RICH FEATURESRICH LIST

Cheugy/Not Cheugy: Sebuah Jarak Kisaran Musik Antar Millennial dan Gen Z

Teks: Sarah Ashilah

Pssst, Millennials… let me tell you a fact. Faktanya adalah kita sudah dicap sebagai sekumpulan orang sok keren yang gak ngetren lagi. Gaya hidup dan preferensi pop culture yang kita pilih udah kena ejekan nih dari anak-anak Gen Z. Kalau dulu kita meledek pop culture di  generasi orang tua kita as simply as Jadul, sekarang anak-anak Gen Z melabeli millennials as Cheugy. 

Apapun yang anak millennials gandrungi di masa-masa sekolah, that’s cheugy! Tren fashion, musik, film, pilihan kata-kata slang yang tren di era 2000’an sampai awal 2010’an? Cheugy!  “But first coffee”, “What’s your Hogwarts house?”, era MTV 2000’an, Mean Girls? Cheugy! 

Singkat kata cheugy adalah hal-hal yang sudah ketinggalan zaman, namun generasi millennials masih menganggap hal itu keren, bahkan cenderung mengglorifikasi hal tersebut.

Saya sendiri mengakui kok, kalau diri ini memang cheugy. Bagaimana nggak? Hingga saat ini saya masih menganggap kalau Hayley Williams is a thing! Baik dalam segi fashion, gaya rambut, dan tentunya dia adalah salah satu dari female heroes saya di dunia musik. Apa lagi ya sesuatu yang cheugy dalam diri ini? Oh… oh, skinny jeans!

Nah, band-band yang sempat populer dan jadi idola remaja di era 2000 hingga awal 2010’an, tentunya sekarang udah terlalu cheugy nih buat anak-anak Gen Z. Warna musik pilihan bisa saja sama, tapi preferensi musisi lah yang membedakan antara Millennials dan Gen Z. Dalam hal ini, udah bukan tentang musik apa yang kamu dengar? Tapi, siapa musisi yang masih kamu dengerin?

Here we go, saya bikin daftar band-band atau musisi yang udah terkesan cheugy, sekalian juga perbandingannya, siapa saja nih yang not cheugy. Kalau kamu merasa lebih relate dan punya sejuta kenangan sama band yang terkesan cheugy, mungkin sudah saatnya kamu sadar diri kalau kamu sudah bukan lagi trend-setter. 

CHEUGY: The Changcuters/The S.I.G.I.T.
NOT CHEUGY:  The Panturas

Secara garis besar, warna musik rock n roll, hardrock, blues rock, dan berbagai macam rock lainnya terkecuali surf-rock adalah cheugy! Tentu saja dong Tria dkk, sekarang gak punya tempat di hati para Gen Z. Lagu hits Racun Dunia, dan Pria Idaman Wanita akan dinilai terlalu misoginis oleh anak-anak sekarang yang jauh lebih progresif akan isu-isu gender. Untung saja Changcuters berjaya di era saya SMP, kalau nggak mungkin mereka bakal kena fenomena cancel culture. 

What about The S.I.G.I.T? Wah, band lokal yang satu ini nih yang bikin referensi musik anak-anak sekolah tahun 2007-2012 agaknya jadi keren. Ketika band-band pop-melayu saat itu mendominasi industri musik mainstream, kita semua terpaksa kan harus mengkonsumsi lagu-lagu tersebut lewat radio angkot. And then… bam! Fenomena terkenalnya  The S.I.G.I.T di kalangan anak sekolah SMP-SMA kala itu, seolah jadi penyelamat buat mereka yang gak terlalu digging musik-musik indie. Berawal dari The S.I.G.I.T jugalah, Arctic Monkeys ikut digandrungi sebagian besar remaja. 

Sayangnya, The S.I.G.I.T sekarang masuk ke kategori cheugy. Alasannya karena ya mereka sudah gak happening lagi. Music hero untuk anak-anak Gen Z, tentunya The Panturas dong! 

