Cari Referensi Lagu Melodic Punk Lokal Keren? Dengerin Rilisan My Own Deck Records Aja!

Bukan maksud menjunjung tinggi senioritas di lingkup permusikan, tapi saya rasa ada betulnya juga kalau generasi sekarang itu ‘generasi referensi’. Soalnya, beberapa kejadian di mana saya terlibat dalam suatu komunikasi dengan orang-orang dari generasi sekarang di bidang musik, seringkali saya dihadapkan dengan topik perbincangan referensi. Misalnya, ada band muda yang ngobrol sama saya dengan tujuan mendapatkan input tentang sound musik, mereka bukan lagi berbicara teknis permainannya. Tapi, mereka malah menanyakan band seperti apa yang bisa mereka contoh secara instan.

Dalam konteks pembicaraan soal musik pop punk/melodic punk, seringkali pertanyaan yang saya dapatkan adalah “kalau band melodic punk lokal, enaknya dengerin yang kayak gimana ya supaya bisa dapet sound keren?” Asli. Tapi karena saya orangnya baik hati dan suka makan cireng membantu, saya pun selalu memberikan referensi yang mereka butuhkan. Dan jawaban saya mengenai pertanyaan itu selalu sama, yakni memberikan referensi rilisan-rilisan dari My Own Deck Records.

via bandcamp.com

Mungkin kamu bakal berpikir, “kenapa nggak ngasih referensi band internasional aja? ‘Kan lebih keren!” Nggak juga sih. Saya rasa rilisan-rilisan My Own Deck Records juga sama-sama krusial buat para musisi lokal, terutama di lingkup punk nasional. Malah nggak berlebihan kalau bilang wajib hukumnya buat ngedengerin rilisan My Own Deck seenggaknya sekali aja. Bukan tanpa alasan kenapa saya memberikan My Own Deck sebagai referensi pertama bagi para musisi lokal. Lewat mendengarkan rilisan-rilisan label tersebut, kamu bisa mendengarkan bagaimana sound melodic/pop punk diinterpretasikan dengan pendekatan ala Indonesia.

Gini friend, musik melodic punk memang sudah identik dengan lirik bahasa Inggris dan nggak dipungkiri mayoritas band-band pengusung genre ini menggunakan bahasa itu di lirik lagunya. Mungkin alasannya bisa karena pengin go international atau memang lebih nyaman untuk menulis lirik lagu melodic punk di dalam bahasa tersebut. Nah, ketika melodic punk menjamur di Indonesia, ternyata nggak semua aspek dan kaidah melodic punk dari barat diimplementasikan oleh beberapa band di sini. Salah satunya yakni dalam aspek penulisan lirik.

Nah, beberapa band di My Own Deck mengimplementasikan bahasa Indonesia yang menarik dan fungsional di beberapa lagunya. Ambil contoh Nudist Island. Band tersebut mempunyai lagu berjudul “Alergi”. Dari segi narasi lirik, lagu ini literally bercerita tentang penyakit gatal-gatal karena alergi. Yang membuat menarik adalah penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan Nudist Island di lirik lagu ini layaknya sebuah theater of mind. Jadi liriknya emang punya konstruksi naratif selayaknya sebuah cerita yang utuh. Coba deh dengerin!

Selembaran iklan kaset My Own Deck (via twitter.com)

Sebetulnya masih banyak di luar sana band-band melodic punk yang menggunakan lirik bahasa Indonesia, nggak hanya band-band di My Own Deck doang. Tapi saya punya satu lagi alasan kenapa rilisan-rilisan My Own Deck itu layak dijadiin referensi.

Selain punya katalog lagu-lagu bahasa Indonesia dari band-band keren, My Own Deck juga merilis beberapa band lokal yang sound-nya keren tanpa neko-neko. Gini maksudnya, mungkin banyak band-band melodic punk yang berusaha keren buat bikin lagu yang super rumit dan super ngebut. Dan akhirnya, malah melupakan elemen terpenting dari sebuah lagu melodic punk, yakni catchy alias ngeunaheun buat didengerin dan dinyanyiin. Nah, band-band yang dirilis di My Own Deck itu lengkap secara kemasan dan kualitas. Artinya, secara aransemen dan lirik semuanya melengkapi dan terasa utuh. Ya mungkin ada beberapa band yang bahasa Inggrisnya kurang bagus, tapi secara aransemen bagus. Tapi seperti yang saya bahas di paragraf sebelumnya, toh beberapa band di My Own Deck tertolong dengan lirik bahasa Indonesia yang bagus.

Anyway, kembali lagi ke aspek kelengkapan musik. Contoh yang paling komprehensif tentang aspek itu saya temukan di album Inside Out milik Disconnected. Bagi saya, album itu masterpiece. Secara gubahan sound dan lirik top banget. Saya juga suka EP Don’t Hear This! dari The Marmars. Malah saya pikir, itulah referensi yang tepat buat orang-orang yang ingin memulai sebuah band pop/melodic punk. Fast and catchy. No need to improvise. Oh, kalau terlalu males buat ngecek satu-satu rilisannya, langsung aja dengerin dua kompilasi My Own Deck, yakni Still Punk Still Sucks! Dan Bad Tunes. Jujur, nggak semua lagu di dalem kompilasi itu bagus, tapi ada beberapa lagu yang saya rasa cocok untuk dijadikan referensi buat bermusik atau sekedar untuk dinikmati saja.

Cover album Inside Out milik Disconnected (via bandcamp.com)
Lalu apa inti dari tulisan panjang ini? Saya rasa untuk menemukan referensi melodic punk yang bagus nggak perlu jauh-jauh dicari selama ada referensi yang terdekat yang bisa diakses. Tapi nggak salah juga kok cek referensi dari luar negeri juga buat memahami konteks musik dan segi-segi teknis lainnya. Asek.

Related Articles

Back to top button