‘Deny, Denial’, Senandung Kesedihan Baru dari Milledenials

Entah apa yang dipikirkan oleh kuintet asal Bali bernama Milledenials yang mendeskripsikan musik mereka sebagai midwest noise-emo. Jujur, hal tersebut awalnya membuat saya cukup malas untuk mendengarkan bandnya, karena yaa, udah cukup lah saya melihat banyak band-band yang mendefinisikan musiknya melalui istilah-istilah absurd yang memang dibuat-buat entah untuk tujuan apa. Tapi, karena penasaran, akhirnya saya mendengarkan single terbaru mereka yang berjudul Deny, Denial’.

Setelah mencoba mendengarkan secara seksama, secara musik, ternyata mereka mengombinasikan elemen indie-rock, punk, dan juga shoegaze ke dalam ‘Deny, Denial’. Hal tersebut membuat saya sedikit mengerti kenapa mereka manamai musik yang mereka mainkan sebagai “midwest noise-emo”, walaupun sebenarnya istilah tersebut nggak dibutuhkan menurut saya, konyol banget.

Bayangkan nuansa berisik ala My Bloody Valentine dengan vokal yang ditaruh di kedalaman lagu, kemudian diberi substansi ala band-band indie-rock kesedihan seperti Turnover, lalu dikemas oleh ketukan yang berenergi ala punk dan juga sedikit bumbu twinkle pada beberapa bagian.

Secara ide, menurut saya cukup menarik, namun pengemasan yang mereka lakukan saya rasa belum terlalu matang. Apa yang disuguhkan terasa saling menutupi antara satu dengan yang lainnya. Ya, sebuah hal yang wajar mengingat bandnya masih seumur jagung. Perjalanannya masih panjang lah~ Kalau boleh sok tahu sih, mungkin mereka ingin membawakan sound seperti apa yang dilakukan oleh Night Swimming.

Diakui juga melalui siaran pers, bahwa saat ini mereka masih mencoba untuk mencari identitas dari Milledenials itu sendiri. Sehingga proses eksplorasi masih banyak dilakukan.

“Semenjak awal project ini semua berlalu dengan sangat cepat dan kini kami lebih detail dalam eksplorasi sound serta identitas Milledenials sendiri. Melalui ‘Deny, Denial’, kami ingin menyampaikan identitas konkrit Milledenials baik secara aspek musikal maupun energi kami sebagai anak muda yang mengagumi literasi tentang kesedihan,” ungkap kuintet tersebut.

Saya menunggu sajian yang akan mereka suguhkan selanjutnya, apakah mereka dapat menyempurnakan formula tersebut? Atau masih akan mempertahankan apa yang telah mereka lakukan saat ini? Kita tunggu aja di karya mereka selanjutnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button