(The Changcuters, this is cheugy! dok. Media Indonesia)
(The Panturas, this is not cheugy! dok. The Jakarta Pos)

CHEUGY: Efek Rumah Kaca
NOT CHEUGY: Hindia

Awal-awal saya berkuliah di tahun 2014 lalu, ERK tampaknya masih punya reputasi yang ‘kekinian’ meskipun album Kamar Gelap dan Self-titled Album Efek Rumah Kaca sudah rilis sekitar 6-7 tahun sebelumnya. Band yang terbentuk sejak 2001 ini malah sempat vakum saat Cholil Mahmud, sang vokalis tinggal di New York, AS. 

Tapi, konsernya yang bertema “Pasar Bisa Dikonserkan”  di Bandung pada tahun 2015 ternyata masih mengundang atensi yang cukup serius. Pendengarnya yang dulu masih duduk di bangku SMP hingga SMA, pada konser tahun itu sebagian besar sudah berkuliah atau bahkan bekerja. 

Di tahun 2015 Gen Z tentunya masih SD dan SMP, belum terlalu belagu dan masih sebatas dengerin Cowboy Junior. ERK menjadi cheugy sejak kehadiran Hindia! Preferensi untuk mendengarkan lagu-lagu berlirik puitis, agak nyentil fenomena sosial, tapi tetap relatable dengan kehidupan sehari-hari, anak Gen Z tentunya lebih memilih Hindia dong ketimbang ERK. Pokoknya Hindia deh yang paling keren buat didengerin, titik. Gitu katanya.

CHEUGY: Alone at Last, Dashboard Confessional, Death Cab for Cutie
NOT CHEUGY: Eleventwelfth, Murphy Radio,
Adjust The Sails, and all twinkle emo bands!

Buat kamu anak millennials yang isi hatinya banyak terwakili oleh lagu-lagu emo semasa di bangku sekolah, ketahuilah kalau sekarang Alone at Last, Dashboard Confessional, Death Cab for Cutie, dan semua band yang bawain lagu-lagu bernarasikan emo di era 2000’an itu cheugy! 

Narasi emo, buat sebagian besar anak Gen Z tuh sebetulnya gak relate dengan coping mechanism mereka. Anak Gen Z cenderung mengobati perasaan terluka mereka dengan memanipulasi mood yang mereka rasakan, makanya itulah kenapa warna musik dance-pop lebih disukai oleh mereka. 

Para Digital Native ini sejak kecil sudah dituntut untuk mengikuti perputaran arus informasi yang serba cepat. Mereka merasa gak punya waktu untuk memproses perasaan mereka sendiri. Keep moving on, begitu mungkin yang ada dalam benak mereka. 

Di satu sisi anak millennials yang cenderung self-pity kalau mereka sedang terluka, punya caranya sendiri untuk memproses perasaan sedih. Dengan mendengarkan musik-musik bernarasikan emo, dan mengadopsi gaya hidup emo semasa mereka remaja, hal itu bikin mereka merasa gak sendirian dalam menghadapi masalah hidup. “Wah idola gue juga merasakan hal yang sama” gitu kira-kira yang ada di dalam benak anak Emo Millennials.

Eh tapi, muncul juga nih Twinkle Emo bands, kayak Eleventweltfth, Murphy Radio, dan Adjust The Sails yang secara gak langsung ngajarin Gen Z buat lebih menerima perasaan negatif yang mereka rasain. Ih enak juga ya dek ternyata jadi anak emo, gak usah pura-pura happy terus.  

(Alone at Last, cheugy! dok. Djarum Coklat)
(Eleventwelfth, not cheugy! dok. IDN Times)

CHEUGY: Closehead, Rocket Rockers era Soundtrack For Your Life, Blink 182

NOT CHEUGY: Summerlane, Rocket Rockers era Ingin Hilang Ingatan, MGK + Travis Barker

Beralih ke tren melodic pop punk nih, terlepas dari apakah band tersebut bernarasikan emo atau tidak. Dalam ranah lokal, Closehead dan Rocket Rockers era Soundtrack For Your Life amat digandrungi remaja pada masanya. Cheugy? Yish!  Blink 182? Cheugy! Apalagi era Dude Ranch, Enema of State, Take off Your Pants and Jacket, dan self-titled Blink 182. 

