Bufcxter, Nafas Baru Musik Skramz Asal Yogyakarta

Term skramz mulai dikenal oleh kalangan para pendengar musik di Indonesia melalui kehadiran kompilasi ‘Revolution Autumn’ pada tahun 2014 silam. Walaupun sesungguhnya band-band yang mamainkan musik skramz alias screamo sudah mulai bermunculan pada tahun 2010an, namun mungkin belum saling terkoneksi antara satu dengan yang lainnya. Album kompilasi tersebut kemudian berperan untuk merangkum dan mengumpulkan band-band yang memainkan musik emo di era 90an.

Setelah kemunculan kompilasi tersebut, efeknya ternyata cukup terasa. Banyak band dari berbagai daerah mulai bermunculan yang membawakan jenis musik post-hardcore era 90an atau musik skramz. Hal tersebut masih terasa hingga saat ini. Jika kita mengenal jagoan skramz dari Yogyakarta adalah LKTDOV, sejak akhir tahun 2016 silam, mereka memiliki pendamping lainnya, yaitu Bufcxter (dibaca bafter-red), untuk mewarnai scene emotive dan juga menjadi nafas baru untuk meneruskan perjuangan dari seniornya.

Pada awal pembentukannya, band tersebut awalnya hanya diisi oleh 2 orang personil saja, namun seiring berjalannya waktu mereka menambah personil, dan akhirnya memiliki formasi akhir beranggotakan 4 orang pada tahun 2018, yaitu Mokhammad Arifin (Vokal, Gitar), Agil Maulana (Drum), Mohamad Slamet (Gitar), dan Fadel Muhammad (Bass).

Secara musik, mereka membawakan musik yang terpengaruh oleh band-band post-hardcore era 90an atau biasa dikenal dengan skramz, yang digabungkan dengan elemen mengawang dari musik post-rock. Sebuah formula yang sebenarnya sudah cukup umum untuk digunakan oleh band-band serupa dan bisa saya bilang sudah cukup membosankan.

Jika kalian memperhatikan beberapa band skramz yang muncul belakangan ini, antara satu dengan yang lainnya memiliki karakter musik yang kurang lebih sama. Sangat disayangkan. Mungkin, hal tersebut terjadi karena mereka mengambil referensi yang sama, sehingga output yang dihasilkan terdengar serupa. Entahlah.

Musik tersebut kemudian diisi oleh lirik yang menceritakan mengenai bagaimana cara menghadapi keresahan yang dirasakan oleh masing-masing personil dengan hanya mengandalkan diri sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Kedua elemen tersebut kemudian dirangkum ke dalam sebuah EP berisikan 4 track yang berjudul ‘Pale and Sleepless’. Awalnya EP tersebut dirilis secara mandiri, namun akhirnya menarik perhatian dari Sailboat Records, sebuah record label yang aktif merilis band-band yang ada di scene emotive, dan akhirnya mengajak mereka untuk menjadi salah satu roster-nya.

Walaupun musiknya terdengar tidak terlalu istimewa, saya menyukai karakter vokal dari sang vokalis yang terdengar cempreng dan membuatnya terdengar lebih emosional. Saya cukup bisa merasakan emosi yang ingin disampaikan oleh sang vokalis. Hal tersebut yang saya rasa menjadi salah satu keunggulan dari Bufcxter.

Dari keempat track yang terdapat pada EP tersebut, aransemen dari ‘Morning Grey’ cukup mencuri perhatian saya. Jika dibandingkan dengan ketiga track lainnya, lagu tersebut terdengar cukup berbeda dengan nuansa post-rock yang lebih kental dan diisi oleh spoken word dan juga senandung yang ada pada sepanjang lagu.

Sedangkan ketiga track lainnya, yaitu ‘Avarice’, ‘I Try To Love’, dan ‘Sembuh’ memainkan percampuran antara musik post-hardcore dengan post-rock yang cukup seimbang, kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh Senja Dalam Prosa pada musiknya.

Saya harap, ke depannya Bufcxter dapat berkesperimen lebih jauh pada formula musik yang dimainkannya agar terdengar lebih menarik jika dibandingkan dengan band lainnya. Tapi hal tersebut bukan berarti lagu dari mereka itu jelek, loh. Nggak sama sekali. Hanya saja saya merasa kurang berkarakter, friend.

Tentunya, lagu-lagu dari Bufcxter ini bisa banget buat dimasukin ke playlist skramz kamu, friend!

Instagram: @bufcxterband

Related Articles

Back to top button