Dinamika Melodic Hardcore Dari Masa ke Masa

Banyak miskonsepsi akan istilah melodic hardcore yang saya temukan di berbagai forum dan obrolan. Yaaa, setidaknya itu yang saya rasa sih. Soalnya banyak banget orang yang mengartikan melodic hardcore merupakan musik hardcore agresif yang dipadu dengan bumbu nuansa melodik yang kentara. Seringnya sih unsur melodic pada permainan instrumen macam gitar lewat sayatan dan pilihan akornya.  Nama-nama seperti Stick To Your Guns, Counterparts, atau The Ghost Inside mungkin beberapa contoh dari konsep interpretasi yang saya sebut tadi. Kesan yang diberikan yaitu musik hardcore agresif dengan breakdown menggugah dan teriakan gahar disertai bagian lead gitar yang hampir mengisi sepanjang durasi lagu.

Jika kita ulas secara sederhana, memang melodic hardcore merupakan gaya bermusik dengan tempo ngebut, amukan distorsi gitar yang dominan, dan diikuti gaya vokal yang condong ke arah berteriak namun tetap melodius. Tak dapat dipungkiri, nama-nama di atas sebetulnya memenuhi kriteria tersebut. Namun, musik memang hal yang kompleks, sehingga masih terlalu dini untuk dapat menarik kesimpulan.

Hari ini, istilah melodic hardcore agaknya melebur ke arah metalcore yang dipopulerkan oleh nama-nama seperti Shai Hulud atau Misery Signals. Sehingga tak menutup kemungkinan anggapan itu pun terus mengikat generasi setelahnya yang masih mengadaptasi musik yang mereka mainkan. Namun, bagaimana sebeneranya istilah melodic hardcore ditetapkan?

Sebetulnya band-band macam 7Seconds, Shelter, dan Gorilla Biscuits adalah proto pionir melodic hardcore. Musik hardcore yang mereka mainkan tetap agresif dan ngebut, namun dibumbui elemen vokal yang melodik. Kasarnya sih, vokal mereka itu nggak cuma teriak doang, tapi ada sedikit nuansa nyanyinya. Itulah awal bagaimana melodic hardcore akhirnya berkembang terus sebagai ‘musik hardcore yang dramatis’.

Jujur, saya memang menggemari musik-musik melodic hardcore kontemporer dan sempat memukul rata bahwa, “melodic hardcore itu ya.. kayak Counterparts”. Musik yang sebenernya masih beririsan dengan emo yang terkenal sebagai musik yang melodius, begitu pun dengan lirik-liriknya yang personal dan menggugah perasaan pendengarnya untuk ikut meresapi gelombang yang tercipta dari lagunya.  Namun, melodic hardcore nyatanya tak hanya sebatas itu saja. Musik tersebut mencakup berbagai musik dengan basis hardcore dalam cakupan lebih jauh. Nggak cuma di aspek permainan instrumen yang melodius dan menyayat hati.

Jika kita menilik rilisan milik grup hardcore punk 7 Seconds lewat Walk Together, Rock Together (1986) , atau The Crew (1984), karya-karya itu adalah salah satu interpretasi musik melodic hardcore yang masih berupa ‘janin’. Masih sangat kental akan nuansa ngebut hardcore punk tapi ada perbedaan yang kentara di musiknya yang lebih ‘light’. Mereka adalah salah satu nama dari berbagai band-band hardcore di era itu yang memainkan komposisi musik yang lebih cenderung bernyanyi ketimbang berteriak. Soalnya di tahun segitu, hampir semua band hardcore punk masih punya struktur dan pola lagu yang sama. Ngebut to the max.

Seiring berjalannya waktu, eksplorasi musik terasa semakin liar dan tak terkendali. Tentunya konteks negatif atau tidaknya itu terbilang relatif. Perkawinan silang dari unsur musik satu ke yang lainnya dirasa menjadi sebuah perangsang yang menarik perhatian. Begitu pun dengan istilah melodic hardcore yang kini malah diasosiasikan dengan unsur metalcore atau post-rock dan emo yang melahirkan istilah post-hardcore. Kini istilah melodic hardcore bukan hanya disandang oleh mereka yang merujuk total pada hardcore punk, namun juga unsur-unsur lain yang menjadikan musik ini terdengar semakin kaya. Meskipun makna melodic hardcore kali ini condong ke arah musik hardcore dengan teknik instrumental yang melodius daripada hardcore yang cenderung bernyanyi.

Mungkin, saat ini melodic hardcore menjadi musik yang identik dengan post-hardcore atau metalcore, mengingat masifnya kemunculan band-band semisal di pembuka era abad 21 dan masih eksis sampai sekarang. Sementara jumlah mereka yang masih mengusung hardcore punk era youth crew sebagai landasan dalam membawakan musik-musik melodic hardcore tak semasif itu jika dibandingkan.

Hingga jadinya, tak salah jika anggapan terhadap melodic hardcore jatuh kepada nama-nama aggressive hardcore semi-metalcore yang hingga kini masih melekat di benak para hardcore kids yang tumbuh di era 2010-an.  Namun, perlu diketahui bahwa era youth crew-lah yang berperan membawa istilah ini semakin dikenal sehingga dapat berkembang sedemikian rupa hingga hari ini. Dan bukan hanya mengandalkan instrumental melodius sebagai ‘pembeda’.

*Oleh Ilham Fadhilah

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button