Tapi kok Summerlane dan MGK + Travis Barker berhasil mencuri hati para Gen Z? Hmm… menyoroti fenomena melodic pop punk antara yang cheugy dan yang nggak, sebetulnya agak tricky. Walaupun warna musik Summerlane nggak jauh berbeda dari band-band melodic pop punk pendahulunya, tapi secara fashion sense jelas Summerlane jauh lebih unggul. Hal itulah yang bikin Summerlane jadi lebih terkoneksi dengan pendengar Gen Z. 

Lalu, Travis Barker jelas pemain lama, tapi karena Machine Gun Kelly –  yang skill musiknya pas-pasan dan kebanyakan autotune itu – adalah idola Gen Z, nama Travis Barker pun akhirnya masih diterima oleh para Gen Z. Di sini, perlu kita garis bawahi nih. Travis Barker lah yang menyelamatkan karir MGK, dan bukan sebaliknya. Anak-anak Gen Z, kalian perlu tahu itu ya. Wkwkwk. 

Terus kenapa Rocket Rockers era Ingin Hilang Ingatan, nggak Cheugy? Hmmm… kalau didengar-dengar sih melody dalam lagu Ingin Hilang Ingatan masih cocok kalau jadi soundtrack film semacam NKCTHI. Sooo, yeah i think Gen Z would like it too. 

(Summerlane, not cheugy! dok. Mata Mata Musik)

CHEUGY: Paramore

NOT CHEUGY: Olivia Rodriguez

Lagu-lagu yang dibawakan Olivia Rodriguez jelas memiliki kemiripan dengan Paramore. Sebagai pendengar Paramore saya merasa kalau Olivia adalah versi centilnya Hayley Williams. 

Namun, pembawaan dan tone musik Paramore yang lebih rebel menjadikan Hayley dkk masuk ke dalam kategori cheugy. Jangan lupa, Hayley yang sering tampil menggunakan skinny jeans mungkin juga jadi salah satu faktor kalau Gen Z bakal menganggap band yang satu ini cheugy.

Di sisi lain, Olivia dengan image American Sweetheart nya, karena dia pernah membintangi High School Musical dari Disney, membuat Olivia yang baru berumur 18 tahun ini lebih bisa diterima oleh Gen Z yang juga sebaya dengan dirinya.

Dalam segi vokal, tentunya Hayley masih memiliki vokal yang lebih kuat ketimbang Olivia. Saya nggak bilang kalau Olivia gak bisa nyanyi lho ya, tapi terkadang autotune yang digunakannya cukup menipu, karena ternyata suaranya ketika live perform tidak cukup powerful seperti yang beredar di Tiktok selama ini. 

CHEUGY: Hatebreed

NOT CHEUGY: Turnstile

Ini sih mirip dengan Paramore vs Olivia Rodrigo, tapi dalam ranah musik hardcore. Apa sih yang kamu bayangkan ketika mendengar band-band harcore punk atau metalcore? Moshing? Bau kesang? Pakaian hitam-hitam? Yap, gak salah sih kalau band yang kalian bayangkan adalah Hatebreed. 

Selama ini skena hardcore memang dikenal akan machoism attitude nya yang kental. Dan inilah yang membuat Hatebreed gak akan bisa masuk ke dalam hati pendengar Gen Z, alias cheugy! 

Tapi Turnstile? Aaaw…. they’re so cute!  Meskipun mereka membawakan hardcore punk, tapi mereka berani memainkan warna-warna pakaian, dan memilih suasana MV yang ceria. Gak kebayang juga niche penonton mereka tuh kayak gimana. Apakah niche mereka barau kesang seperti kebanyakan niche hardcore pada umumnya? Kalau disuruh pilih sih, saya lebih pilih nonton Turnstile deh ketimbang Hatebreed.

(Hatebreed, cheugy! dok. Hatebreed)
(Turnstile, not cheugy! dok. The Guardian)

***

Cukup terbayang kan mana aja band-band atau musisi yang cheugy vibes and not cheugy? Apapun pilihannya, setiap orang berhak merasa bangga akan pilihan musik yang didengarnya. Gen Z ataupun Millennials tentu punya pandangannya masing-masing terhadap suatu pop culture. So, this article is for entertainment purpose only, jangan dipikirin terlalu ribet gitu ah. Peace, love, and gaoool… oops cheugy!

Back to top button