Hardmilk Mencoba Untuk Menjadi Relevan Dengan Pop Punk Ala Generasi Z

Ada dua sisi yang menarik dari perspektif para musisi mengenai dinamika selera pasar yang selalu berubah. Ada beberapa musisi yang ‘keukeuh’ dengan idealismenya dan tetap ingin membuat karya sesuai hati nuraninya. Nggak peduli sama apa yang industri dan pasar mau, yang penting tetap lanjut bikin karya yang dia pengin. Ada juga yang ambisius untuk merubah teknis atau pendekatan karyanya supaya bisa lebih diterima kuping pasar. Sebenernya sih, nggak salah kok sama keduanya. Toh intinya sama-sama berkarya juga. Tapi sialnya, nggak sedikit juga beberapa musisi yang karyanya malah flop karena perubahan yang diambil tidak menghasilkan efek yang diinginkan bagi band-nya sendiri. Dilematis.

Sepertinya langkah yang diambil unit pop punk asal Jakarta, Hardmilk lebih condong ke hasil yang cukup disayangkan. Melalui surel yang mereka layangkan ke tim Rich Music untuk menjelasakan dua single terbaru mereka yang berjudul “Ruang Dilema” dan “Kisah Lalu”, mereka menyatakan bahwa dua single mereka itu diberikan sentuhan Gen Z. Gara-gara pernyataan itu, saya jadi penasaran dengan apa yang mereka maksud sentuhan Gen Z tersebut.

Setelah didengarkan, saya masih menerka-nerka di sebelah mana Gen Z-nya. Perasaan, lagunya masih bernuansa tipikal pop punk pada umumnya. Liriknya pun masih berada di topik klise seputar kehidupan tanpa ada punch line atau makna mendalam bagi saya. Jadi di mana aspek Gen Z-nya?

Saya pun kembali mendengarkan dua lagi milik Hardmilk tersebut dengan lebih seksama dan akhirnya berhasil menemukan alusi aspek Gen Z yang mereka maksud. Sepertinya, aspek lirik lagunya lah yang mereka coba kulik untuk menjadi relevan dengan Gen Z. Meski bertema klise, lirik lagu-lagu Hardmilk tersebut memang terkesan sangat picisan. Malah mengingatkan saya ke Fiersa Besari yang lirik-lirik lagunya yang super lebay puitis. Mungkin Hardmilk ingin mencoba menarik hati para pendengar Gen Z dengan berusaha untuk meromantisasi tema klise dengan pilihan-pilihan diksi yang romantis di lagu-lagunya.

Menulis lagu berbahasa Indonesia merupakan sebuah tantangan besar bagi band-band pop punk lokal. Karena sejauh ini, hanya sedikit yang berhasil mengimplementasikannya ke sound pop punk dan tidak terdengar cheesy. Apalagi kalau urusannya dengan menulis lagu bertopik cinta. Bahasa Indonesia yang memang terdengar sangat picisan apabila diterapkan kepada sebuah lagu memang sulit untuk dikawinkan dengan musik punk. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Ambil contoh seperti Kebunku. Band punk asal Jakarta tersebut bisa menulis lagu cinta dengan pilihan kata dan sudut pandang yang menarik sekaligus nyeleneh. Lagu-lagu seperti “Cantik” atau “Wulan Guritno” seharusnya bisa menjadi contoh bagi banyak band bergenre serupa untuk menggarap sebuah lagu cinta.

Kalau ‘keukeuh’ mau bermain lirik picisan, mungkin aspek pengambilan nuansa atau sound lagunya bisa lebih dikembangkan supaya tidak terlalu generik. Setidaknya lirik-lirik picisan tersebut bisa tetap terbantu dengan keberadaan lagunya yang memberikan impresi menarik bagi pendengarnya. Tapi kembali lagi, itu hanya opini saya sebagai pendengar musik kacangan.

Mungkin Hardmilk memang mengambil langkah tersebut dengan banyak pertimbangan. Apapun pertimbangannya, saya rasa Hardmilk bisa melangkah lebih jauh kalau mereka mau bermain lebih unik daripada mengikuti selera pasar. Padahal Hardmilk bukanlah nama baru di kancah pop punk. Jadi cukup disayangkan kalau mereka mencoba untuk relevan dengan cara seperti ini. Kembali lagi, itu semua mengenai pilihan dan perspektif dari band-nya sendiri. Overall, saya masih tetap menunggu lagu-lagu baru dari Hardmilk kedepannya.

Dengarkan lagu Hardmilk disini.
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button