Gerilya Semangat Pergerakan Punk dari Afrika Selatan

Teks: Ilham Fadhilah

Punk rasanya sudah menjadi bagian dari cara pandang hidup bagi sebagian orang di dalam sebuah peradaban. Salah satunya menjadi pegangan yang mereka genggam untuk menyuarakan kekecewaan tentang suatu yang berkenaan dengan sistem. Meskipun tak semuanya melakukannya dengan cara politis.

Inggris dan Amerika mungkin dianggap sebagai tanah subur tempat punk tumbuh dan berkembang biak jika merunut dari sejarahnya yang sudah dapat kamu temukan di mana-mana saat ini. Jika di kemudian hari sekumpulan punk muncul dari belahan bumi lainnya, maka kemunculanya masih tak lepas dari peran mereka yang menorehkan historikal dalam dunia punk sebagai bentuk ‘perlawanan’.

Jika begitu, lupakan dulu pembahasan tentang Sex Pistols atau Ramones sekejap. Tujukan perhatian kamu pada sekawanan punk yang muncul dari tanah Afrika, khususnya di Afrika Selatan.

Kita mungkin jarang mendengar informasi mengenai kancah musik di negara ini. Meskipun begitu, Afrika Selatan nampaknya memiliki gerilya semangat punk yang cukup bergejolak. Perlawanan dalam medium punk pun tetap terasa di sana. Salah satu penghuni skena punk di Afrika Selatan, yaitu TCIYF pernah berkata; “Saya lebih suka pergi dan bermain skate daripada membuang waktu dalam antrian untuk memilih”. Paham maksudnya?

TCIYF (via headphonenation.net)

Sebagai negara yang masih berusaha untuk memulihkan keadaan dari perpecahan rasial, punk menelusup masuk sebagai bentuk peleburnya dan menentang sistem yang berlaku. Tentunya, itu adalah ranah sebagaimana punk seharusnya bekerja. Meskipun tak semuanya menyuarakannya secara politis. Namun, saya rasa mereka tentu tidak pula mematuhinya.

Tak cukup sampai di sana. Untuk lepas dari stigma masyarakat di mana menjadi pekerja kantoran dengan seragam dan stelan jas formal yang mungkin sampai saat ini masih menjadi barometer “kesuksesan”, mereka menanggalkannya dengan cara punk. Ya, without giving a fuck.

Baca juga: Selagi Panggung Meredup, Media Musik Harus Terus Menerjang

Pendirian tersebut diamalkan oleh komunitas punk di Soweto dan Johannesburg. Soweto merupakan daerah urban di Afrika Selatan yang terletak di barat daya Johannesburg, salah satu kota terbesar di Afrika Selatan. Anggota dari komunitas mikro ini memiliki banyak kesamaan dari segi musik yang membuat mereka terhubung satu sama lain. Bertentangan dengan hip-hop dan house Afrika Selatan, muncul dalam bentuk yang lebih memberontak, berani dan menolak untuk terpinggirkan

Kancah musik punk di Afrika Selatan tumbuh secara pesat sejak tahun 70-an. Nama yang menjadi prekursornya yaitu National Wake, Hog Hoggidy Dog, dan The Rudimentials. Mulanya, skena punk di sana diisi oleh orang-orang berkulit putih Afrikaans. Menyuarakan tentang anti kemapanan dan semangat kaum muda dalam mengambil stiap masalah dengan kemampuan mereka sendiri, namun diperuntukan bagi para pelakunya (yang kebanyakan berkulit putih). Ya, saya bilang itu mulanya, kini banyak hal sudah berubah.

Skena punk di Soweto (via africasacountry.com)

Gelombang selanjutnya diprakarsai oleh mereka yang berkulit hitam dan kemudian bergabung dengan punk kulit putih. Punk memang tidak memandang ras, ini soal bersenang-senang. Memang begitu seharusnya. Tujuan dari gelomang baru ini adalah untuk mengubah dunia musik punk rock di negara mereka.

Salah satu nama tersohor di skena punk Afrika Selatan yaitu TCIYF. Bermain skate memang tak lepas dari musik punk. Begitu pun band ini terbentuk. Bertemu di kelompok Skate Society Soweto (SSS),  akhirnya pertemuan tersebut mengarahkan mereka untuk membentuk TCIYF.

SSS membantu kami untuk bertemu dan menjdi lebih dari teman dan keluarga kami, jadi mungkin tak terelakkan bahwa kami akan berakhir dengan sebuah band

Tidak hanya TCIYF, band-band seperti Brainwreck dan Death at the Party pun merupakan nama penting yang menghidupi skena punk Afrika Selatan.  Pada Juli 2013, TCYIF membuat sebuah gelaran “Soweto Rock Revolution” yang menyatukan acara musik dan skateboard. Pecinta musik rock dari daerah tersebut berkumpul dan acara tersebut merupakan salah satu pemicu trasplantasi. Di mana sebenarnya, skena punk di sana lebih banyak lahir dari Johanesburg. Acara tersebut mendapatkan atensi dari media-media dan kemudian dimuat di majalah lokal dan internasional.

Yah, jargon “punk’s not dead’ memang betul kenyataannya. Kamu masih dapat menemukannya di Soweto. Punk tentu lekat dengan semangat DIY-nya. Ketika tidak dapat menghadirkan musik yang berlaku di luaran sana ke daerah kamu. Maka buatlah sendiri. Rasanya itu lah yang dilakukan oleh kawanan punk asal Afrika Selatan tersebut.

Show More

Related Articles

Back to top button