“Different” Punks: Seluk-beluk Subgenre Queercore

Sebagai sebuah subgenre musik yang memiliki akhiran –core, pastinya hal yang tergambar dalam benak yaitu musik keras berbalutkan distorsi gitar kasar dan nuansa vokal yang lantang berteriak. Yah, jika anggapan itu melekat dalam kepala kamu saat mendengar nama queercore, maka asumsimu itu tidak sepenuhnya salah. Namun ada satu hal signifikan yang membuat queercore unik dibandingkan subgenre musik –core lainnya. Atau saya lebih suka menyebutnya, queercore people are rebelling on a slight different enemy. Jadi kali ini, saya akan sedikit berbagi tentang seluk-beluk seputar queercore, the different punks.

Queercore sendiri sebenarnya masih berinduk kepada hardcore punk dari segi musikalitasnya. Tapi yang menjadi perbedaan di subgenre ini yaitu konon para pelakunya merupakan penganut ideologi pro-LGBT dan juga memiliki orientasi seksual yang serupa. Meski pun “berbeda”, para pelaku kancah musik ini banyak yang tergolong cerdas dan memiliki wawasan tersendiri terhadap apa yang mereka pedulikan. Pergerakan queercore di ranah musik punk tentunya bukan cuma tren yang sebatas angin lalu saja. Subgenre ini mengamalkan semangat punk sebagai bentuk ‘pembangkangan’ dan kebebasan berekspresi dalam bentuk yang lain dan nggak sekedar teriak-teriak anti-ini-itu tanpa landasan yang jelas. Just saying.

Baca juga: ‘Pop’ Dalam Pop Punk: Di Mana Unsur Pop-nya?

via queercorebook.com

Munculnya istilah queercore konon berawal di medio ’80-an dan dituangkan dalam tulisan-tulisan di dalam sebuah zine bertajuk J.D’s. Konten-konten di dalam J.D’s rata-rata berisikan literatur dan karya tulis yangg menyuarakan perlawanan terhadap sifat homofobia dan kebencian pada wanita di skena hardcore punk saat itu. Zine yang diprakarsai oleh G.B Jones dari band seminal Fifth Column dan Bruce LaBruce itu menjadi artefak penting bagi pergerakan queercore dan juga sekaligus pemantik yang efektif bagi para individu yang merasa terwakili oleh subgenre tersebut.

Selain bergelut melalui produk jurnalistik, di tahun 1990-an  J.D.s pun menjadi pionir di scene punk rock ketika merilis sebuah kompilasi queercore berjudul J.D.s. Top Ten Homocore Hit Parade Tape. Kompilasi tersebut melibatkan band-band queercore dari berbagai belahan bumi.  Diantaranya ada Fifth Column, Big Man, Bomb From the U.S (Kanada), The Apostles, Academy 23,  No Brain Cell (Inggris), dan Gorse (Selandia Baru).

Pionir queercore, Fifth Column. (via shamelessmag.com)

Setelah J.D.s, zine-zine dengan konsentrasi dan concern yang sama pun mulai bermunculan, seperti BIMBOX dan Jane Gets A Divorce. Penerapan semangat D.I.Y (Do It Yourself) yang dilakukan oleh para pelakunya di sini pun terlihat sangat kental. Terkadang pembuatannya ditujukan untuk pertukaran dengan zine lainnya secara kolektif atau bila dijual harganya hanya berikisar di bilangan beberapa sen saja. Hal itu dilakukan demi efisiensi penyebaran isu dan literasi terhadap gerakan queercore.

Baca juga: Skill Is (Not Actually) Dead: Menguak Mitos Zero-Musikalitas Di Punk Rock

Kembali lagi ke aspek musik, pengaruh kompilasi yang dirilis oleh J.D’s di tahun 1990 ternyata menginspirasi banyak individu yang tertarik untuk terlibat di kancah musik queercore dan terpacu untuk mengeluarkan keresahannya dalam musik yang mereka mainkan. Nggak hanya terperangkap di cakupan musik hardcore punk atau punk rock saja, band-band queercore pun akhirnya menjalar ke berbagai genre semisal indie rock, power pop, no wave, experimental, hingga musik-musik berbau industrial. Band-band yang bergerak di kancah queercore pun cukup banyak, dan terus menjamur seiring bergulirnya generasi. Pansy Division, God Is My Co-Pilot, Gay for Johnny Depp, The Gossip, dan salah satu unit hardcore punk legendaris, Limp Wrist.

Walau sempat mengalami keredupan setelah berjaya di era 90an, etos queercore masih terasa di beberapa band cutting-edge yang lahir di era millenium. Ambil contoh macam unit orgcore/indie punk RVIVR yang sampai hari ini masih aktif bermain musik dan melakukan tur ke berbagai negara di dunia atau The Spook School, unit pop asal Inggris yang punya lagu-lagu bertemakan korelasi LGBT pada kehidupan personal.

Salah satu band legenda queercore, Limp Wrist. (via Wikimedia)

Lagu-lagu queercore kebanyakan mengutarakan isu-isu identitas seksual, hak-hak indvidu berdasarkan gender, hingga anggapan masyarakat kepada kaum LGBT sebagai endemik di kalangan mereka. Tentunya, hal-hal yang dianggap tabu oleh beberapa kalangan masyarakat. Tapi karena queercore lahir secara historis dan demografis di tempat yang ‘bebas’, sepertinya apa yang mereka suarakan masih terasa sah-sah saja. Mungkin beda ceritanya kalau pergerakan queercore lahir di negara yang kental akan suatu paham yang mengekang LGBT, pasti apa yang mereka suarakan tidak akan semasif sekarang pengaruhnya.

Meskipun pergerakannya seringkali dianggap kontroversial, queercore menjalankan etos punk dengan caranya sendiri. Malah saya anggap bahwa queercore merupakan bentuk revolusi dalam musik punk yang autentik dan tidak bisa dihapus jejaknya. Karena pada dasarnya, punk adalah cara pandang seseorang ketika bereaksi terhadap sesuatu secara jujur dan gamblang. Dan queercore adalah salah satu contoh perspektif di dalam punk yang mempunyai jenis respon dan sudut pandang sendiri yang mungkin tidak sama dengan tipikal identitas punk yang lainnya.

Oleh: Ilham Fadhilah

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button