan sampul enggak banget. Oh iya, kalau mau dengerin albumnya, kamu bisa klik sub judulnya ya, friend.

Misery Signals – Mirrors (2006)

Bagi penikmat musik hardcore kekinian, saya rasa mustahil kalau orang itu asing dengan nama Counterparts. Band bentukan tahun 2007 tersebut sempat menyambangi Jakarta pada 2018 lalu dan bertempat di Toba Dream, Jakarta Selatan.

Apa yang kalian nikmati dari mereka sekarang nyatanya tak lepas dari band yang bernama Misery Signals. Vokalis Counterparts, Brendan Murphy, sempat mengunggah unggahan berdurasi 24 jam di Instagram pribadinya yang menyatakan bahwa musik mereka sangat dipengaruhi Misery Signals.

Mereka baru merilis album teranyarnya pada 7 Agustus lalu, ‘Ultraviolet’ yang menurut saya album mereka yang paling bagus sejauh ini. Tentunya dari segala aspek, termasuk cover-nya. Hehe.

Seems Like Yesterday – Sunrise, Sunset, and Everything In Between… (2009)

Jika kalian termasuk seseorang yang terobsesi dengan Alesana atau Saosin medio 2009 sampai 2014-an atau masih meromantisasi masa-masa gaya rambut poni lempar sebagai cult, maka album ini mungkin menjadi salah satu buruan yang akan melengkapi koleksi katalog emo kalian.

Melihat sampulnya cukup mengingatkan saya pada salah satu default setting wallpaper ketika menyalakan monitor komputer. Bagi saya yang tumbuh remaja saat musik sejenis ini merupakan materi pelengkap dalam pembentukan diri, mendengarkan album ini hukumnya wajib banget.

Defeater – Self-Titled (2019)

Saya akui, band ini kerap menelurkan album-album bagus dengan sampul yang kurang menggugah. Mungkin karena konsep dari setiap karyanya yang bersifat novelistik atau apapun itu, semuanya memungkinkan. Namun bagi saya, album kelimanya kali ini beneran bikin mengernyitkan dahi. Bukan dari segi musik, melainkan sampul albumnya.

Bergeliat dan termasuk salah satu motor dari skena hardcore Boston menjadikan mereka sangat patut untuk diperdengarkan. Hilangkan perspektif kalian perihal cover albumnya (jika itu buruk), cerita dibalik setiap katalog musiknya jauh lebih menarik. Ramuan post-hardcore-nya pun cukup merangsang telinga untuk ikut meneriakan lirik sembari megacungkan jari telunjuk ke arah stage.

Dashboard Confessional – The Best Ones of the Best Ones (2020)

Salah satu diskografi dari proyek solo Chris Carrabba yang lebih populer dikenal sebagai Dashboard Confessional ini memang sinkron jika kita coba telaah lewat tajuknya. Entah kehendak label rekaman atau apapun itu, sampul rilisannya kali ini sempat menyurutkan minat saya untuk mulai menjelajahi setiap track-nya sampai habis.

Meskipun sampulnya mungkin nggak jelek-jelek amat, namun jika dibandingkan dengan isinya masih cenderung butut. Walaupun bagi beberapa dari kalian itu bukan masalah sama sekali.

Itu dia beberapa album keren dengan cover yang kurang oke versi saya. Ingat ya, semua opini saya ini subjektif lho. Tapi mungkin lewat tulisan ini, kamu bisa mencoba untuk tidak menghakimi suatu karya lewat tampilan luarnya saja. Istilah ‘don’t judge a book by its cover’ memang terdengar membosankan, tapi itulah kenyataannya. Peace. 
Oleh Ilham Fadhilah

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button